Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
اللهُ أَكْبَرُ 3× اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ الْفِطْرِ بَعْدَ صِيَامِ رَمَضَانَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Hari ini, di bawah naungan takbir yang menggetarkan arsy, marilah kita merenung sejenak. Jika kita memandang dunia hari ini dengan jernih, kita akan menemukan satu akar penyakit yang merusak tatanan bumi, merobek kemanusiaan, dan menghancurkan kedamaian. Akar itu bernama: Keserakahan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memperingatkan bahwa keserakahan (tamak) adalah pohon yang membuahkan kehinaan. Orang yang serakah hakikatnya adalah tawanan dari keinginannya sendiri; semakin ia menggenggam dunia, semakin ia merasa miskin. Senada dengan itu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengibaratkan orang serakah seperti orang yang meminum air laut; semakin diminum, bukan rasa haus yang hilang, melainkan dahaga yang semakin membakar hingga mampu membunuhnya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Tidakkah kita melihat dampak nyata dari keserakahan ini?
- Serangan fisik terhadap aktivis kemanusiaan hanya karena mereka menyuarakan kebenaran.
- Bencana ekologis, seperti banjir bandang di Sumatera dan Aceh yang membawa material kayu gelondongan—bukti nyata eksploitasi hutan yang serakah—yang merenggut ratusan nyawa dan menghancurkan belasan ribu rumah.
- Krisis kemanusiaan global; di Palestina, Lebanon, hingga Iran. Saat kita bisa duduk tenang di sini, saudara-saudara kita di sana belum tentu bisa menikmati tegaknya salat Idulfitri di bawah atap yang utuh. Luka mereka adalah luka kita, duka mereka adalah duka kemanusiaan dunia.
Keserakahan timbul karena kegagalan manusia mengendalikan nafsunya. Nafsu yang tak terkendali berubah menjadi penyakit patologis. Jika tak mampu mengendalikan diri dari nafsu makan-minum, maka ia akan mengalami obesitas (kegemukan), jika ia tidak mampu mengendalikan nafsu harta, ia menghalalkan segala cara. Jika tak mampu mengendalikan nafsu jabatan, ia akan “mendorong ke atas dan menginjak ke bawah.” Bahkan jika ia tak mampu mengendalikan diri dari nafsu seksual, ia akan memiliki perilaku sek yang menyimpang.
Allah SWT berfirman dalam QS. Yusuf ayat 53:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”
Bahkan, jika nafsu dibiarkan liar tanpa kendali iman, Al-Qur’an menyamakan derajat manusia lebih rendah daripada binatang ternak.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Puasa Ramadan adalah “perisai” yang didesain Allah Swt agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu tersebut. Kini, setelah Ramadan berlalu, tugas besar kita adalah melakukan Transformasi.
Transformasi berasal dari bahasa Latin: Trans (melampaui) dan Forma (bentuk). Ini bukan sekadar perubahan sementara. Sebagai analogi: Air yang membeku menjadi es adalah perubahan sementara, karena ia akan mencair kembali saat dipanaskan. Namun, transformasi yang sejati adalah seperti ulat yang menjadi kepompong lalu berubah menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu tidak akan pernah kembali menjadi ulat. Begitulah seharusnya seorang Mukmin pasca-Ramadan.
Lalu, apa yang perlu kita transformasikan secara permanen pasca ramadan?
Melalui madrasah Ramadan, kita ditempa untuk menahan lapar dan dahaga. Esensinya bukan sekadar menahan fisik, melainkan menghancurkan belenggu keserakahan dalam jiwa agar lahir pribadi yang peduli. Berikut adalah empat pilar transformasi permanen yang harus kita bawa:
- Transformasi Akidah-Tauhid: Memutus Rantai Keserakahan
Ramadan mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah Swt. Transformasi ini mengharuskan kita mengalihkan ketergantungan hati dari makhluk—terutama dari syahwat duniawi yang serakah terhadap harta dan jabatan—sepenuhnya hanya kepada Allah Swt. Manusia yang bertauhid murni menyadari bahwa menumpuk kekayaan tanpa peduli sesama adalah bentuk “penyembahan” selain kepada-Nya.
