Lima Pesan Jibril Alaihissalam

Lima Pesan Jibril Alaihissalam
*) Oleh : Muhammad Nashihudin, MSi
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

3. Harapan untuk mendapatkan rida dan kenikmatan di akhirat

اَلْمَا لُ وَ الْبَـنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَا لْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَا بًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 46)

4. Lima pesan Jibril alaihissalam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ، وَعِزِّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

1. Hiduplah sesukamu! Tapi ketahuilah, Bahwasanya engkau pasti akan menjadi mayat!

2. Berbuatlah sesukamu! Tapi ketahuilah, engkau pasti akan menuai balasannya!

3. Cintailah siapa saja yang engkau sukai!, Tapi ketahuilah, engkau pasti akan berpisah dengannya!

4. Ketahuilah! Kemuliaan seorang mukmin adalah saat ia mampu melakukan qiyamul lail (shalat malam)!”

5. Kehormataan seorang mukmin adalah saat ia bisa hidup tanpa belas kasihan manusia!”

(HR. at-Tobaroni dalam al-Ausath no. 4278, al-Hakim dalam Mustadrok no. 7921. Al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Silsilah al-Ahadits as-Shahihah no. 831 dan Shahihul Jami’ no. 73.)

5. Berbekallah demi kehidupan di akhirat

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)

6. Kajian Tafsir Ibnu Katsir tentang mengingatkan waktu
Al-‘Asr, ayat 1-3
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.

Al-Asr artinya zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan baik dan buruk. Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam bahwa makna yang dimaksud adalah waktu asar.

Tetapi pendapat yang terkenal adalah yang pertama. Allah (Subhanahu wa Ta’ala) bersumpah dengan menyebutkan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, yakni rugi dan binasa.

{إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ}

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (Al-‘Asr:3)

Maka dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan anggota tubuhnya mengerjakan amal-amal yang saleh.

{وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ}

dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran. (Al-‘Asr: 3)

Yakni menunaikan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

{وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}

dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (A1-‘Asr: 3)

Yaitu tabah menghadapi musibah dan malapetaka serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemungkaran.

Demikianlah akhir tafsir surat Al-‘Asr, segala puji bagi Allah (Subhanahu wa Ta’ala) atas segala karunia-Nya.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Tinggalkan Balasan

Search