Kultum Subuh Abah Shol: 5 Kekuatan Guru Muhammadiyah

Kultum Subuh Abah Shol: 5 Kekuatan Guru Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, KH. Dr. Sholihin, M.PSDM, menyampaikan bahwa pada tahun ini, Muhammadiyah telah berusia 113 tahun. Usia yang sangat tua untuk ukuran sebuah organisasi, namun Muhammadiyah tidak menua — justru semakin maju dan berkembang, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Ini artinya apa? Ini barakah! Barakah dari perjuangan ikhlas, barakah dari amal jama’i, barakah dari ketulusan para guru, kader, dan pejuang Muhammadiyah di seluruh penjuru negeri,” ujar Abah Shol saat memberikan kultum Subuh kepada para peserta Bimtek Koding dan Kecerdasan Artifisial REGION Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (18/10/2025).

Ia pun mengajak seluruh elemen di persyarikatan, khususnya para guru, untuk tidak lelah mendukung Muhammadiyah sesuai dengan peran dan porsi masing-masing.

“Kalau kita guru, maka jadilah guru Muhammadiyah yang baik,” tegasnya.

Menurut Abah Shol, menjadi guru Muhammadiyah bukan hanya sekadar mengajar di kelas, tetapi juga menjalankan misi dakwah dan tajdid. Ia menyebutkan bahwa setidaknya ada empat hal yang harus dimaksimalkan oleh setiap guru Muhammadiyah:

  • Administrasi kelas — harus tertib, rapi, dan profesional.
  • Memotivasi — membangkitkan semangat belajar dan ibadah siswa.
  • Mengkolaborasi — bekerja sama dengan sesama guru, orang tua, dan siswa.
  • Menginspirasi — menjadi teladan dalam doa, akhlak, dan ibadah.

Ia pun mengutip pesan bijak Ki Hadjar Dewantara, yang menurutnya sangat selaras dengan spirit Islam dan gerakan Muhammadiyah:

Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan,” jelasnya.

Lima Kekuatan Utama Guru Muhammadiyah

Untuk menjalankan peran penting tersebut, menurut Abah Shol, guru Muhammadiyah memiliki lima kekuatan utama:

1. Ruhul Jihad

“Guru Muhammadiyah harus punya semangat perjuangan. Mengajar bukan sekadar profesi, tapi jihad fi sabilillah. Menghadirkan ilmu adalah perjuangan melawan kebodohan dan kemalasan. Maka jadikan setiap pelajaran yang kita sampaikan sebagai bagian dari perjuangan menegakkan agama dan kemajuan umat,” jelasnya.

2. Ruhul Islam

“Ruh Islam adalah jiwa keislaman yang menghidupkan seluruh aktivitas. Guru Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan ilmu umum, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam. Setiap tindakan, ucapan, dan niatnya harus mencerminkan Islam yang berkemajuan — Islam yang mencerahkan dan menuntun ke arah kebaikan dunia dan akhirat,” ujarnya.

3. Ideologi Muhammadiyah dan Janji Pelajar Muhammadiyah

“Guru Muhammadiyah harus memahami dan menjiwai ideologi Muhammadiyah. Di dalamnya ada nilai tauhid, amar ma’ruf nahi munkar, dan tajdid. Janji Pelajar Muhammadiyah juga perlu kita hidupkan kembali — agar siswa kita menjadi generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia, serta siap melanjutkan perjuangan persyarikatan,” paparnya.

4. Militansi

“Guru Muhammadiyah dikenal tangguh, istiqamah, dan pantang menyerah. Dalam kondisi apa pun — fasilitas terbatas, murid sedikit, gaji belum seberapa — guru tetap berdiri teguh dan bekerja dengan semangat. Karena yang dijaga bukan sekadar pekerjaan, tapi amanah dakwah dan pendidikan umat,” katanya.

5. Keikhlasan

“Inilah kekuatan terbesar. Tanpa keikhlasan, semua amal akan kehilangan ruhnya. Guru Muhammadiyah bekerja bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ingin mendapat ridha Allah. Keikhlasan membuat pekerjaan ringan, membuat hati tenang, dan membuat semua langkah penuh keberkahan,” tegas Abah Shol.

Di akhir kultumnya, Abah Shol mengajak semua guru untuk terus memperkuat lima kekuatan utama tersebut dalam diri mereka.

“Semoga dengan ruhul jihad, ruhul Islam, ideologi Muhammadiyah, militansi, dan keikhlasan, kita semua mampu menjadi guru penggerak peradaban, yang bukan hanya mencerdaskan otak, tapi juga menyentuh hati dan menumbuhkan iman,” pungkasnya.

Ia pun menegaskan keyakinannya akan nilai luhur profesi guru:

“Mengajar itu perintah Allah, akan ditolong oleh Allah, akan dibalas oleh Allah, dan akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah,” tutupnya dengan penuh haru dan semangat. (pujiono)

Tinggalkan Balasan

Search