Lebaran dalam Bayang-Bayang

*) Oleh : Agus Wahyudi
www.majelistabligh.id -

***

Setelah panggilan berakhir, Marwan tak langsung masuk. Ia duduk lebih lama di teras. Membiarkan angin malam menyentuh pipinya.

Perlahan, kenangan lama muncul di pelupuk mata. Saat orang tua mereka masih ada. Saat rumah ini tak pernah sepi.

Ia membayangkan ibunya. Mengenakan kebaya sederhana dan apron lusuh. Berdiri di dapur dengan wajan besar berisi sambal goreng hati.

Suaranya lantang, tapi hangat. “Yuni, jangan ngintip kue nastar! Belum matang!”

Yuni kecil tertawa dan berlari ke ruang tamu. Pipinya penuh bedak. Baju barunya masih kaku karena disetrika.

Di ruang tengah, ayah duduk melipat sajadah. Tertawa melihat Firdaus dan Arika bermain kejar-kejaran.

“Hayo, kalau baju lebaran robek, salat Id-nya pakai sarung doang, lho!” gertaknya. Semua anak tertawa.

Marwan muda, seperti biasa, yang paling sibuk. Membantu ayah menggantung lampu. Menata kursi. Menyusun toples kue. Tapi ia selalu sempat duduk di dekat ibu. Mendengar kisah masa kecilnya.

“Yang penting bukan makanan atau baju baru, Wan,” kata ibunya, sambil mengaduk opor. “Yang penting semua ngumpul. Satu rumah, satu doa, satu hati.”

Kalimat itu terus terpatri. Justru kalimat itu yang membuat hatinya perih saat rumah ini sunyi di Hari Fitri.

Ia menatap lampu gantung. Kini mulai meredup dimakan usia. Lampu itu dulu dipasang ayahnya sendiri. Menyala terang setiap malam Lebaran. Menjadi tanda, rumah ini adalah tempat untuk kembali.

Marwan menghela napas. Pelan namun panjang. Ia masuk ke dalam. Menyusuri ruang-ruang yang dulu dipenuhi tawa. Ia berhenti di ruang keluarga. Menatap foto besar kedua orang tuanya di dinding.

“Ibu, Bapak… semoga kalian tenang di sana. Anak-anakmu belum semua pulang. Tapi aku akan jaga rumah ini. Seperti yang kalian ajarkan. Rumah ini bukan cuma bangunan. Tapi tempat hati saling menemukan jalan pulang.”

Ia menyentuh bingkai foto itu. Seolah ingin merasakan kehangatan yang dulu nyata.

Malam itu, meski rumah masih sunyi, hati Marwan tak lagi sepenuhnya kosong. Ia tahu, kenangan yang hangat bisa jadi cahaya. Dan harapan yang dirajut, suatu hari akan menghidupkan kembali suara-suara yang hilang.

Tinggalkan Balasan

Search