Di tengah gempuran era digital yang seringkali menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai spiritual, sebuah kolaborasi inspiratif lahir di sudut Kota Malang. Masjid Baiturrahmah Sawojajar mendadak riuh dengan keceriaan anak-anak pada Ahad (18/1/2026). Bukan sekadar berkumpul untuk ibadah ritual, mereka hadir untuk menyelami dunia literasi dalam balutan pembinaan karakter yang hangat.
Inisiasi ini digerakkan oleh kolaborasi tiga pilar: Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Abdul Malik Fadjar, pengurus Masjid Baiturrahmah, serta para santri dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF).
Melalui kegiatan ini, masjid tidak lagi dipandang sebagai tempat yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi laboratorium pendidikan yang menyenangkan bagi anak-anak.
Fokus utama dari agenda ini adalah menanamkan adab dan akhlak sejak dini. Panitia menyadari bahwa mendidik anak-anak membutuhkan metode yang luwes. Alih-alih ceramah satu arah, materi disampaikan lewat rangkaian aktivitas kreatif seperti mendongeng, permainan edukatif yang menstimulasi logika, hingga berbagai simulasi karakter yang disesuaikan dengan jenjang usia peserta.
Manda Danastri, selaku Koordinator Program RBC Institute AMF, memandang langkah ini sebagai ikhtiar mendesak di tengah ketergantungan anak terhadap gawai. “Masjid harus hadir sebagai alternatif ruang publik yang aman dan edukatif,” ujarnya.
Manda menekankan bahwa literasi dan pembinaan akhlak adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan agar anak-anak merasa memiliki kedekatan emosional dengan masjid hingga mereka dewasa nanti.
Satu hal yang menarik adalah pelibatan pelajar dari Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) PPI-AMF sebagai relawan lapangan. Kehadiran “Mobil Baca” milik RBC Institute menjadi magnet tersendiri.
Di sana, para santri muda mendampingi adik-adik mereka mengeksplorasi ribuan judul buku, mulai dari buku cerita bergambar hingga literatur agama yang ringan.
Azhar Izzudin, Ketua Umum PR IPM PPI-AMF, menceritakan pengalamannya dalam aksi sosial ini.
Baginya, keterlibatan para pelajar adalah bentuk nyata kontribusi kepada masyarakat.
Azhar mengisahkan bagaimana para relawan harus jeli memahami karakter tiap anak saat membacakan buku atau menjawab pertanyaan-pertanyaan polos tentang ilustrasi yang mereka lihat. Interaksi dua arah inilah yang kemudian menumbuhkan minat baca secara organik.
Membangun Peradaban dari Serambi Masjid
Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan penuh ibu-ibu jamaah Masjid Baiturrahmah.
Sinergi antara komunitas literasi, lembaga pendidikan, dan takmir masjid menciptakan sebuah ekosistem belajar yang berkelanjutan.
Ada kekhawatiran umum bahwa anak-anak seringkali rajin ke masjid saat kecil namun perlahan menjauh saat menginjak usia remaja. Program ini dirancang khusus untuk memutus rantai tersebut.
Dengan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan literasi, diharapkan anak-anak di Kota Malang tidak hanya cerdas secara intelektual melalui hobi membaca, tetapi juga memiliki akar moral yang kuat.
Kolaborasi ini menjadi pesan kuat bahwa pendidikan karakter terbaik dimulai dari tempat yang paling dekat dengan hati masyarakat yakni Masjid. (abdul fatah)
