Salat Idulfitri 1447H di Lapangan Masjid Al-Badar, kompleks Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, di Jalan Kertomenanggal, dihadiri ratusan jemaah. Para jemaah memadati pelataran masjid, berbaris rapi, menyatukan hati dalam Salat Idulfitri yang berlangsung khidmat.
Di mimbar, Ir. H. Imam Sugiri, MM, pengurus PWM Jatim, berdiri sebagai imam dan khatib. Suaranya tenang namun menghunjam, mengalirkan hikmah melalui kisah seorang ulama besar, Hasan al-Basri. Ia menuturkan, ada seorang awam yang merasa aman dari dosa karena belum merasakan hukuman Allah, padahal hidupnya dipenuhi maksiat.
“Seringkali manusia merasa selamat, padahal ia sedang dijauhkan perlahan dari cahaya kebaikan,” tutur Imam Sugiri dalam khotbahnya.
Dengan bijak, Hasan al-Basri menjawab, “Sesungguhnya Allah telah menghukummu, hanya saja engkau tidak menyadarinya.”
Kisah itu kemudian menjelma menjadi cermin bagi setiap jiwa yang hadir. Ada sembilan bentuk “hukuman halus” yang kerap luput dari kesadaran manusia:
- Hilangnya kenikmatan bermunajat kepada Allah
- Hari-hari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an
- Malam-malam jauh dari ibadah
- Waktu terasa hampa tanpa zikir
- Hati terpaut pada harta, jabatan, dan popularitas
- Berat melangkah dalam ketaatan
- Lisan mudah tergelincir pada ghibah, adu domba, dan dusta
- Akhirat dilupakan, dunia menjadi tujuan utama
- Musim kebaikan berlalu—Ramadan, enam hari Syawal, dan puasa sunah—tanpa makna
“Jika hati tak lagi bergetar saat nama Allah disebut, itulah kehilangan yang paling sunyi,” lanjutnya.
Di ujung khotbahnya, Imam Sugiri mengajak jamaah merenungi kandungan Surah Al-Asr. Dalam kesederhanaannya, surat itu mengandung pesan yang mengguncang: waktu adalah saksi sekaligus penentu nasib manusia. “Waktu tidak pernah kembali, tetapi ia selalu meminta pertanggungjawaban,” ucapnya mengingatkan.
Allah bersumpah demi waktu, menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran.
Idulfitri bukan garis akhir, melainkan titik mula untuk menjaga cahaya Ramadan tetap menyala. Idulfitri terasa bukan sekadar perayaan kemenangan, melainkan panggilan pulang bagi jiwa. Ketika waktu terus berjalan tanpa jeda, manusia dituntut untuk tidak sekadar hidup—tetapi menghidupkan makna. Di Masjid Al-Badar pagi itu, gema takbir bukan hanya menutup Ramadan, melainkan membuka lembar kesadaran baru: bahwa setiap detik adalah amanah, dan setiap kelalaian bisa jadi adalah hukuman yang tak terasa. (nun)
