Laut bukan sekadar hamparan air yang luas, melainkan tanda kebesaran Allah Swt. Ia adalah sumber kehidupan, habitat beragam makhluk, penopang pangan, jalur transportasi, sekaligus ruang hidup bagi jutaan manusia.
Allah Swt. berfirman dalam Q.S. An-Nahl [16]: 14:
وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلٖهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: “Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya dan kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, serta agar kamu bersyukur.”
Melalui ayat ini, Allah menundukkan laut agar manusia dapat memanfaatkan kekayaannya: ikan sebagai bahan pangan, perhiasan seperti mutiara, hingga kapal sebagai sarana transportasi. Semua kelimpahan ini dianugerahkan agar manusia senantiasa bersyukur dan menjaga kelestariannya.
Namun, hal ini bukan berarti manusia bebas mengeksploitasi laut tanpa batas. Laut menyediakan ikan, tetapi bukan berarti boleh ditangkap secara merusak. Laut memberi ruang kehidupan, bukan untuk dijadikan tempat pembuangan sampah. Laut menyimpan kekayaan, tetapi bukan berarti boleh dikuras habis hingga mengorbankan masa depan generasi mendatang.
Sejak awal, Islam mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam bukanlah relasi penguasa dengan objek eksploitasi, melainkan hubungan antara pengemban amanah dengan penciptanya.
Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 30:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Menjadi khalifah bukan berarti menjadi pemilik mutlak bumi. Pemilik sejati tetaplah Allah Swt. Manusia hanya dipercaya untuk mengelola, menjaga, dan memakmurkannya.
Oleh sebab itu, ketika laut tercemar, terumbu karang rusak, hutan mangrove ditebang liar, sampah plastik mengapung, dan biota laut kehilangan habitatnya, kita tidak sedang sekadar menghadapi krisis ekologi, melainkan krisis moral dan spiritual.
Allah Swt. telah memperingatkan dalam Q.S. Ar-Rum [30]: 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Dalam Islam, ikhtiar menjaga alam bernilai ibadah. Menanam pohon, merawat lingkungan, membersihkan sungai, menekan penggunaan plastik, serta menjaga habitat laut adalah wujud nyata dari pengamalan amanah.
Para ulama pun telah merumuskan kaidah fikih yang sangat fundamental:
الضَّرَرُ يُزَالُ
“Setiap kemudaratan harus dihilangkan.”
Kaidah ini menegaskan bahwa segala tindakan yang menimbulkan kerugian dan kerusakan wajib dicegah serta ditanggulangi. Jika pencemaran laut merusak ekosistem, mengancam kesehatan, mematikan mata pencaharian nelayan, hingga merugikan generasi mendatang, maka mencegah dan menanggulanginya adalah bagian dari perintah syariat.
Mari kita tanamkan kesadaran bersama: “Lingkungan adalah amanah, dan menjaganya adalah bagian dari mewujudkan kemaslahatan.”
Jangan sampai kita mewariskan laut yang pepat oleh sampah kepada anak cucu kita. Jangan biarkan generasi mendatang hanya mengenal keanekaragaman laut dari buku cerita karena habitat aslinya telah musnah. Kita bukanlah generasi terakhir, melainkan pemegang tongkat estafet kepemimpinan di bumi. Di masa kekhalifahan yang singkat ini, tugas kitalah untuk menjaga kelestariannya. (*/tim)
