Sejumlah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), yakni Cemengbakalan, Sumput, Sarirogo dan PRM Cemengkalang sidoarjo berkolaborasi menggelar salat Iduladha 1446 Hijriyah di lapangan Batalyon Kavaleri 3/Tupai Setia Cakti (Kikav 3/TSC) Jumat (6/6/2025). Bertindak sebagai khatib Dr Hairul Warizin, MM (Ketua Majelis Hukum dan HAM PDM Sidoarjo).
Dalam ceramahnya Ustaz Hairul menyampaikan Iduladha bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum untuk menguatkan tauhid dan membangun karakter generasi muda. Keteladanan ketaatan yang diberikan Nabi Ibrahim dan puteranya Nabi Ismail tetap relevan untuk generasi sekarang.
Peristiwa besar yang diabadikan dalam QS. As-Saffat ayat 102 menunjukkan dialog antara Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, ketika perintah Allah datang melalui mimpi untuk menyembelih sang anak. Dengan penuh keimanan, Nabi Ismail menjawab:
“Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. As-Saffat: 102)

“Ayat ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan pelajaran hidup tentang ketaatan tanpa syarat kepada Allah, ketundukan kepada perintah-Nya, dan keikhlasan dalam menjalankan syariat baik dari sisi orang tua maupun anak,” ujarnya.
Kisah Nabi Ibrahim bukanlah dongeng, melainkan peristiwa nyata dan besar yang menggambarkan pengorbanan sejati dan transformasi spiritual antara ayah dan anak. Dari kisah ini, umat Islam diingatkan tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai ketauhidan pada anak.
Seorang ayah memiliki peran utama dalam membentuk fondasi akidah anak-anaknya, meyakini keesaan Allah, menjalani hidup dengan akhlak yang mulia, dan membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat,” tandasnya.
Keteladanan Nabi Ismail, lanjut Hairul, menunjukkan bahwa ketakwaan bukan hanya milik orang dewasa, tetapi sesuatu yang harus dibangun dan ditanamkan sejak masa remaja. Anak-anak muda perlu menyadari bahwa ketaatan kepada orang tua adalah jalan menuju ridha Allah dan bahwa hidup penuh berkah dimulai dari sikap hormat, patuh, dan berani menegakkan kebenaran.
Iduladha juga mengajarkan bahwa kurban tidak sebatas menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego, hawa nafsu, keangkuhan, dan kesenangan dunia yang menjauhkan kita dari nilai-nilai ilahi. Generasi muda hari ini dihadapkan pada tantangan besar: pengaruh hedonisme, krisis identitas, dan arus informasi yang kerap menjauhkan dari nilai keislaman.
“Maka diperlukan keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail sebagai sumber kekuatan spiritual untuk tetap teguh di jalan Allah,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiayan Punto Cahyo Al Adin, M.Pd dari PRM Cemengbakalan menyampaikan, sebagai inovasi dakwah, pihaknya sengaja berkolaborasi dengan PRM sekitar untuk menggelar salat Id Bersama.
“Kami menyadari perlunya membangun jalan dakwah melalui inovasi dan relasi yang dibangun untuk berjuang bersama di Muhammadiyah dan mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran sebagai wujud lii’lai kalimatillaah,” ujar Punto Cahyo yang juga Ketua Majelis Pemberdayaan PCM Sidoarjo itu.
Dalam kesempatan tersebut, Punto pun menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak sehingga salat Id berlangsung dengan lancar.
“Tentunya kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak, terutama dari Dankikav 3/TSC Kapten Kav Andrie R. Perkasa, S.T. Han atas fasilitas lokasi sehingga salat Id bisa berlangsung,” ujarnya. (*/tim)
