Allahu Akbar 2x Walillahilhamdu.
Jamaah Salat Iduladha yang Dimuliakan Allah,
Kumandang takbir kembali membahana di seluruh pelosok dunia, menyambut hari akbar bagi umat Islam, sebuah hari yang sarat dengan makna dan nilai. Inilah hari raya kurban atau Iduladha yang jatuh pada hari ini, 10 Dzulhijjah 1446 H, bertepatan dengan 6 Juni 2025.
Untuk semua kenikmatan ini, sangat wajar jika kita mengucapkan syukur sambil memuji Allah SWT, Sang Khaliq Penguasa Alam Semesta, Yang Maha Kuasa dan Perkasa.
Musim haji 2025 menjadi tahun penuh ujian bagi ribuan jamaah haji furoda yang gagal berangkat ke Tanah Suci. Visa haji furoda, yang biasanya diberikan langsung oleh Pemerintah Arab Saudi, tidak diterbitkan tahun ini, menyebabkan ribuan jamaah batal berangkat meskipun telah membayar biaya yang tidak murah. Selain itu, sistem syarikah yang diterapkan dalam penyelenggaraan haji juga menimbulkan kebingungan bagi jamaah. Banyak calon haji merasa tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai mekanisme layanan dan akomodasi mereka selama di Arab Saudi.
Tak ada yang lebih patut bagi para hamba Allah SWT yang beriman kecuali semakin menundukkan kepala, merendahkan hati, dan mengakui segala dosa, seraya bertaubat dan memohon ampunan-Nya. Semoga saudara-saudara kita yang gagal berangkat diberi kesabaran, dan yang sedang menjalankan ibadah haji diberi kemudahan, kelancaran, kesehatan, serta mendapatkan predikat haji mabrur. Aamiin.
Allahu Akbar 2x Walillahilhamdu.
Jamaah Salat Iduladha yang Dimuliakan Allah,
Kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai pelopor tauhid, yang mengajak umat manusia untuk kembali mengabdi kepada Allah Yang Maha Kuasa. Namun, tidak banyak yang mencoba memahami sosok beliau sebagai seorang yang ahli di bidang ilmu kesehatan/pengobatan (tabib). Ada perkataan Nabi Ibrahim yang cukup populer dalam Al-Qur’an:
“Alladzi khalaqani fahuwa yahdin, walladzi huwa yuth’imuni wa yasqin, wa idza maridhtu fahuwa yashfin,”
(yaitu) “Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku. Dan yang memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”
(QS. Asy-Syu’ara: 78–80)
Ayat ini merupakan bentuk kepasrahan Nabi Ibrahim atas kehendak Allah, sekaligus menunjukkan keilmuan yang mumpuni dalam kehidupan duniawi.
Dalam ajaran Islam, kepasrahan harus diimbangi dengan ikhtiar (usaha). Seorang yang tawakal terhadap rezekinya juga harus tangguh dalam berusaha. Seorang yang pasrah terhadap kesehatannya juga harus pandai mencari solusi kesembuhan dari penyakitnya. Allah akan memberikan sesuatu kepada hamba-Nya sesuai dengan apa yang diusahakannya, sebagaimana dalam QS. An-Najm ayat 39:
“Wa al-laisa lil-insāni illā mā sa’ā”
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
Hal ini termasuk dalam rezeki yang merupakan lanjutan dari rezeki yang dijamin untuk seluruh makhluk:
“Wa mā min dābbatin fil-ardi illā ‘alallāhi rizquhā”
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
(QS. Hud: 6)
Allahu Akbar 2x Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Iduladha yang Dimuliakan Allah,
Paling tidak, ada dua pelajaran penting terkait kesehatan yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim as dan keluarganya:
Pelajaran Pertama: Berbaik sangka kepada Allah SWT
Pada suatu hari, Ibrahim AS terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba, ia memerintahkan istrinya, Siti Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Singkat cerita, di padang Sahara, Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil. Mereka hanya dibekali sekantong makanan dan sedikit air yang bahkan tidak cukup untuk dua hari.
Setelah melihat kiri dan kanan, beliau melangkah meninggalkan tempat itu. Siti Hajar mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka ia pun berkata, “Kami tidak akan tersia-siakan selagi Allah bersama kami. Dialah yang telah memerintahkan Ibrahim pergi.”
Subhanallah, betapa lurusnya keluarga ini memandang perintah Allah. Betapa ringannya mereka melaksanakan titah agung ini. Mereka mengutamakan ketaatan daripada kesenangan pribadi. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim dan Siti Hajar mampu berbaik sangka kepada Allah SWT. Mereka meyakini bahwa selama mereka bersama Allah, tidak akan ada yang menyengsarakan, mencelakakan, atau melukai mereka.
