”Fasting trains the soul, and breaking the fast is a reward for those who are faithful in obedience.”
“(Puasa melatih jiwa, dan berbuka adalah hadiah bagi mereka yang setia dalam ketaatan)”
Setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga, mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, momen berbuka puasa selalu menghadirkan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di balik rasa segar yang membasahi kerongkongan, ada ruang spiritual yang sangat berharga untuk kita isi dengan syukur dan doa.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa puasa bukan sekadar ibadah fisik, melainkan momentum emas agar doa-doa kita menembus langit. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Artinya:
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa saat berbuka, dan doa orang yang terzalimi. Doa mereka diangkat ke atas awan dan pintu-pintu langit dibukakan untuknya.”(HR. Tirmidzi No. 2449)
Doa Berbuka yang Dianjurkan
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menganjurkan pembacaan doa yang bersumber dari hadis sahih berikut:
ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
Artinya:
“Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat (kerongkongan), dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud No. 2010)
Sebelum atau Sesudah Makan?
Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) pada bab sahur dan berbuka, disebutkan bahwa doa tersebut idealnya dibaca sesudah kita membatalkan puasa. Namun, mengingat hakikat doa adalah permohonan dan harapan, tidak ada salahnya jika doa tersebut dipanjatkan sesaat sebelum berbuka.
Perbedaan pendapat ini muncul karena penggunaan kata kerja bentuk lampau (fi’il madhi) dalam redaksi doa tersebut. Sebagian ulama menafsirkannya secara tekstual (setelah kejadian), sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk harapan yang pasti akan terjadi. Hingga kini, memang belum ditemukan petunjuk absolut apakah Nabi Muhammad SAW membacanya tepat sebelum atau sesudah menyentuh hidangan.
Apapun pilihannya, yang utama adalah menghadirkan hati yang ikhlas. Sebab, di setiap tetes air yang kita minum saat berbuka, ada janji pahala yang sedang ditetapkan-Nya.
Semoga bermanfaat.
