Ketika Kiai Haji Ahmad Dahlan bersama para santri mengkaji dan membaca ber-ulang- ulang Surat Al-Ma’un di serambi rumah Kauman pada 1912, beliau sesungguhnya sedang menyiapkan fondasi peradaban baru.
Tafsirnya terhadap ayat-ayat pendek itu bukan bersifat ritualistik, tetapi praksis sosial. “Muslim harus berpihak dan empatik kepada “kaum lemah”, dan mustad’afiin” demikian kira-kira pesan yang beliau hidupkan melalui tindakan sehari-hari—mengajak murid memberi makan fakir, merawat anak yatim, hingga mendirikan sekolah modern bagi masyarakat desa hingga kaum miskin kota.
Intisari Al-Ma’un (QS. 107:1–7) mengecam keras mereka yang rajin beribadah, tetapi abai terhadap kemiskinan, Minus Kesalehan Sosial.
Senada, Hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Muslim, Khoirunnas anfa’uhum linnaaas, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat,” menjadi kurikulum moral Muhammadiyah sejak pertama berdiri.
Inilah yang oleh Dr. Amelia Fauzia Guru besar Filantropi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2017, Journal of Southeast Asian Studies) disebut sebagai institutionalized Islamic philanthropy—filantropi yang tidak berhenti pada kesalehan personal, tetapi tumbuh menjadi sistem sosial yang modern dan terukur.
Selama 113 tahun perjalanan, Muhammadiyah mengubah gagasan etis Al-Ma’un menjadi jaringan kelembagaan sosial raksasa: ribuan sekolah, ratusan pesantren, ratusan rumah sakit, lembaga filantropi, dan pusat respon bencana yang kini diakui PBB. Bahkan, merujuk data situs Seasia (regional Southeast Asia data & news) yang banyak dikutip media internasional, Muhammadiyah termasuk empat organisasi Islam terkaya di dunia, dengan aset senilai tidak kurang dari Rp 446,4 T bukan karena aspek materi, tetapi kekuatan aset sosialnya yang berorientasi pelayanan publik.
Narasi ini bukan sekadar sejarah. Ini adalah kisah tentang bagaimana teologi, kemanusiaan, dan modernitas dapat berjalan beriringan. Dan pada titik itulah—dari Kauman hingga panggung global—kiprah filantropi Muhammadiyah berdiri kokoh sebagai salah satu kekuatan sipil terbesar abad ini.
1. Teologi Al-Ma’un sebagai Motor Penggerak Filantropi
Al-Ma’un membentuk etos Muhammadiyah bahwa keimanan harus menampakkan diri dalam dunia nyata. Amelia Fauzia (2017), Michael Feener (2020), dan studi-studi dalam Voluntas: International Journal of Voluntary and Nonprofit Organizations (2022) menegaskan bahwa Muhammadiyah merupakan model paling berhasil dalam memodernisasi filantropi Islam di Global South.
Di tangan Kiai Dahlan, Al-Ma’un menjadi semacam “teologi keberpihakan”—agama yang hadir pada ruang-ruang paling sunyi: anak yatim, buruh kasar, pedagang kecil, dan masyarakat terpinggirkan. Aksi sosial bukan pelengkap, melainkan inti tauhid. Teologi ini kemudian mengalir menjadi amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan yang menjangkau jutaan orang lintas agama, kelas sosial, dan negara.
2. Kiprah Filantropi Melintasi Generasi: Dari Kauman hingga Benua Lain
a. Pendidikan: Pilar Peradaban Berkemajuan
Pendidikan menjadi sektor pertama yang digarap Muhammadiyah karena Dahlan sadar bahwa kebodohan adalah bentuk kemiskinan paling berbahaya. Hingga 2024, Muhammadiyah mengelola:
6.000+ sekolah dan madrasah
176 Perguruan Tinggi Muhammadiyah–‘Aisyiyah (PTMA)
Ratusan SMP/SMA boarding berbasis sains dan keagamaan
Pesantren Mu’allimin–Mu’allimat Yogyakarta, salah satu model kaderisasi ulama modern tertua di Indonesia
Jaringan Muhammadiyah Boarding School (MBS) di berbagai provinsi
Pesantren Internasional Abdul Malik Fajar, Malang, berorientasi global studies
Muhammadiyah Australia College (MAC), Australia, sebagai pionir pendidikan Islam Indonesia di negara maju
Muhammadiyah University Malaysia (MUM), bagian strategi internasionalisasi pendidikan
Comparative Education Review (2021) mencatat, sistem pendidikan Muhammadiyah adalah model modernisasi Islam paling berhasil di Asia Tenggara karena mampu menyatukan etika keislaman, sains, dan manajemen modern.
b. Kesehatan dan Layanan Sosial
Pada sektor ini, Muhammadiyah memiliki:
120+ Rumah Sakit & RSIA
300+ klinik kesehatan
Puluhan pusat pelayanan ibu-anak
Studi Ishizaka (2020) menyebut jaringan rumah sakit Muhammadiyah sebagai faith-based modern medicine—rumah sakit berbasis keagamaan yang paling profesional di Asia.
c. Ekonomi dan Pemberdayaan Umat
Melalui LAZISMU, Muhammadiyah mengembangkan:
Filantropi produktif: zakat, infak, wakaf tunai
Pembiayaan mikro syariah
UMKM dan agribisnis
Ekonomi kreatif dan dana kesejahteraan komunitas
Islamic Economic Studies (2022) menempatkan Muhammadiyah sebagai pelopor ekonomi filantropis modern di Asia.
d. Pesantren dan Sains Modern
Pesantren Muhammadiyah kini memasuki fase baru: riset, teknologi, dan integrasi ilmu. Pesantren Trensains, Darul Arqam, dan MBS menjadi model pendidikan Islam futuristik. Pesantren Internasional Abdul Malik Fajar bahkan menjadi jembatan dialog peradaban, menarik santri dari berbagai negara.