Jika kita perhatikan, banyak manusia yang frustrasi dalam kehidupan ini bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan, tetapi karena sedikitnya husnudzon (berbaik sangka) terhadap kebaikan Allah. Padahal, nikmat yang Allah berikan jauh lebih banyak daripada siksa-Nya.
Karena itu, kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah, sebagaimana dalam hadits qudsi Allah berfirman:
“Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi.”
“Aku (Allah) tergantung pada prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu majelis, maka Aku akan mengingatnya dalam majelis yang lebih baik daripadanya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, maka Aku akan datang kepadanya berlari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Positive thinking, itulah kunci utamanya. Betapa banyak penyakit yang timbul akibat negative thinking—stroke, gastritis, jantung—sebagian besar penyebabnya adalah pikiran negatif.
Allahu Akbar 2x, Walillahilhamdu.
Jamaah Salat Iduladha yang Dimuliakan Allah,
Oleh karenanya, dalam menghadapi ujian kehidupan dunia ini, kita harus sabar dan tawakal, serta menyerahkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Berbeda halnya dengan orang yang tidak beriman dan tidak memiliki keyakinan terhadap janji Allah Swt., mereka akan guncang dan stres jika kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya.
Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa 800 ribu orang dari penduduk dunia setiap tahunnya melakukan tindakan bunuh diri. Sebanyak 80% di antaranya disebabkan karena stres dan tidak kuat dalam menghadapi berbagai problematika hidup yang menimpa dirinya.
Problematika tersebut berkisar pada masalah keluarga, pernikahan, anak, studi, pekerjaan, dan lain-lain. Menurut data tersebut, fenomena semacam ini paling banyak ditemukan di negara-negara maju seperti Denmark, Norwegia, dan Prancis.
Di Amerika Serikat sendiri, tercatat setiap 20 menit terjadi satu kasus bunuh diri. Artinya, setiap hari sebanyak 75 orang melakukan bunuh diri. Bagaimana di Indonesia? Setali tiga uang. Di Indonesia, angka bunuh diri mencapai 12.000 orang per tahun. Itu berarti, setiap dua jam ada tiga orang bunuh diri.
Semua itu sebenarnya bisa dihindari dengan senantiasa mensyukuri nikmat Allah, bersabar, dan ikhlas.
Allahu Akbar 2x, Walillahilhamdu.
Jamaah Salat Iduladha yang Dimuliakan Allah,
Pelajaran Kedua: Sabar Menghadapi Hidup
Secara bahasa, sabar berarti menahan diri. Sedangkan secara syariat, sabar adalah menahan diri dari hal yang tidak diridai Allah Swt., dan hanya melaksanakan hal-hal yang diridai oleh-Nya. Oleh karena itu, sabar sangat diperlukan dalam melaksanakan setiap perintah Allah. Letak sabar adalah di hati. Lawan dari sabar adalah mudah marah.
Pada seseorang yang marah, tubuhnya akan mengeluarkan hormon adrenalin yang meningkatkan tekanan darah secara mendadak: wajah memerah, kepala pusing, jantung berdetak lebih cepat, napas ngos-ngosan, tangan bergetar, dan perut terasa mulas. Risiko apa yang sering dialami oleh orang yang mudah marah? Stroke. Karena perubahan tekanan darah yang mendadak dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak akibat tidak mampu menahan tekanan dari jantung.
Apakah sabar itu perbuatan pasif? Sama sekali tidak. Sabar adalah perbuatan aktif, di mana tubuh berusaha untuk tetap sadar dan mengontrol semua yang terjadi. Seperti yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Marah adalah perbuatan gila yang diakhiri dengan penyesalan.” Maka, sabar menjadi perbuatan aktif saat kita meminta pertolongan Allah sebagaimana dalam QS Al-Baqarah: 153:
“Yā ayyuhallażīna āmanustā’īnụ bis-ṣabri waṣ-ṣalāh, innallāha ma’aṣ-ṣābirīn.”
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Allahu Akbar 2x, Walillahilhamdu.
Jamaah Salat Iduladha yang Dimuliakan Allah,
Maka, siapa pun yang ingin doanya dikabulkan, hendaknya ia aktif melakukan langkah-langkah positif, salah satunya dengan bersabar.
