*) Oleh: Muhammad Nashihudin, MSi
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
Rasulullah Saw bersabda: ” Barangsiapa yang darah dagingnya tumbuh dari hasil yang haram (curang) maka nerakalah yang paling pantas baginya .
( HR.Tirmidzi).
Mengurangi timbangan dianggap hal yang wajar dan dalam bisnis, namun demikian itu adalah perbuatan tercela, hina yang mana pelakunya akan tersisih dan dianggap berhianat dalam berbisnis.
Orang orang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi dan orang-orang saleh di surga nanti.
Hasil yang halal akan menentramkan dan berkah, sedangkan dari prilaku curang akan merendahkan diri, mencelakai keluarga Bangsa dan negara.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَيٰقَوْمِ اَوْفُوا الْمِكْيَا لَ وَا لْمِيْزَا نَ بِا لْقِسْطِ وَلَا تَبْخَسُوا النَّا سَ اَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَ رْضِ مُفْسِدِيْنَ
“Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di Bumi dengan berbuat kerusakan.”
بَقِيَّتُ اللّٰهِ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ۚ وَمَاۤ اَنَاۡ عَلَيْكُمْ بِحَفِيْظٍ
“Sisa (yang halal) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.””
(QS. Hud 11: Ayat 85-86)
Kaum Madyan ummatnya kaum nabi Syuaib AS dikisahkan sebagai kelompok orang yang suka berlaku curang dalam menimbang dan menakar. Kecurangan mereka itu diabadikan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an Surat Al An Aa’m surat Al Araf dan surat Hud dengan hukuman yang sangat berat yaitu mereka dikirim badai dan gempa bumi sehingga mereka mati bergelimpangan di jalanan.
Berlaku curang dalam timbangan dan takaran dalam berniaga adalah kebiasaan orang orang yang tidak jujur karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar.
Jadilah orang orang yang jujur dan bertanggung jawab walaupun hanya sedikit mendapatkan keuntungan sedikit yang penting halal dan berkah.
Mentadabburi ayat ayat berikut ini agar menjadi manusia yang jujur dan amanah.
1. Perintah untuk berniaga yang jujur dan saling meridhoi
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَا لَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِا لْبَا طِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً عَنْ تَرَا ضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ بِكُمْ رَحِيْمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”
وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ عُدْوَا نًا وَّظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَا رًا ۗ وَكَا نَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا
“Dan barang siapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 29-30)
2. Kisah Kaum Madyan yang suka mengurangi timbangan
وَاِ لٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَا لَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَـكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗ قَدْ جَآءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَ وْفُوا الْكَيْلَ وَا لْمِيْزَا نَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّا سَ اَشْيَآءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَ رْضِ بَعْدَ اِصْلَا حِهَا ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu’aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di Bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 85 -91)
3 Perintah untuk berlaku lurus dalam takaran
وَاَ قِيْمُوا الْوَزْنَ بِا لْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَا نَ
“Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 9)
4. Celaka para pengumpat dan pencela
وَيْلٌ لِّـكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela,”
ٱلَّذِيْ جَمَعَ مَا لًا وَّعَدَّدَهٗ
“yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,”
يَحْسَبُ اَنَّ مَا لَهٗۤ اَخْلَدَهٗ
“dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.”
(QS. Al-Humazah 104: Ayat 1-3)