Nilai “Laa Ilaaha Illallah” yang diperkuat selama puasa juga akan menyatukan frekuensi batin kita dengan mereka yang tertindas. Jarak geografis antara Indonesia, Palestina, Lebanon, hingga Iran tidak lagi berarti; ikatan tauhid membuat tangan kita ringan terulur karena kita sadar bahwa membantu mereka adalah manifestasi langsung dari pengabdian kepada Allah Swt.
- Transformasi Ibadah: Dari Ritual Menuju Empati Sosial
Puasa mengubah ibadah dari sekadar rutinitas lahiriah menjadi sarana komunikasi batin yang peka. Rasa lapar saat berpuasa adalah cara Allah SWT memaksa kita merasakan penderitaan mereka yang kekurangan. Jika salat dan puasa kita tidak membuahkan kepedulian sosial, maka ibadah tersebut kehilangan ruhnya.
Sangat ironis jika seseorang rajin beribadah namun abai terhadap genosida dan kelaparan yang melanda saudara kita di Palestina. Transformasi ibadah yang benar adalah yang melahirkan kesadaran untuk berbagi dan membela mereka yang terzalimi sebagai bentuk syukur atas nikmat yang kita miliki.
- Transformasi Akhlak (Manifestasi Sosial): Menjadi Pohon yang Teduh
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Muslim diibaratkan seperti pohon: akarnya adalah akidah, batangnya ibadah, dan buahnya adalah akhlak. Orang tidak akan memakan akar atau batang, melainkan menikmati manisnya buah.
Ramadan adalah momentum untuk membuang duri-duri keserakahan dan egoisme dalam diri. Akhlak yang mulia tidak akan membiarkan kita kenyang sendirian sementara saudara seiman dan seakidah di belahan bumi lain menderita. Kehadiran kita harus menjadi “buah” yang mengenyangkan dan menenangkan bagi semesta, terutama bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan tanah air dan kehormatannya.
- Transformasi Pola Pikir (Hijrah Intelektual): Cerdas Melawan Ketidakadilan
Pribadi Muslim pasca Ramadan haruslah cerdas dan haus ilmu. Kita harus berhenti mengikuti narasi tanpa dasar (taklid) dan mulai bertindak berdasarkan ilmu yang jernih. Kita dituntut cerdas dalam membedakan kebenaran dari narasi hoaks serta propaganda global yang berusaha mengaburkan fakta penderitaan umat manusia. Dengan kecerdasan intelektual, kita tidak akan mudah dimanipulasi oleh kepentingan-kepentingan serakah yang ingin memecah belah kekuatan umat di tingkat dunia.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Sebagai penutup, marilah kita buktikan bahwa madrasah Ramadan telah melahirkan Transformasi Permanen dalam jiwa, yakni keberanian untuk menghancurkan berhala keserakahan duniawi demi menghidupkan empati yang melampaui batas geografis. Jika puasa kita benar, maka rasa lapar yang kita tahan harus membekas menjadi buah kepedulian nyata terhadap luka dunia, terutama bagi saudara kita di Palestina yang masih berjuang di bawah penindasan.
Jangan biarkan kesalehan ini luntur seiring berlalunya bulan suci; tetaplah istiqomah menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, kokoh secara akidah, mulia secara akhlak agar kehadiran kita senantiasa menjadi peneduh, pembela, dan buah kebaikannya bisa dirasakan oleh semua.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
DO’A
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اللّٰهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Wassalamu alikum warahmatullahi wabarakatuh. || Disampaikan pada Khotbah Idulfitri 1447H di Lapangan Parkir KONI Jatim Seger, Jl. Raya Kertajaya Indah No.4 Surabaya, Jumat 20 Maret 2026.
