Kunjungan Pagi Penuh Makna: Wakil Ketua PWM Jatim Apresiasi Ketangguhan Sekolah Kreatif Baratajaya

Kunjungan Pagi Penuh Makna: Wakil Ketua PWM Jatim Apresiasi Ketangguhan Sekolah Kreatif Baratajaya
www.majelistabligh.id -

Selasa (3/2/2026) pagi, suasana cerah seolah menjadi pertanda baik bagi Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Tanpa agenda resmi yang diumumkan sebelumnya, hadir sosok penting dalam dunia pendidikan Muhammadiyah, Dr. HM Solihin Fanani, MP.SDM, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Kunjungan mendadak ini menjadi kejutan sekaligus kebahagiaan tersendiri bagi keluarga besar Sekolah Kreatif Baratajaya.

Dr. Solihin Fanani bukanlah nama asing dalam pengembangan sumber daya manusia dan sekolah unggulan Muhammadiyah. Ia kerap dipercaya menjadi narasumber Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, khususnya dalam isu penguatan SDM pendidik dan transformasi sekolah.

Kehadirannya di Sekolah Kreatif Baratajaya mencerminkan kepedulian nyata PWM Jawa Timur terhadap model pendidikan kreatif yang terus tumbuh dan relevan dengan perubahan zaman.

Kedatangan Dr. Solihin Fanani disambut langsung oleh Heru Tjahyono, Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS) sekaligus penggagas Sekolah Kreatif Indonesia. Sambutan itu terasa sangat hangat, bukan sekadar relasi struktural, melainkan pertemuan dua sahabat lama yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan pendidikan.

Dr. Solihin mengawali kariernya sebagai guru di SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat), sekolah yang pada masanya juga menjadi tempat Heru Tjahyono mengabdi dan berjuang menghidupkan inovasi pendidikan.

“Lama tidak ke sini, sudah banyak perubahan. Alhamdulillah, Pak Heru,” ucap Dr. Solihin dengan nada kagum dan penuh semangat saat menuruni tangga sekolah.

Pernyataan singkat itu bukan basa-basi. Secara faktual, Sekolah Kreatif Baratajaya mengalami transformasi signifikan, baik dari sisi manajemen, budaya belajar, maupun pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada karakter dan kreativitas siswa.

Dalam perbincangan santai namun bermakna, Solihin mengungkapkan, ia secara konsisten mengikuti perkembangan Sekolah Kreatif melalui berbagai rilis dan pemberitaan. Salah satu momen yang paling membahagiakannya adalah pelaksanaan Silaturrahim Nasional (Silatnas) ke- VI Sekolah Kreatif di Madiun beberapa waktu lalu.

“Saya mengikuti setiap press release Sekolah Kreatif. Yang membuat saya bahagia, kemarin saat Silatnas di Madiun ternyata sudah ada 30 Sekolah Kreatif di seluruh Indonesia, dan dari laporan yang saya baca, semuanya berkembang dengan sangat baik,” ungkapnya. Fakta ini menunjukkan bahwa Sekolah Kreatif bukan sekadar konsep, melainkan gerakan pendidikan yang teruji dan berkelanjutan.

Heru Tjahyono menyambut pernyataan tersebut dengan penuh rasa syukur. Ia menegaskan, capaian Sekolah Kreatif hari ini tidak lepas dari dukungan para tokoh Muhammadiyah di masa lalu, termasuk Dr. Solihin Fanani.

“Alhamdulillah, Pak Solihin. Semua ini juga berkat dukungan jenengan dulu. Kita pernah membangun sekolah yang hampir tutup. Kalau waktu itu tidak ada dukungan dari Kepala Sekolah Mudipat, tentu sangat sulit bagi kami untuk berkembang,” ujar Babe Heru, sapaan akrab Heru Tjahyono dengan nada bercanda namun sarat makna historis.

Atensi Dr. Solihin terhadap Sekolah Kreatif Baratajaya terlihat dari kekagumannya pada konsistensi misi growth mindset yang diusung Heru Tjahyono. Ia bahkan mengungkapkan keheranannya dengan gaya santai “Saya heran, sekolah kreatifnya Pak Heru kok tetap ‘penak’ terus. Kurikulum gonta-ganti, tapi sekolah ini tetap survive.”

Pernyataan ini mencerminkan fakta, banyak sekolah terguncang saat terjadi perubahan kebijakan kurikulum nasional, sementara Sekolah Kreatif justru mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Menanggapi hal tersebut, Heru Tjahyono menjelaskan, sejak awal berdiri, Sekolah Kreatif tidak bergantung pada kurikulum semata, melainkan pada filosofi belajar. “Model pembelajaran yang kami terapkan berbasis Integrated Learning dan Contextual Teaching and Learning (CTL). Guru-guru kami bekali dengan growth mindset, dan kami tekankan bahwa sekolah kreatif harus selalu dinamis, selalu ada pembaruan,” jelasnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa kekuatan Sekolah Kreatif terletak pada SDM dan budaya inovasi, bukan sekadar perangkat administrasi.

Obrolan hangat itu berlanjut dengan berkeliling halaman sekolah, memperlihatkan suasana belajar yang hidup dan lingkungan yang ramah anak. Dr. Solihin menegaskan keyakinannya bahwa Sekolah Kreatif akan terus relevan dengan perkembangan zaman, apa pun kebijakan kurikulum yang berlaku.

Hal ini menjadi bukti bahwa perjuangan panjang Heru Tjahyono bersama Ahmad Zaini dan Ismadi Reti sejak tahun 2002 kini berbuah manis. Jauh sebelum istilah growth mindset populer, ketiganya telah mempraktikkan nilai tersebut dalam perjuangan nyata, menghadapi tantangan, penolakan, dan keterbatasan.

Kini, Sekolah Kreatif bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh sebagai model pendidikan alternatif yang inspiratif. Kunjungan Dr. H. M. Solihin Fanani pagi itu menjadi penegasan bahwa kerja keras, konsistensi visi, dan keberanian berinovasi adalah fondasi utama pendidikan yang berkemajuan. (ahmad mahmudi)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search