3. Relasi Muhammadiyah–Pemerintah: Dari AR Fachruddin hingga Haedar Nashir
Pada masa Orde Baru, era kepemimpinan Pak KH. AR Fachruddin mampu memainkan peran strategis menjaga harmoni dengan pemerintah tanpa kehilangan independensi.
Lukman Harun dalam buku Muhammadiyah dan Asas Pancasila menjelaskan, Sidang Tanwir ke 41 yang menghasilkan tiga hal penting yang salah satu point terpentingnya penerimaan Pancasila sebagai Azas Tunggal adalah portofolio kesuksesan Pak AR membangun relasi proporsional dan elegan dengan pemerintah sehingga marwah Muhammadiyah tetap terjaga.
Ia tidak mengambil posisi oposisi, tetapi tetap kritis kooperstif tetapi elegan, menjaga agar amal usaha tetap aman dan berkembang. Indonesia and the Malay World (2019) menilai pendekatan ini membuat Muhammadiyah tetap tumbuh ketika organisasi lain dalam tekanan.
Sementara konteks hari jni, di era Prof. Haedar Nashir, hubungan Muhammadiyah–pemerintah semakin matang: partisipatif, dialogis, tetapi tetap berjarak sehat. Muhammadiyah menjadi mitra strategis negara—mulai dari pendidikan, kesehatan, mitigasi bencana, hingga program kesejahteraan masyarakat. Tingkat trust pemerintah kepada Muhammadiyah terus meningkat karena reputasinya yang profesional dan akuntabel.
Penempatan kader-kader terbaik dalam Kabinet Presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka satu sisi bentuk apresiasi dan trust publik yang terus meningkat satu sisi menjadi tantangan yang tidak mudah agar Muhammadiyah sebagaiorganisasi tetap menjaga jarak “aman” namun tetap produktif dan harmony dalam konteks yang lebih luas.
Praktik ini seolah menjadi pola baru dalam konteks civil society partnership, yang disebut Asef Bayat (2021) sebagai socially-embedded Islamic movement.
4. Humanitarian Diplomacy: Filantropi Muhammadiyah di Kawasan Konflik
Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Muhammadiyah telah hadir di:
Gaza–Palestina (misi medis dan bantuan kemanusiaan jangka panjang)
Thailand Selatan
Rohingya–Bangladesh
Turki–Suriah
Nepal dan Filipina
WHO memasukkan MDMC sebagai bagian dari sistem Emergency Medical Team (EMT) berstandar PBB. Ini menjadikan Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam yang paling dihormati di dunia dalam isu Filatropi, Mitigation and humanitarian diplomacy.
5. Pengakuan Akademisi Global
Mitsuo Nakamura dalam karya monumentalnya The Crescent Arises over the Banyan Tree, ia menyebut Muhammadiyah sebagai: “Gerakan sosial Islam paling adaptif dan modern di Indonesia.
Menurutnya, kekuatan Muhammadiyah bersumber dari teologi aksi—energi etis Al-Ma’un—yang menjelma menjadi mesin institusi sosial. Azyumardi Azra, Guru Besar UIN Jakarta ini menyatakan, Muhammadiyah adalah:
“Gerakan Islam yang berhasil menjadikan filantropi dan pendidikan sebagai instrumen pembentukan peradaban modern.”
Azra menekankan pentingnya inovasi, tata kelola profesional, dan pemaknaan ulang teologi dalam menjawab ketidakadilan global.
6. Tantangan Masa Depan
Beberapa tantangan strategis yang sering diangkat dalam jurnal internasional mutakhir:
Profesionalisasi tata kelola Standar audit, teknologi manajemen, SDM unggul
(Jurnal Nonprofit Management & Leadership, 2023)
Digitalisasi filantropi Zakat-wakaf digital
(Jurnal Islamic Accounting and Business Research, 2023)
Kesenjangan sosial dan kemiskinan struktural
Reinterpretasi teologi Al-Ma’un Dari sekadar bantuan sosial menuju advokasi struktural, keadilan iklim, kesehatan global, dan kemiskinan digital.
Kesimpulan
Kiprah 113 tahun, Muhammadiyah membuktikan filantropi bukan kegiatan tambahan, tetapi fondasi teologis dan strategi peradaban. Dari Kauman hingga panggung global, organisasi ini mempraktikkan Islam yang membebaskan: pendidikan modern, layanan kesehatan profesional, pemberdayaan ekonomi, pesantren berbasis sains, hingga diplomasi kemanusiaan internasional.
Kiprah AR Fachruddin menjaga Muhammadiyah tetap kokoh pada masa tekanan politik, sementara era Haedar Nashir menguatkan peran Muhammadiyah sebagai mitra strategis negara dengan tingkat kepercayaan publik yang tinggi. Penelitian akademisi internasional—dari Fujii, Feener, hingga Nakamura—serta pandangan intelektual Muslim seperti Azyumardi Azra menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai model filantropi Islam modern yang paling berhasil.
Tantangan ke depan tidak ringan: digitalisasi, ketimpangan sosial, tata kelola modern, dan tuntutan reaktualisasi teologi Al-Ma’un di tengah krisis global. Namun sejarah yang panjang, kapasitas kelembagaan yang mapan, dan visi gerakan berkemajuan menjadi modal besar bagi Muhammadiyah untuk tetap bergerak melintasi zaman berikutnya—menjadi cahaya kemanusiaan yang tak pernah padam. (*)
