Pendidikan tinggi di era modern bukan lagi sekedar soal mengejar nilai di atas kertas. Lebih dari itu, universitas kini menjadi ruang peleburan budaya di mana mahasiswa diajak untuk menyelami kearifan lokal. Hal inilah yang tercermin dalam partisipasi mahasiswa asing di Universitas Muhammadiyah Palembang dalam ajang kompetisi storytelling BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing)
Melalui kompetisi bercerita tersebut, para mahasiswa lintas negara tidak hanya dituntut untuk fasih berbahasa, tetapi juga diajak melakukan observasi mendalam terhadap tradisi masyarakat Sumatera Selatan. Program ini menjadi medium efektif bagi mereka untuk berinteraksi langsung dengan denyut nadi kebudayaan lokal di luar rutinitas akademik yang formal.
Memetik Kearifan Lokal dari Cerita Rakyat Palembang
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Mohammed Sami. Bagi mahasiswa internasional ini, kompetisi story telling bukan sekedar ajang unjuk bakat, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan intelektual selama menempuh studi di Indonesia.
Sami mengungkapkan, ketertarikannya pada cerita rakyat Palembang bermula dari kekagumannya terhadap pesan moral dan kearifan lokal yang tersirat di setiap narasinya.
“Warisan lisan dari “Kota Pempek” ini memiliki keunikan yang sangat kontras dengan latar belakang budaya di negara asalnya,” ujarnya.
Hal inilah yang memicunya untuk mengeksplorasi lebih jauh bagaimana nilai-nilai luhur tersebut dapat disampaikan kembali dengan gaya yang segar.
Keberanian Sami dalam mengangkat tema lokal menunjukkan bahwa budaya Sumatera Selatan memiliki daya tarik universal yang mampu menyentuh hati siapa saja, tanpa memandang batasan kewarganegaraan.
Komitmen Kampus dalam Mencetak Lulusan Berdaya Saing Global
Pihak Universitas Muhammadiyah Palembang melihat pencapaian ini sebagai bukti nyata keberhasilan pembinaan mahasiswa. Prestasi yang diraih Sami diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lainnya untuk terus menggali potensi diri dan berani tampil di berbagai tingkatan, mulai dari skala regional hingga internasional.
Pihak rektorat menegaskan bahwa universitas memiliki komitmen jangka panjang untuk memfasilitasi setiap kreativitas, minat, dan bakat yang dimiliki mahasiswa.
Dukungan penuh terhadap kegiatan non-akademik seperti ini dianggap sebagai investasi penting dalam melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan budaya dan daya saing yang kuat di kancah global.
Dengan adanya kolaborasi antara pendidikan formal dan pengenalan budaya, Universitas Muhammadiyah Palembang semakin mengukuhkan posisinya sebagai institusi yang inklusif dan progresif, tempat di mana tradisi lokal dan visi global berjalan beriringan. (abdul fatah)
