Lelah Berangkat Pengajian, Tapi Malah Panen Dosa? Waspada Jebakan Ini!

Lelah Berangkat Pengajian, Tapi Malah Panen Dosa? Waspada Jebakan Ini!
*) Oleh : Ima Luthfiningrum
Anggota MTK PDA SIDOARJO
www.majelistabligh.id -

Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga, satu fenomena yang patut kita syukuri adalah tingginya antusiasme kaum muslimah, khususnya ibu-ibu, dalam menghidupkan majelis taklim. Semangat “ngaji” ini seolah telah menjadi tradisi positif yang tak lekang oleh zaman.

Namun, di balik kerudung dan langkah kaki menuju masjid, tersimpan sebuah pertanyaan reflektif yang mengusik: Apakah kehadiran kita di sana benar-benar sedang memanen pahala, atau justru tanpa sadar sedang menanam dosa?

Warisan Semangat Para Shahabiyah
Tingginya minat wanita dalam menuntut ilmu bukanlah hal baru. Ini adalah warisan mulia dari para Shahabiyah (sahabat wanita nabi). Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, dikisahkan bahwa kaum wanita di zaman Nabi Muhammad SAW merasa cemburu kepada kaum lelaki yang setiap hari bisa menyerap ilmu langsung dari lisan beliau.

Mereka pun memberanikan diri meminta waktu khusus:
عن أبي سعيد جأت إمرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت يا رسول الله ذهب الرجال بحديثك، فاجعل لنا من نفسك،يوما نأتيك فيه تعلمنا مما علمك الله. فقال 《اجتمعن فى يوم كذا وكذا فى مكان كذا وكذا 》.فاجتمعن فأتاهن رسول الله صلى الله عليه وسلم فعلمهن مما علمه الله.
“Wahai Rasulullah, kaum lelaki telah mendapatkan haditsmu. Harap Anda bersedia membagi waktu untuk kami, satu hari di mana kami bisa mendatangimu dan Engkau mengajarkan apa yang Allah ajarkan padamu.” Rasulullah SAW pun mengabulkan permintaan tersebut.

Hal ini menegaskan bahwa bagi seorang ibu, mengaji adalah kebutuhan pokok. Ibu adalah Al-Madrasatul Ula (sekolah pertama). Seorang ibu yang rajin mengaji akan memiliki bekal ilmu untuk mendidik jiwa dan raga anak-anaknya. Sebaliknya, sesuai pepatah Arab: Faaqidu sya’i laa yu’thi orang yang tidak punya apa-apa, tidak mungkin bisa memberi.

Keutamaan yang Menjanjikan
Setiap langkah menuju majelis ilmu adalah langkah menuju surga. Rasulullah SAW bersabda:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له بها طريقا إلى الجنة
Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Bukhari)

Waspada “Program” Perusak Setan

Di mana ada kebaikan, di situ setan bekerja keras untuk merusaknya. Mencari ilmu adalah jalan fisabilillah, dan program utama setan adalah yashuddu ‘annas ‘an sabilillah (menghalangi manusia dari jalan Allah).

Setan masuk melalui celah-celah yang halus untuk mengubah pengajian menjadi ladang dosa melalui:
1. Niat yang “Terbonceng” Benalu: Datang ke pengajian bukan untuk mencari ridha Allah, melainkan untuk memamerkan kesuksesan suami, perhiasan, atau sekadar ajang tebar pesona.
2. Polusi Suara dan Ghibah: Majelis yang seharusnya khusyuk sering kali berubah menjadi ajang “curcol” atau ghibah. Alih-alih mendengarkan ustadz, audiens justru asyik mengobrol sendiri.
3. Ilmu yang Tidak Terikat: Banyak jamaah yang datang tanpa alat tulis. Padahal, ilmu ibarat hewan buruan yang liar. Tanpa dicatat (diikat), ilmu tersebut akan hilang begitu saja saat keluar dari pintu masjid.

Indikasi Kebaikan dari Allah
Jika niat sudah tidak ikhlas, lisan penuh ghibah, dan materi pengajian tidak dicatat apalagi diamalkan, maka pupuslah pahala yang dijanjikan. Pengajian yang awalnya kebun pahala, bisa berubah menjadi aktivitas sia-sia yang justru sukses menjalankan program setan.

Mari kita ingat kembali bahwa mencari ilmu adalah indikasi pertama dari proses perbaikan diri seseorang. Langkah kaki kita menuju pengajian adalah tanda bahwa Allah sedang memperhatikan kita. Bukankah Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan agamanya (Islam).” (HR. Bukhari & Muslim)

Mari luruskan niat, jaga adab, dan ikatlah ilmu dengan tulisan. Semoga setiap majelis yang kita datangi benar-benar menjadi kebun pahala yang menghantarkan kita ke jannah-Nya. Wallahu a’lam bish-shawabi.

Tinggalkan Balasan

Search