Kuatkan Iman, Ilmu, dan Akhlak! Pesan Khotbah Iduladha dari Masjid Al Falah Citra Harmoni Sidoarjo

www.majelistabligh.id -

Suasana khusyuk dan penuh semangat menyelimuti halaman Masjid Al Falah, Perumahan Citra Harmoni, Jumat pagi (6/6). Ratusan warga dari berbagai blok perumahan tumpah ruah mengikuti Salat Iduladha 1446 H dengan khotib Ustaz Muhammad Roissudin, M.Pd dari Majelis Tabligh PWM Jatim.

Dalam khotbahnya, pria asal Nganjuk ini menyampaikan sejumlah pesan yang menohok sekaligus menginspirasi: jangan wariskan generasi lemah!

“Iduladha bukan sekadar soal kurban, tapi soal keteladanan dan keberanian menanam nilai,” tegasnya dengan suara lantang.

Mengawali khutbah, mantan Sekretaris Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Jawa Timur menggugah kesadaran jamaah dengan kutipan Surat An-Nisa ayat 9. Ayat tersebut mengingatkan agar umat tidak meninggalkan generasi yang lemah—bukan cuma lemah harta, tapi juga lemah iman, ilmu, dan akhlak.

“Kalau anak kita hanya pintar akademik tapi tak punya adab, rusak semua yang sudah dibangun!” serunya lantang.

Pengajar Al Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menyebut bahwa tantangan zaman kini bukan hanya kemiskinan, tapi krisis karakter yang menggerus fondasi umat. Orang tua dituntut lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan materi. Mereka juga harus jadi pendidik akhlak di rumah masing-masing.

Menurutnya, makna ‘generasi lemah’ dipertegas oleh tafsir Imam Nawawi yang menyebut bahwa kelemahan paling berbahaya justru terletak pada keroposnya iman dan kehilangan nilai.

“Ini peringatan serius! Jangan bangga memberikan gadget anak canggih, kalau tak kenal Al-Qur’an dan Rasulnya,” ujarnya.

Selain itu, Ia juga mengajak para jemaah untuk menjadikan rumah sebagai madrasah pertama yang mengajarkan tauhid, adab, dan kasih sayang.

Soal Akhlaq juga ia soroti. Menurutnya akhlaq juga berperan besar terhadao kualitas akhlak generasi mudanya.

“Kita tak sekadar membesarkan anak untuk kita, tapi untuk umat,” katanya penuh makna.

Momentum Iduladha, lanjutnya, harus dijadikan titik balik membentuk karakter generasi muda yang memiliki iman yang kokoh dan ketaatan yang kuat seperti teladan Nabi Ismail.

“Bayangkan, anak muda rela dikorbankan demi ketaatan kepada Allah. Ini kan luar biasa!” ucapnya, merujuk pada kisah dalam QS As-Shaffat ayat 102.

Roissudin menekankan bahwa Nabi Ibrahim adalah contoh sukses dalam mendidik anak dengan fondasi iman dan ketakwaan. “Bukan hadiah mahal yang membuat anak mulia, tapi keteladanan orang tua yang taat dan sabar,” ujarnya. Nilai-nilai ini, katanya, adalah bekal utama menghadapi zaman yang makin keras.

Di tengah derasnya arus teknologi, tantangan moral makin kompleks. Anak-anak kini lebih dekat dengan layar ketimbang kitab.

“Akhlak jadi barang langka di zaman serba digital,” ujarnya prihatin. Maka dari itu, lanjut Roissudin, peran orang tua kian vital untuk membentengi generasi dari krisis nilai.

Selain meneladani Nabi Ibrahim, Ia mengingatkan jamaah untuk menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam membina karakter generasi muda di tengah kemajuan teknologi.

“Teknologi harus jadi alat dakwah, dan meningkatkan Literasi Keilmuan, bukan alat perusak akhlak!” ucapnya.

Alumni Universitas Mpu Sindok Nganjuk ini juga menguraikan pentingnya melanjutkan gaya kepemimpinan Rasulullah SAW dengan pola melayani “Servant leader” , pemimpin yang rendah hati, demokratis, tapi tetap tegas dan transformatif.

“Beliau mendengar sebelum memutuskan, dan mendidik sebelum menghukum,” jelasnya.

Nilai-nilai ini perlu ditanamkan pada generasi muda agar lahir pemimpin masa depan yang tak hanya cerdas, tapi juga berakhlak mulia.

“Jangan cuma ajari anak jadi juara olimpiade, tapi juga jadi juara dalam menolong sesama, Juara dalam mengaji dan Ibadah ” tambahnya. Ia percaya, umat yang punya pemimpin berjiwa Rasulullah akan bangkit lebih kokoh.

Khutbah penuh semangat itu ditutup dengan doa yang menggetarkan hati. Suasana pun berubah menjadi haru ketika Roissudin memohon agar umat Islam diberikan kekuatan iman dan kesabaran dalam mendidik generasi penerus. Jamaah terlihat antusias dan terinspirasi oleh pesan yang disampaikan.

Jajaran Pengurus Takmir Masjid Al Falah Perumahan Citra Harmoni Sidoarjo mengaku senang melihat antusiasme warga.

“Ini bukan sekadar ibadah tahunan, tapi pengingat kuatnya peran orang tua dalam menjaga masa depan umat,” ujar salah satu panitia. (red/tim)

Tinggalkan Balasan

Search