Sebagai bentuk sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan lembaga sosial, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui program Access Scholarship 2024–2026 menggandeng Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Muhammadiyah Karangpilang Surabaya untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan keterampilan hidup para santri.
Kolaborasi ini tidak hanya memberi manfaat akademik, tetapi juga membuka wawasan global dan potensi kewirausahaan bagi anak-anak panti.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Ahad (20/7/2025) di area panti, dengan melibatkan tim dari Community Service UNESA dan peserta program Access yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa pilihan.
Mereka berinteraksi langsung dengan para santri melalui berbagai kegiatan edukatif, seperti story telling berbahasa Inggris, pelatihan hidroponik, hingga permainan edukatif bertema lingkungan dan kewirausahaan.
Kepala LKSA Panti Asuhan Muhammadiyah Karangpilang, Purnomo Adi S, menyambut baik kolaborasi ini.
Dia menyampaikan terima kasih kepada UNESA dan seluruh tim program Access atas perhatian dan kepeduliannya terhadap masa depan anak-anak panti.
“Program ini luar biasa. Anak-anak kami tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga dilatih percaya diri, kemandirian, dan keterampilan yang dapat mereka kembangkan untuk masa depan. Kami berharap kerja sama ini bisa berlanjut dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat 20 santri binaan dari tingkat SD hingga SMA yang terlibat aktif dalam program ini.
Selain peningkatan kemampuan berbahasa asing, para santri juga mendapatkan pelatihan tentang budidaya tanaman hidroponik, yang menjadi salah satu program unggulan panti sebagai bentuk penguatan ekonomi dan kemandirian santri.
Sementara itu, Dr. Arik Susanti, Koordinator Access Site Surabaya dari Fakultas Bahasa dan Seni UNESA, menjelaskan, program ini merupakan bagian dari inisiatif global yang dijalankan oleh International Indonesia Education Foundation (IIEF) dan didukung oleh Regional English Language Office (RELO) Kedutaan Besar Amerika Serikat.
“Alhamdulillah UNESA kembali dipercaya menjadi mitra pelaksana program Access Scholarship untuk wilayah Surabaya. Fokusnya adalah peningkatan kemampuan bahasa Inggris, penguatan karakter, dan keterampilan hidup. Ini adalah kesempatan emas bagi pelajar dan mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah untuk berkembang dan bahkan berkesempatan mendapatkan beasiswa ke Amerika,” ungkapnya.
Program Access UNESA tahun ini diikuti oleh 20 pelajar SMA dan 17 mahasiswa dari berbagai daerah yang telah melalui proses seleksi ketat. Di LKSA Muhammadiyah Karangpilang, para peserta Access tidak hanya belajar, tetapi juga melakukan pendampingan dan pengembangan hidroponik bersama anak-anak panti yang telah memiliki program serupa.
Antusiasme peserta terlihat dalam berbagai sesi interaksi. Salah satunya disampaikan oleh Maghfirotusyifa Aulia, pelajar dari SMA Muhammadiyah 4 Surabaya yang menjadi peserta program.
“Saya senang bisa belajar bersama teman-teman dan anak-anak panti. Kami belajar bahasa Inggris, mengenal kultur Amerika, dan sekaligus memperkaya pengetahuan tentang hidroponik. Ini menambah semangat saya untuk belajar lebih giat,” katanya.
Hal serupa diungkapkan Elsa Fazira, mahasiswa UNESA yang bercita-cita menjadi pengajar dan penerjemah. Menurutnya, program ini menantang peserta untuk kreatif dan inovatif dalam memecahkan persoalan nyata di masyarakat.
“Kami dilatih berpikir kritis dan kreatif. Mulai dari desain kota, pengembangan permainan edukatif, hingga inovasi sosial yang ramah anak dan lingkungan. Ini menjadi bekal penting menghadapi masa depan,” jelas Elsa.
Dalam program ini, peserta Access juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti tes TOEFL gratis sebanyak dua kali, dan jika berhasil menunjukkan prestasi, mereka berpeluang mendapatkan beasiswa ke luar negeri, termasuk ke Amerika Serikat.
Kolaborasi antara UNESA dan LKSA Muhammadiyah Karangpilang menjadi bukti bahwa program pendidikan bisa menyentuh kelompok rentan secara nyata dan berkelanjutan. Sinergi ini diharapkan melahirkan generasi santri yang tidak hanya religius dan mandiri, tetapi juga berdaya saing global. (andi hariyadi)
