Lima Tantangan Global Internasionalisasi Muhammadiyah

Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni.
www.majelistabligh.id -

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan pentingnya langkah konkrit dalam menghadapi lima tantangan global mendesak demi memperkuat agenda internasionalisasi persyarikatan.

Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, menyampaikan hal tersebut dalam acara di Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU), Medan, Selasa (22/9/2026). Menurutnya, kelima tantangan tersebut meliputi sektarianisme, pelemahan lembaga multilateral, Islamofobia, krisis iklim, hingga violent extremism.

Tantangan pertama, sektarianisme, dinilai memiliki dua sisi. Syafiq menjelaskan bahwa sektarianisme positif jika dimaknai sebagai kekayaan dinamis dalam realitas intelektual. Namun, hal itu menjadi ancaman serius apabila dipolitisasi.

“Jika dimanfaatkan untuk kepentingan di luar pemikiran intelektual atau dibingkai secara politis, isu ini justru memperparah kerenggangan ukhuwah islamiyah dan menjadi bahan bakar pertikaian di dunia Islam,” ujar Syafiq.

Tantangan kedua adalah melemahnya peran lembaga multilateral, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam menindak penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan oleh sebagian negara anggota. Ketidakberdayaan ini menuntut organisasi seperti Muhammadiyah untuk mengambil peran aktif di tingkat internasional.

Mengenai tantangan ketiga, yaitu Islamofobia, Syafiq menyoroti masih maraknya stigma buruk yang mengidentikkan Islam sebagai pembuat masalah (problem maker). Meski PBB telah menetapkan Maret sebagai Bulan Anti-Islamofobia, praktik diskriminasi dan penolakan terhadap umat Islam masih kerap terjadi di berbagai negara.

Tantangan keempat yang tak kalah krusial adalah krisis iklim. Syafiq mengingatkan bahwa ancaman ekologis dapat membuat bumi tak lagi layak huni dalam beberapa dekade mendatang. Jika tidak ada aksi nyata hari ini, masyarakat dunia sama saja mewariskan malapetaka bagi generasi mendatang.

Sebagai penutup, Syafiq menyoroti tantangan kelima, yakni ekstremisme kekerasan (violent extremism). Ia menegaskan bahwa fenomena kekerasan ini bukan isu eksklusif kelompok atau agama tertentu.

“Ekstremisme berbasis kekerasan kini menjadi gejala global yang melintasi batas agama, kawasan, dan bangsa. Ini adalah tantangan bersama bagi peradaban dunia,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search