Lebaran, Saatnya Orang Tua Menerapkan “Sekolah Tanpa Dinding dan Buku”

Lebaran, Saatnya Orang Tua Menerapkan "Sekolah Tanpa Dinding dan Buku"
*) Oleh : Imam Sapari, S.H.I., M.Pd.I.
Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya & Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya
www.majelistabligh.id -

Dunia pendidikan hari ini sering kali terjebak dalam sekat-sekat ruang kelas dan tumpukan teks kurikulum. Namun, saat gema takbir berkumandang, semesta seolah membuka pintu sebuah sekolah raksasa yang jauh lebih hidup. Inilah momen di mana orang tua mengambil alih peran sebagai “Kepala Sekolah” dalam institusi terkecil bernama keluarga, menerapkan sebuah konsep pendidikan yang sangat esensial yakni “Sekolah Tanpa Dinding dan Buku”.

Dalam pandangan teologis, pendidikan karakter melalui interaksi sosial adalah perintah yang nyata. Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak menjadi pribadi yang eksklusif dan kaku:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبائلَ لِتَعَارَفُوا
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13)

Berikut adalah kurikulum nyata yang bisa kita terapkan melalui contoh praktik riil di hari fitri:
1. Praktik Literasi Budaya dan Kewargaan
Anak belajar memahami keberagaman dan cara memposisikan diri di tengah struktur sosial keluarga besar. Misal, Saat berkunjung ke rumah kerabat yang kondisi ekonominya berbeda, ajarkan anak untuk tidak membanding-bandingkan fasilitas rumah atau makanan.

Hal ini orang tua dapat mengimplementasikan, yakni Sebelum masuk rumah, katakan pada anak,
“Nanti di dalam, apa pun suguhannya, kita puji dengan wajah happy ya. Kalau rumahnya sederhana, kita tetap hargai kebersihannya. Itu cara kita memuliakan tuan rumah.”

2. Laboratorium Adab dan Etika Interaksi
Tanpa perlu mencatat teori di buku tulis, anak langsung mempraktikkan penghormatan kepada yang lebih tua. Rasulullah SAW bersabda:
مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada adab yang baik.” (HR. Tirmidzi)
Misal, Cara bersalaman dan mencium tangan kakek atau nenek. Orang tua dapat mengajarkan kepada anak untuk sedikit membungkukkan badan saat berjalan di depan orang tua yang sedang duduk. Latih mereka untuk tidak memotong pembicaraan orang tua, melainkan menunggu jeda jika ingin menyampaikan sesuatu.

3. Ujian “Digital Detox” dan Komunikasi Empati
Lebaran melatih anak untuk hadir secara utuh (mindful), menatap mata lawan bicara, dan merasakan hangatnya silaturahmi. Hal ini bisa dengan meletakkan ponsel di dalam tas selama sesi makan bersama atau saat berbincang dengan keluarga besar.

Orang tua bisa membuat kesepakatan Bersama keluarga:
“Di rumah Mbah, pak dhe atau om, HP nanti kita simpan di mobil atau tas ya. Kita fokus ngobrol ya. Jika ada saudara sepupu yang mengajak main game, arahkan mereka untuk bermain permainan tradisional atau sekadar bercerita pengalaman di sekolah”.

4. Manajemen Keinginan dan Rasa Syukur
Melatih anak mengelola antusiasme terhadap hidangan dan pemberian (amplop lebaran). Bisa dipraktikkan dengan adab saat mengambil kue lebaran atau menerima uang fitrah. Ajarkan anak kita untuk mengambil makanan yang paling dekat dengannya terlebih dahulu. Jika menerima amplop, latih mereka untuk langsung memasukkannya ke saku tanpa membukanya di depan pemberi, lalu ucapkan doa:
“Jazakallahu khairan atau matur nuwun, semoga rezeki paman lancer, sukses dan berkah, aamiin.”

5. Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan (Uswah)
Pelajaran “Birrul Walidain” meresap ke dalam jiwa anak melalui apa yang mereka lihat, bukan apa yang mereka dengar. Dalam hal ini, Anak melihat ayahnya melayani kakeknya mengambilkan minum atau memijat kakinya. Sebagai contoh, Saat berpamitan pulang, tunjukkan pada anak bagaimana kita memeluk dan meminta maaf dengan tulus kepada orang tua kita. Anak akan merekam bahwa menghormati orang tua adalah sebuah kemuliaan, bukan beban.

Merayakan Kelulusan Karakter
Jika di sekolah formal kita mengejar nilai akademik, maka di “Sekolah Lebaran” ini, indikator kelulusannya adalah sejauh mana anak kita mampu menjadi pribadi yang santun, peduli, dan menghargai sesama.

Sebagai orang tua sekaligus pendidik, mari kita sadari bahwa momen Idulfitri adalah kesempatan emas untuk memanen hasil didikan kita selama setahun. Biarkan anak-anak kita belajar dari kehidupan, belajar dari senyuman para sesepuh, dan belajar dari ketulusan saling memaafkan.

Selamat menjadi orang tua yang hebat di “Sekolah Tanpa Dinding” di keluarga Anda. Selamat merayakan hari yang fitri dengan akhlaq yang qur’ani. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search