***
Beberapa hari setelah Lebaran, rumah Marwan kembali seperti biasa. Sepi. Pelan-pelan ditinggal waktu.
Hanya bekas tapak sandal di depan pintu. Dan sisa ketupat di kulkas. Itu penanda bahwa Hari Raya pernah lewat di sana.
Marwan duduk di ruang tengah. Menyentuh album lama yang mulai menguning. Di sana, wajah-wajah bahagia masih tersimpan. Adik-adik yang kecil. Ibu yang tersenyum sabar. Ayah yang tampak bangga.
Namun yang membuat dadanya sesak bukan sekadar rindu. Tapi sebuah kesadaran pahit: manusia mudah lupa.
Lupa bahwa waktu terus berjalan.
Lupa bahwa pertemuan tak dijamin akan selalu ada.
Lupa bahwa tangan yang bisa diraih hari ini, mungkin esok hanya tinggal kenangan.
“Dulu kita rebutan duduk di pangkuan Bapak malam takbiran,” gumam Marwan. “Sekarang… bahkan menengok rumah ini pun banyak alasan.”
Ia berdiri. Melangkah ke sudut rumah. Tempat ayahnya biasa duduk membaca Al-Qur’an. Di sana masih tergulung sajadah tua. Di rak kecil, ada kitab usang dengan tulisan tangan ibu: sebuah puisi keluarga.
Keluarga adalah tali,
yang jika tak dijaga, akan putus perlahan,
bukan karena kebencian,
tapi karena keengganan untuk mendekat kembali.
Marwan membacanya berulang kali. Hatinya diremas. Begitulah manusia. Tak perlu musuh untuk terpisah. Cukup waktu, kesibukan, dan sedikit rasa enggan… maka yang dekat pun bisa jauh.
Ia teringat satu momen kecil, tapi bermakna. Saat Lebaran, ibunya pernah berkata:
“Kamu tahu, Wan… silaturahmi itu bukan sekadar datang dan salaman. Itu cara kita menjaga nyawa keluarga tetap hidup. Tanpa itu, kita cuma orang asing yang kebetulan punya nama belakang yang sama.”
Kini, kalimat itu terdengar seperti peringatan. Dan pelan-pelan, sedang jadi kenyataan.
Marwan menatap ponselnya. Pesan dari adik-adiknya masih tersimpan. Dia membacanya lagi. Bukan untuk marah. Tapi untuk mengingatkan diri sendiri: jika ia ikut diam, luka ini tak akan sembuh. (*)
