Kisah Setelah 40 Tahun, Prof. Haedar Nashir Kembali Bertemu Prof. Mitsuo Nakamura

Kisah Setelah 40 Tahun, Prof. Haedar Nashir Kembali Bertemu Prof. Mitsuo Nakamura
www.majelistabligh.id -

Setelah lebih dari empat dekade, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir kembali dipertemukan dengan Prof. Mitsuo Nakamura, antropolog asal Jepang yang dikenal luas lewat risetnya tentang Muhammadiyah. Pertemuan penuh kehangatan itu berlangsung pada Senin (22/9/2025) malam di SM Tower Hotel PP Muhammadiyah, Yogyakarta.

Prof. Mitsuo Nakamura hadir bukan sekadar tamu, tetapi diundang secara khusus sebagai keynote speaker dalam salah satu event penting yang digelar Suara Muhammadiyah di SM Tower Hotel. Kehadirannya menjadi simbol penghargaan atas kontribusinya yang besar dalam mengkaji dan memperkenalkan Muhammadiyah ke dunia internasional.

Dalam kesempatan itu, Prof. Haedar mengisahkan awal perjumpaan mereka ketika dirinya masih menjadi wartawan muda Suara Muhammadiyah pada 1984.

“Saya bertemu pertama kali sebagai wartawan Suara Muhammadiyah di Gedung PP Muhammadiyah, sebuah wawancara dengan beliau,” ujar Haedar di hadapan hadirin, didampingi Direktur Suara Muhammadiyah Denny Asyari.

Kisah Setelah 40 Tahun, Prof. Haedar Nashir Kembali Bertemu Prof. Mitsuo Nakamura
Haedar Nashir muda bersama Prof. Mistuo Nakamura. (ist)

Prof. Mitsuo Nakamura, kini berusia sekitar 92 tahun, tetap terlihat sehat meski sudah lanjut usia. Ia merupakan salah satu peneliti dunia yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap gerakan Muhammadiyah.

“Beliau salah satu peneliti hebat yang memiliki kekaguman khusus pada karya Muhammadiyah yang mendunia,” imbuh Haedar.

Di sela-sela jamuan malam, Prof. Nakamura tampak bercengkrama akrab dengan Prof. Haedar dan tamu undangan lainnya. Ia menyoal kembali pengalaman Muhammadiyah 40 tahun silam yang pernah ia teliti, sekaligus mencermati dinamika gerakan itu hingga hari ini yang kian mendunia dan berkontribusi pada berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Nakamura dikenal luas melalui penelitiannya di Kotagede, Yogyakarta, pada awal 1970-an. Hasil riset itu melahirkan buku monumental The Crescent Arises Over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town. Buku tersebut menggambarkan Muhammadiyah bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai kekuatan sosial yang berakar pada nilai Islam pembaruan.

Dalam karya-karyanya, Nakamura menggunakan pendekatan emik—melihat Muhammadiyah dari dalam—sehingga mampu memahami dinamika organisasi tanpa penilaian berlebihan. Pendekatan ini dianggap memberi perspektif baru yang melengkapi studi Islam Indonesia yang sebelumnya lebih banyak didominasi pandangan luar.

Pertemuan kembali antara Haedar dan Nakamura itu tidak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga meneguhkan hubungan akademik dan kultural lintas generasi dan bangsa. Haedar menilai sosok Nakamura sebagai inspirator bagi keluarga besar Muhammadiyah agar terus mengembangkan riset dan gerakan yang berakar pada nilai-nilai asli masyarakat.

Acara malam itu juga diwarnai dialog hangat seputar perkembangan Muhammadiyah mutakhir, tantangan globalisasi, serta harapan ke depan agar gerakan Islam pembaruan tetap kokoh dan relevan di abad ke-21. Prof. Nakamura menyampaikan optimismenya bahwa Muhammadiyah dengan jaringan pendidikan, kesehatan, dan sosialnya mampu terus berkontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa.

Dengan pertemuan ini, Muhammadiyah kembali mengingat jejak panjang interaksi intelektualnya dengan dunia internasional, sekaligus menguatkan komitmen menjaga nilai pembaruan Islam yang menjadi ruh gerakannya.(m.roissudin)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search