Hati manusia bukan milik manusia itu sendiri. Kadang manusia bersedih tanpa sebab yang jelas. Kadang ingin semangat bekerja, namun tiba-tiba merasa lemah. Hati adalah milik Allah Swt. Allah-lah yang berkuasa membolak-balikkan hati sekehendak-Nya.
Kalau begitu, ketika kita ingin sabar, yang bisa dilakukan adalah mensuasanakan hati agar sabar hadir dalam diri. Bagaimana caranya?
Kalau kita cinta kepada Allah Swt., maka kita akan melaksanakan semua perintah-Nya.
Kalau kita takut pada neraka Allah Swt., maka kita akan menjauhi segala larangan-Nya.
Kalau kita yakin bahwa kematian bisa datang sewaktu-waktu, maka kita tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencari bekal akhirat.
Kalau kita sadar betapa banyak nikmat Allah Swt. yang telah kita rasakan, maka kita akan malu atas sedikitnya ibadah yang kita lakukan.
Allahu Akbar 2x, Walillahilhamdu.
Jamaah Salat Iduladha yang Dimuliakan Allah,
Di akhir khutbah ini, dengan penuh khusyuk dan tadarru’, marilah kita berdoa kepada Allah Swt. Semoga perjalanan hidup kita senantiasa terhindar dari segala keburukan yang menjerumuskan umat Islam. Semoga dengan doa ini pula, Allah Swt. berkenan menyatukan kita dalam kebenaran agama-Nya dan memberi kekuatan untuk memenangkannya.
Ya Allah, ya Rabb…
Bantu dan bimbinglah kami agar dapat berdoa kepada-Mu dengan sepenuh hati dan perasaan.
Masrahkanlah semua masalah, beban, hambatan, pikiran, jiwa, hati, dan seluruh diri kami kepada-Mu.
Ya Allah, ya Rabb…
Terangilah hati kami agar segala kesombongan dibersihkan, dan digantikan dengan cahaya kasih sayang-Mu.
Ya Allah…
Terangilah hati kami agar semua kemarahan dibersihkan, dan digantikan dengan kelembutan-Mu.
Allāhumma Rabbannāsi adzhibil ba’sa, isyfi Anta Asy-Syāfī, lā syifā’a illā syifā’uka, syifā’an lā yughadiru saqamā.
Rabbana lā tuzigh qulūbanā ba’da idz hadaytanā, wahab lanā milla dunka raḥmah, innaka Antal-Wahhāb.
Rabbana lā tu’ākhidznā in-nasīnā aw akhṭa’nā, rabbana wa lā taḥmil ‘alainā isran kamā ḥamaltahū ‘alallażīna min qablina, rabbana wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, waghfir lanā, warḥamnā. Anta maulānā fānṣurnā ‘alal-qawmil kāfirīn.
Rabbana ẓalamnā anfusanā, wa illam taghfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn.
Rabbana ātinā fiddunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.
Subḥāna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammā yaṣifūn, wa salāmun ‘alal-mursalīn. Wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.
Naṣrun minallāh wa fatḥun qarīb, wa basy-syiril mu’minīn.
Wassalāmu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Disampaikan di Masjid Al-Hikmah, Alun-Alun Sumorame
10 Dzulhijjah 1446 H / 6 Juni 2025 M
Ya Allah…ya Robb, terangilah hati kami agar semua kesombongan dibersihkan, digantikan dengan cahaya & kasih sayang-Mu.
Ya Allah… terangilah hati kami agar semua kemarahan dibersihkan, digantikan dengan kelembutan Mu.
Allohumma robbanasi adzibil ba’sa isyfi antasysyafii, la syifafaa’a illa syifa’uka, syifaaan laa yughodiru saqoma.
Robbana la tudzigh qulubana ba’daidz hadaytana wahablana milla dunqarohmah innaka antal wahab.
Robbana la tua khidznaa inna siina aw akhto’na, Robbana wala tahmil ‘alaynaa isron kama hamal tahu ‘alalladzina mingqoblina, Robbana wala tuhamilna maalaa thoo qotalaanabi, wa’fuanna, waghfirlana warhamna anta maulana fangsurna ‘ala qoumil kafiriin.
Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin
Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar
Subhana rabbika rabbil ‘izzati amma yasifun wa salamun alal mursalin wal hamdulillahi rabbil ‘alamin”
Nashrun minallahi wa fathun qarib wa basyiril mu’minin. Wassalamu’alaikum wrwb.
*) Disampaikan di Masjid Al Hikmah Alun-Alun Sumorame, Candi, Sidoarjo pada 10 Dzulhijah 1446 H/6 Juni 2025 M
