Manusia seringkali terjebak dalam sikap tergesa-gesa, ingin segera mendapatkan keuntungan, kekuasaan, atau kepuasan duniawi, tanpa memikirkan dampak jangka panjang, baik bagi masyarakat maupun dirinya sendiri di akhirat.
Islam mengajarkan prinsip yang sangat dalam: sebelum kita melakukan sesuatu, renungkanlah bagaimana perbuatan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Allah berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A‘raf [7]: 56)
Refleksi dari Kitab Kecil yang Mengena
Judul ungkapan di atas ternyata bukan sekadar kalimat reflektif, melainkan juga diangkat menjadi sebuah risalah kecil berjudul إقرأ مصيرك قبل أن تفجر (Bacalah Nasib Akhirmu Sebelum Engkau Meledak) karya Khalid bin Ali al-‘Anbarī, diterbitkan di Yordania tahun 2008.[1]
Kitab ini menyoroti fenomena anarkis dan tindakan yang merusak yang disebabkan oleh nafsu amarah, ideologi yang salah, dan kerakusan.
Pesannya sederhana tetapi mendalam: lihatlah tempatmu kelak di akhirat sebelum melakukan kerusakan di dunia.
Kitab ini sangat relevan dengan kondisi di Indonesia saat ini. Kita menyaksikan:
- Pertarungan politik yang sering melupakan adab dan amanah,
- Kerusakan sosial yang lahir dari ujaran kebencian dan fitnah,
- Kerusakan lingkungan akibat kerakusan ekonomi.
Dari paparan di atas mengidentifikasikan bahwa manusia cenderung untuk melakukan hal hal yang destruktif tanpa mempertimbangkan iman mereka.
Peringatan Rasulullah ﷺ
Islam sejak awal telah memperingatkan bahaya kerusakan akibat nafsu manusia.
Tentang kepemimpinan sebagai amanah:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ … «يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»
Dari Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu adalah orang yang lemah. Padahal, amanah itu kelak akan menjadi sumber kehinaan dan penyesalan di hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya.” (HR. Muslim no. 1825)[2]
Tentang menjaga lisan dan tangan dari menyakiti orang lain:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»
“Seorang Muslim adalah orang yang membuat orang lain Muslim aman dari lidah dan tangannya. (HR. Bukhari no. 10, Muslim no. 40)[3]
Tentang kecerdasan sejati:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ…»
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. (HR. Tirmidzi no. 2459, hasan).[4]
Pesan Moral
Kitab إقرأ مصيرك قبل أن تفجر sejatinya ingin mengingatkan kita: sebelum berbuat sesuatu, tanyakan dahulu apakah perbuatan itu akan menyelamatkan kita di akhirat, atau justru mencelakakan.
Inilah hal yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia karena setiap tindakan mereka akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh tujuan politik, keinginan duniawi, atau kemarahan sesaat.
Jika para pemimpin, ulama, guru, dan masyarakat mau menimbang “tempat mereka di akhirat” sebelum bertindak, niscaya bangsa ini akan lebih damai, adil, dan penuh keberkahan.
Mari kita jadikan pesan kitab kecil ini sebagai cermin: Lihatlah akhiratmu sebelum engkau meledak di dunia.
- [1] Khalid bin Ali bin Muḥammad al-‘Anbarī, إقرأ مصيرك قبل أن تفجر, (Yordania: Al-Dār al-Aṯariyyah li al-Nashr wa al-Tawzī‘, 2008).
- [2] Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, t.t.), no. 1825.
- [3] Muḥammad bin Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, (Kairo: al-Maṭba‘ah al-Salafiyyah, 1400 H), no. 10; Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 40.
- [4] Muḥammad bin ‘Īsā al-Tirmiżī, Sunan al-Tirmiżī, (Beirut: Dār al-Gharb al-Islāmī, 1998), no. 2459.
