Lokakarya Green Masjid, Menjadikan Masjid sebagai Solusi Krisis Sosial dan Lingkungan 

www.majelistabligh.id -

Suasana hangat penuh semangat memenuhi Aula Gedoeng Muhammadijah di Jl. KH Ahmad Dahlan 103, Yogyakarta, pada Rabu (28/5/2025). Para pengurus takmir dari berbagai daerah berkumpul, bukan sekadar bertukar pengalaman, tapi membawa satu misi besar: menjadikan masjid sebagai pusat solusi atas krisis lingkungan dan tantangan sosial yang kian mendesak!

Mereka hadir dalam Lokakarya Green Masjid bertajuk “Membangun Sinergi untuk Mewujudkan Masjid yang Ramah bagi Kehidupan dan Kelestarian Alam”, yang digelar oleh Eco Bhinneka Muhammadiyah bersama LPCRPM (Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid) PP Muhammadiyah.

Lokakarya Green Masjid, Menjadikan Masjid sebagai Solusi Krisis Sosial dan Lingkungan 
Peserta lokakarya Green Masjid. (foto:ist)

Masjid Bukan Hanya Tempat Ibadah, Tapi Pusat Gerakan Sosial dan Ekologis

Inisiatif ini jadi bagian dari upaya besar Muhammadiyah menjadikan masjid lebih inklusif, adaptif terhadap isu-isu zaman, dan peduli terhadap bumi. Sejalan dengan slogan LPCRPM: “Apa pun masalahnya, Masjid adalah solusinya”, masjid kini didorong menjadi poros perubahan.

Ada tiga poin utama yang jadi target lokakarya ini:

  • Bangun pemahaman tentang Green Masjid—mulai dari konservasi air, pengelolaan sampah, penghijauan, sampai energi bersih.
  • Perkuat sinergi antarpegiat masjid di seluruh daerah.
  • Susun langkah konkret yang bisa langsung diterapkan di masjid masing-masing!

Bukan Sekadar Ibadah, Masjid Harus Tangguh Hadapi Krisis

Ketua MDMC (Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah), Budi Setiawan, menekankan bahwa masjid punya peran besar dalam membangun ketangguhan masyarakat. “Dulu kami pernah latih masjid tangguh bencana bareng LPCR. Jadi masjid itu bukan cuma untuk salat, tapi juga pusat pemulihan saat krisis,” ujarnya.

Ia mengapresiasi kolaborasi Eco Bhinneka dan LPCR dalam menciptakan masjid yang bersih, aman, dan ramah lingkungan. Masjid yang nyaman fisik dan menenangkan jiwa.

Ahmad Dahlan Rais: Masjid Harus Jadi Jantung Peradaban!

Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais, mendukung penuh acara ini. Ia menegaskan bahwa masjid harus jadi pusat budaya, pendidikan, ekonomi, dan gerakan lingkungan.

“Allah sudah ingatkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41—kerusakan di bumi karena ulah manusia. Maka perbaikan harus dimulai dari kesadaran spiritual dan aksi nyata,” tegasnya. Ia pun mengingatkan kutipan Mahatma Gandhi: “Bumi ini cukup untuk semua, tapi tidak akan pernah cukup untuk keserakahan satu orang.”

Green Masjid: Dari Pedoman ke Aksi Nyata

Jamaludin Ahmad, Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah, menyebut konsep Green Masjid kini jadi bagian dari Pedoman Tata Kelola Masjid Muhammadiyah. “Masjid harus kembali hidup. Jangan hanya ramai saat salat Jumat dan tarawih, tapi sepi dari aktivitas sosial, ekonomi, dan lingkungan,” tegasnya.

Ia mendorong masjid-masjid untuk kolaborasi dengan Lazismu, Bank Indonesia, hingga LRB, guna mewujudkan masjid yang mandiri secara ekonomi dan berdaya bagi lingkungan.

Fikih Air: Wudhu Cuma 0,88 Liter, Kenapa Masjid Boros?

Ustadz Ali Yusuf dari Majelis Tarjih menyampaikan bahwa air dalam Islam punya nilai tinggi, bukan sekadar soal kebersihan. “Nabi wudhu hanya dengan satu mud, itu sekitar 0,88 liter. Artinya, ada etika dan tanggung jawab dalam pemakaian air,” ungkapnya.

Pengelolaan air di masjid harus efisien dan ramah lingkungan. Contohnya, pakai keran hemat air dan edukasi jamaah soal konservasi.

Hal ini ditegaskan Maya, pakar korporasi yang hadir. Menurutnya, konservasi air itu lintas sektor. “Masjid bisa jadi simbol keberlanjutan kalau mampu olah air wudhu, tampung air hujan, dan edukasi jamaah,” katanya.

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, membongkar hasil survei ke 12 masjid: mayoritas belum benar-benar ramah lingkungan, meski sudah punya niat. “Masih banyak yang buang air wudhu begitu saja. Padahal itu air layak konsumsi,” katanya.

Sebagai pengurus di Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah dan LLHPB ‘Aisyiyah, Hening menyerukan agar masjid jadi ruang edukasi air, pasang teknologi hemat, dan mulai tanamkan kesadaran ekologis di tengah jamaah.

“Tujuan akhirnya: masjid bukan cuma tempat ibadah, tapi pusat pembelajaran dan perubahan sosial menuju keberlanjutan,” tegasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search