Krisis Bisa Jadi Momentum Emas Bangun Reputasi Organisasi

Krisis Bisa Jadi Momentum Emas Bangun Reputasi Organisasi
www.majelistabligh.id -

Krisis kerap dipandang sebagai ancaman besar yang menggerogoti kepercayaan publik dan melemahkan dukungan terhadap organisasi. Namun, menurut Ayub Dwi Anggoro, Ph.D, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), krisis justru dapat menjadi peluang membangun reputasi jika dikelola dengan benar.

Hal itu ia sampaikan dalam sesi “Mengelola Krisis untuk Membangun Reputasi” pada Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah hari kedua di Hotel Narita Tanggerang, Sabtu (30/8/2025).

“Krisis adalah peristiwa yang tidak terduga, tidak menyenangkan, dan sering kali merugikan organisasi. Namun, krisis tidak bisa dihilangkan dari perjalanan organisasi. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir risiko sekaligus menjadikannya momentum untuk memperkuat reputasi,” ungkap Ayub.

Menurut Ayub, banyak organisasi menempatkan krisis semata-mata sebagai ancaman. Akibatnya, krisis justru memicu turunnya kepercayaan publik dan melemahkan dukungan. Padahal, kunci keberhasilan sebuah organisasi terletak pada cara mengantisipasi, menangani, sekaligus memulihkan diri dari krisis.

“Setiap Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) harus punya manajemen krisis. Krisis harus dicegah sejak dini melalui pemetaan internal maupun eksternal terhadap seluruh pemangku kepentingan. Dengan begitu, organisasi tidak gagap ketika krisis muncul,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pemetaan harus dilakukan secara akademis. Artinya, organisasi tidak cukup hanya mengandalkan insting, tetapi membutuhkan analisis ilmiah untuk mengidentifikasi potensi krisis, merancang skenario mitigasi, dan menyiapkan langkah strategis penanganannya.

Ayub juga menekankan perlunya pelatihan-pelatihan khusus dalam menghadapi krisis. Menurutnya, kesiapan sumber daya manusia di lingkungan organisasi sangat penting agar tidak panik ketika berhadapan dengan situasi mendesak.

“Pelatihan menghadapi krisis seharusnya menjadi agenda rutin organisasi. Tujuannya agar setiap pimpinan dan kader Muhammadiyah terbiasa menghadapi situasi darurat dengan cepat, tepat, dan terukur,” ujarnya.

Dalam paparannya, Ayub mengingatkan bahwa penanganan krisis tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ada prinsip-prinsip yang harus dipegang agar krisis tidak semakin membesar.

“Dalam menghadapi krisis, organisasi harus bertindak cepat, tepat, transparan, empati, humanis, dan konsisten. Kombinasi nilai ini akan membuat publik menilai organisasi sebagai pihak yang bertanggung jawab, bukan sebaliknya,” tegasnya.

Selain itu, Ayub menekankan pentingnya mengendalikan arus informasi, khususnya di media sosial. Narasi positif, menurutnya, harus dibangun secara sistematis untuk mengimbangi opini negatif yang biasanya berkembang sangat cepat.

Tidak hanya soal penanganan, pemulihan pasca krisis juga menjadi hal penting dalam membangun reputasi. Ayub menyebutkan beberapa langkah yang bisa dilakukan organisasi, mulai dari evaluasi menyeluruh, meluncurkan program transparansi, hingga menyelenggarakan kegiatan sosial sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat.

“Pemulihan tidak boleh hanya formalitas. Organisasi harus belajar dari krisis yang terjadi, memperbaiki sistem, serta menunjukkan kepedulian nyata agar kepercayaan publik kembali pulih,” tambahnya.

Ayub menutup paparannya dengan menekankan bahwa krisis sejatinya adalah ujian yang bisa menjadikan organisasi lebih kuat.

“Krisis, bila dikelola dengan cepat dan tepat, justru dapat membangun reputasi organisasi. Dari krisis, publik akan menilai apakah kita bertanggung jawab, punya empati, dan mampu bangkit. Itulah yang akan membuat reputasi kita semakin kokoh,” pungkasnya.

Pelatihan Manajemen Reputasi Digital ini menjadi ajang penting bagi para pimpinan Muhammadiyah untuk memperdalam strategi komunikasi, khususnya dalam menghadapi dinamika era digital yang penuh ketidakpastian. (muhammad sholihin fanani)

Tinggalkan Balasan

Search