Kualitas Seseorang Dilihat dari Siapa yang Ia Kagumi

Kualitas Seseorang Dilihat dari Siapa yang Ia Kagumi
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Setiap manusia memiliki figur yang ia kagumi dan jadikan teladan. Dari sosok yang dikaguminya, dapat diketahui arah pemikiran, kecenderungan hati, serta kualitas kepribadiannya. Sebab, kekaguman bukan sekadar rasa suka, melainkan refleksi nilai yang dipegang oleh seseorang. Maka benar jika dikatakan: “Kualitas seseorang dapat diukur dari siapa yang ia kagumi.”

  1. Landasan Al-Qur’an

Allah Ta‘ala menegaskan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaknya memilih kedekatan dan kekaguman kepada orang-orang yang jujur dan saleh. Kebersamaan di sini tidak hanya secara lahiriah, tetapi juga dalam hati, cinta, dan teladan hidup. Barang siapa mengagumi orang saleh, maka ia akan terdorong untuk menempuh jalan mereka.

Demikian pula Allah menggambarkan penyesalan orang yang salah dalam memilih panutan:

يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ۝ لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي

“Aduhai celakalah aku! Sekiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan sebagai teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah datang kepadaku.” (QS. Al-Furqān: 28–29)

Ayat ini menunjukkan bahwa kekaguman kepada orang yang salah akan menjadi sebab penyesalan abadi di akhirat.

  1. Hadits Nabi

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” (HR. al-Bukhārī, no. 6169; Muslim, no. 2640)

Hadits ini menegaskan bahwa kecintaan dan kekaguman menentukan posisi seseorang di sisi Allah. Siapa yang mencintai dan mengagumi orang-orang saleh, ia akan bersama mereka meskipun amalnya belum sepadan. Sebaliknya, siapa yang mengagumi pelaku dosa, ia akan terhimpun bersama mereka.

Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:

من تشبّه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, no. 4031)

Kekaguman biasanya menimbulkan kecenderungan untuk meniru. Maka, meniru akhlak dan gaya hidup orang fasik menunjukkan kecenderungan hati kepada keburukan, sedangkan meniru ulama dan orang saleh menandakan kecintaan kepada kebenaran.

  1. Pandangan Para Ulama

Ibn al-Qayyim رحمه الله berkata:

المحبّة الصادقة تُورِثُ التَّشبُّهَ بالمحبوب في الظاهر والباطن

Cinta yang tulus akan melahirkan keserupaan dengan yang dicintai, baik secara lahir maupun batin.” (Madarij as-Salikin, 3/9)

Artinya, seseorang yang benar-benar kagum kepada orang saleh akan berusaha meniru akhlaknya, ibadahnya, dan kesungguhannya dalam menegakkan agama.

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله menasihatkan:

اعلم أنَّك لا تُصاحِبُ أحدًا إلا سَرَى إليك من خلقه

Ketahuilah, engkau tidak akan bersahabat dengan seseorang kecuali akan menular kepadamu sebagian dari akhlaknya.”

Sedangkan Ibn Mas‘ūd رضي الله عنه berkata:

اعتبروا الناس بأخدانهم، فإنما يُخالل الرجل من يُعجبه شأنه

“Nilailah manusia dari siapa yang menjadi teman dekatnya, sebab seseorang hanya bergaul dengan orang yang ia kagumi.” (Diriwayatkan oleh Ibn Abī Shaybah dalam al-Muṣannaf, no. 35895)

Ucapan para salaf ini menunjukkan bahwa kecenderungan hati seseorang selalu menuju kepada yang ia cintai dan kagumi. Karena itu, para ulama sangat berhati-hati dalam memilih siapa yang mereka jadikan panutan.

  1. Refleksi Moral dan Akhlak

Kekaguman merupakan cermin hati dan identitas rohani seseorang. Bila seseorang mengagumi ahli ilmu, ahli ibadah, dan pejuang kebenaran, maka hatinya condong kepada kebaikan. Namun bila kekagumannya tertuju kepada pelaku maksiat, selebriti yang jauh dari nilai iman, atau tokoh yang menentang agama, maka ia sedang menanam bibit kerusakan dalam jiwanya sendiri.

Maka dari itu, seorang mukmin hendaknya mengarahkan kekagumannya hanya kepada orang-orang yang diridhai Allah: para Nabi, sahabat, ulama, dan orang saleh.

  1. Kekaguman menunjukkan arah hati dan nilai diri seseorang.
  2. Al-Qur’an dan Sunnah menuntun agar seorang mukmin hanya mencintai dan mengagumi orang-orang saleh.
  3. Ulama salaf menegaskan bahwa akhlak dan pemikiran seseorang akan mengikuti arah kekagumannya.

Karena itu, hendaklah seorang muslim berhati-hati dalam menentukan siapa yang dikagumi. Sebab pada akhirnya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

المرء مع من أحبّ

“Seseorang akan dikumpulkan bersama dengan yang ia cintai.”

 

Daftar Referensi:

  1. Al-Qur’an al-Karīm, QS. At-Taubah: 119; QS. Al-Furqan: 28–29.
  2. Al-Bukhārī, aī al-Bukhārī, no. 6169.
  3. Muslim, aī Muslim, no. 2640.
  4. Abu Dawud, Sunan Abī Dāwūd, no. 4031.
  5. Ibn Abī Shaybah, al-Muannaf, no. 35895.
  6. Ibn al-Qayyim, Madarij as-Salikin, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996.
  7. Al-Hasan al-Bashri, dalam Hilyatul Auliya’, karya Abu Nu‘aim al-Aṣbahānī.

 

Tinggalkan Balasan

Search