Perdebatan tentang di mana kedudukan Allah, dari masa ke masa terus ada yang mempertanyakan. Dan, ada juga muballigh yang menyampaikan bahwa Allah “tidak berada di atas”, merujuk pada QS. Qaf (50): 16.
…وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ…
“…dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya…” (QS. Qaf [50]: 16).
Hal ini membuat sebagian jemaah ragu, sebab selama ini mereka memahami bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an.
Lantas, apakah pemahaman bahwa Allah berada di atas ‘Arsy adalah keliru? Bagaimana Majelis Tarjih Muhammadiyah memandang persoalan ini?
Dalil Ayat tentang Allah Bersemayam di Atas ‘Arsy
Sebelum menjawab lebih jauh, mari merujuk pada nash Al-Qur’an yang menegaskan keberadaan Allah di atas ‘Arsy. Allah SWT berfirman:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ …
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” (QS. al-A’raf [7]: 54).
Ayat tentang istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy disebut delapan kali dalam Al-Qur’an: Yunus (10): 3, ar-Ra’d (13): 2, Thaha (20): 5, al-Furqan (25): 59, al-Qasas (28): 14, as-Sajdah (32): 4, Fushilat (41): 11, serta al-Hadid (57): 4.
Seluruh ayat tersebut secara tegas menyatakan bahwa Allah beristiwa’ di atas ‘Arsy.
Dalil Ayat tentang Allah Sangat Dekat dengan Hamba-Nya
Di sisi lain, Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa Allah sangat dekat dengan manusia. Allah berfirman:
… وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ …
“… dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya…” (QS. Qaf [50]: 16)
Selain itu, ayat tentang kedekatan Allah terdapat pada QS. al-Baqarah (2): 186, Hud (11): 61, Saba’ (34): 50, dan al-Waqi’ah (56): 85.
Jika dibaca sekilas, seolah terjadi kontradiksi. Antara ayat yang menyatakan Allah di atas ‘Arsy dan ayat yang menyatakan Allah dekat. Padahal keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Memahami Makna ‘Arsy: Fisik atau Maknawi?
Para ahli bahasa mendefinisikan ‘Arsy sebagai singgasana, istana, atau tahta. Kata ini berasal dari ‘arasya–ya’rusyu yang berarti membangun. Ulama memiliki perbedaan pandangan tentang hakikat ‘Arsy: Apakah berbentuk fisik? ataukah merupakan pusat pengendalian urusan alam semesta?
Rasyid Ridha menafsirkan bahwa ‘Arsy adalah pusat kendali seluruh urusan makhluk, sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus (10): 3.
Namun, Al-Qur’an dan hadis tidak menjelaskan secara detail ujud ‘Arsy. Karena itu, umat Islam wajib mengimani keberadaannya tanpa menanyakan bagaimana bentuk dan tempatnya. Hakikatnya hanya diketahui oleh Allah SWT.
Makna “Allah Dekat” dalam Ayat Qaf 16
Kedekatan Allah tidak bermakna secara fisik, melainkan kedekatan ilmu, pengawasan, dan pengetahuan-Nya terhadap manusia. Allah mengetahui setiap bisikan, mendengar segala ucapan, melihat seluruh amal perbuatan dan mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati.
Inilah makna أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (lebih dekat daripada urat leher), bukan kedekatan dalam arti tempat.
Tidak Ada Pertentangan antara “Allah di Atas” dan “Allah Dekat”
Dengan memahami dua konsep ini, jelas bahwa ayat-ayat tersebut tidak bertentangan, yaitu Allah bersemayam di atas ‘Arsy, sesuai dengan keagungan-Nya dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya, melalui ilmu dan pengawasan-Nya.
Majelis Tarjih dan pemikiran ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa ayat-ayat sifat diterima sebagaimana adanya (bilā kaifa), tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menolak makna ayat.
Kesimpulan
1. Pemahaman bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy adalah benar, berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat jelas.
2. Ayat yang menunjukkan kedekatan Allah tidak menafikan posisi-Nya, tetapi menjelaskan kedekatan ilmu dan pengawasan Allah.
3. Kedua jenis ayat dapat dikompromikan, dan tidak boleh dipertentangkan.
4. Arah, tempat, dan hakikat ‘Arsy adalah perkara gaib yang hanya diketahui Allah SWT.
Wallāhu A‘lam bish-shawāb.
