Luka Kampung Kauman dan Bahaya Komunisme yang Tak Pernah Padam

Luka Kampung Kauman dan Bahaya Komunisme yang Tak Pernah Padam
*) Oleh : Anang Dony Irawan
Penikmat Sejarah, Wakil Ketua PCM Sambikerep Kota Surabaya & Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya
www.majelistabligh.id -

Sejarah bangsa Indonesia tidak hanya diwarnai oleh perjuangan melawan kolonialisme, tetapi juga pergulatan ideologi yang berusaha meruntuhkan sendi-sendi moral dan keagamaan bangsa.

Salah satu tragedi yang kerap terabaikan dalam ingatan kolektif adalah peristiwa di Kampung Kauman, Magetan, pada September 1948. Di sanalah wajah asli komunisme yang penuh kebencian terhadap agama Islam tersingkap tanpa tabir.

Kauman: Basis Islam yang Jadi Sasaran

Kampung Kauman sejak awal berdirinya di barat Kantor Kabupaten Magetan dikenal sebagai komunitas Muslim yang taat. Di sana berdiri pesantren, madrasah, serta rumah para kiai dan guru agama yang menjadi cahaya penerang masyarakat. Kauman bukanlah pusat politik, melainkan pusat kehidupan religius. Tetapi justru karena itu, ia menjadi sasaran.

Bagi PKI/FDR, pesantren dan madrasah adalah benteng yang menghalangi penyebaran ideologi ateis mereka. Islam, dengan kekuatan spiritual dan sosialnya, menjadi musuh utama yang harus dihancurkan terlebih dahulu sebelum mereka merebut kekuasaan.

Inilah mengapa menjelang pemberontakan 1948, Kauman sudah mendapat peringatan keras dari pimpinan Masyumi setempat bahwa bahaya besar sedang mengintai.

Ketegangan mulai terasa pada 17 September 1948 malam. Pasukan Hizbullah, GPII, dan Pemuda Kauman bersiaga. Benar saja, keesokan harinya, beberapa guru SD dan madrasah diculik. Bahkan Kiai Rokib, tokoh agama terkemuka, digiring secara paksa oleh 12 orang anggota FDR/PKI menuju Desa Wringin Agung. Peristiwa ini menjadi isyarat bahwa teror akan segera pecah.

Pembumihangusan Kauman

Puncaknya terjadi pada 24 September 1948. FDR/PKI melancarkan serangan brutal ke Kauman. Rumah-rumah dibakar hingga warga keluar dari persembunyian. Tidak kurang dari 72 rumah musnah dilalap api, sementara sekitar 149 lelaki digiring ke Maospati dengan tangan ditelikung dan diikat tali bambu.

Dari Maospati, para tawanan dimasukkan ke gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok. Dari sana, mereka dipindahkan lagi ke Geneng dan Keniten. Menurut kesaksian Parto Mandojo, sebelum dieksekusi, mereka berhasil diselamatkan oleh serangan mendadak tentara Siliwangi. Tanpa itu, ratusan nyawa bisa saja melayang dalam pembantaian massal.

Namun, meski banyak yang selamat, luka sosial tetap menganga. Rumah yang terbakar, guru yang diculik, kiai yang ditawan, dan pesantren yang dihancurkan menorehkan trauma panjang. Pesantren Takeran pun tidak luput, dibakar setelah Kiai Imam Mursjid ditawan. Bahkan Bupati Magetan turut ditangkap, memperlihatkan betapa luasnya skala pemberontakan ini.

Komunisme: Ideologi Anti-Tuhan yang Penuh Darah

Peristiwa Kauman membuktikan bahwa komunisme bukan sekadar aliran politik, melainkan ideologi yang sejak awal menolak agama. Di manapun komunisme berkuasa, agama selalu menjadi korban pertama. Dari Moskwa hingga Beijing, dari Budapest hingga Jakarta, pola yang sama terjadi: kiai, pendeta, dan tokoh agama selalu dibungkam, pesantren dan gereja selalu dibakar. Dimana wajah asli komunisme diantaranya:
• Membenci agama karena dianggap sebagai candu.
• Menebar teror untuk menundukkan rakyat.
• Menghancurkan tatanan sosial agar bisa membangun diktator proletariat.

Kauman adalah bukti nyata. Ulama bukan dilawan dengan argumen, tetapi dengan api dan senjata. Rumah bukan dihancurkan karena perang melawan kolonial, melainkan dibumihanguskan demi melawan sesama anak bangsa.

Bahaya yang Tidak Pernah Padam

Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa komunisme sudah mati di Indonesia. Pandangan ini keliru. Ideologi tidak mati, ia hanya berganti wajah. Komunisme bisa saja hadir dengan nama baru, jargon baru, bahkan dengan kemasan yang tampak modern.

Tetapi esensinya tetap sama: menolak Tuhan, meruntuhkan moral, dan mengancam bangsa.
Melupakan Kauman sama saja membuka jalan bagi ideologi itu untuk masuk kembali.

Tragedi September 1948 tidak boleh disederhanakan hanya sebagai konflik politik. Ia adalah upaya sistematis untuk melumpuhkan umat Islam sebagai benteng moral bangsa.

Tragedi Kauman mengajarkan bahwa:
1. Agama adalah benteng terakhir bangsa. Ketika pesantren dihancurkan, masyarakat kehilangan penyangga moral.
2. Komunisme adalah ancaman permanen. Ia bisa datang kembali dalam bentuk budaya, ekonomi, bahkan politik.
3. Ingatan kolektif harus dijaga. Jika generasi muda tidak mengenal sejarah ini, mereka mudah ditipu oleh wajah baru komunisme yang bersolek dengan jargon keadilan sosial semu.

Kauman yang terbakar pada September 1948 bukan sekadar kisah lokal Magetan, melainkan bagian dari sejarah nasional yang menunjukkan betapa berbahayanya ideologi tanpa Tuhan. Api yang membakar rumah-rumah di Kauman harus menjadi obor pengingat bagi bangsa Indonesia: sekali komunisme berkuasa, maka agama, kemanusiaan, dan bangsa hanya akan tinggal abu.

Tinggalkan Balasan

Search