Penyebutan Nabi Ibrahim dalam selawat Nabi Muhammad memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan sejarah, doa, dan kedekatan spiritual antara kedua nabi.
Berikut beberapa alasan utama mengapa nama Nabi Ibrahim disebut dalam shalawat Ibrahimiyah:
1. Doa Nabi Ibrahim untuk Nabi Muhammad
Nabi Ibrahim pernah berdoa agar namanya tetap dikenang oleh umat terakhir, yaitu umat Nabi Muhammad. Allah mengabulkan doa tersebut dengan menjadikan penyebutan Nabi Ibrahim bagian dari selawat yang dibaca oleh umat Islam.
Doa Nabi Ibrahim yang berkaitan dengan Nabi Muhammad, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 129:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ ۗ
اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ
“Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah)38) kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.”
Di antara arti hikmah adalah sunah, pemahaman yang mendalam atas ajaran agama, kebenaran, pembicaraan yang akurat, rasa takut kepada Allah SWT, kenabian, risalah, akal, dan keserasian antara pengetahuan dan pengamalan.
2. Kedudukan Nabi Ibrahim sebagai “Abu Millah”
Nabi Ibrahim disebut sebagai bapak agama (Abu Millah), sementara Nabi Muhammad disebut sebagai bapak rahmat (Abu Rahmah). Penyebutan keduanya dalam selawat menunjukkan hubungan erat antara ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan penyempurnaan risalah oleh Nabi Muhammad.
Nabi Ibrahim memiliki kedudukan istimewa dalam Islam sebagai “Abu Millah”, yang berarti bapak agama atau bapak tauhid. Gelar ini diberikan karena beliau adalah sosok yang teguh dalam mempertahankan ajaran tauhid dan menjadi panutan bagi para nabi setelahnya.
Makna dan Kedudukan Nabi Ibrahim sebagai “Abu Millah”:
a. Penyebar Tauhid yang Murni
Nabi Ibrahim dikenal sebagai Hanif, yaitu orang yang lurus dalam beribadah hanya kepada Allah dan menolak segala bentuk kesyirikan. Ajaran tauhid yang beliau bawa menjadi dasar bagi agama Islam.
b. Panutan bagi Nabi Muhammad ﷺ
Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim dalam Surah An-Nahl ayat 123:
ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Kemudian, Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim sebagai (sosok) yang hanif dan tidak termasuk orang-orang musyrik.”
c. Bapak Para Nabi
Nabi Ibrahim disebut sebagai Abu al-Anbiya’ karena dari keturunannya lahir banyak nabi, termasuk Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, yang menjadi leluhur Nabi Muhammad saw.
d. Pemimpin Kebaikan
Allah mengangkat Nabi Ibrahim sebagai imam bagi manusia setelah beliau berhasil melalui berbagai ujian berat, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 124.
۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ
قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
e. Kekasih Allah (Khalilullah)
Nabi Ibrahim memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah, sehingga beliau diberi gelar Khalilullah, yang berarti kekasih Allah.
Kedudukan Nabi Ibrahim sebagai Abu Millah menunjukkan betapa besar perannya dalam membentuk dasar ajaran Islam yang kemudian disempurnakan oleh Nabi Muhammad saw.
3. Kesamaan dalam Dakwah dan Ibadah
Nabi Ibrahim mengajak umatnya untuk melaksanakan ibadah haji, sedangkan Nabi Muhammad mengajak kepada iman dan tauhid. Allah mengumpulkan keduanya dalam shalawat sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan mereka dalam menyebarkan agama Islam.
Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad memiliki banyak kesamaan dalam dakwah dan ibadah, yang menunjukkan kesinambungan ajaran tauhid dari generasi ke generasi. Berikut beberapa aspek utama yang menyatukan dakwah dan ibadah mereka:
a. Dakwah Tauhid yang Tegas
- Nabi Ibrahim dikenal sebagai Hanif, yaitu orang yang lurus dalam beribadah kepada Allah dan menolak segala bentuk kesyirikan
- Nabi Muhammad juga membawa dakwah tauhid, menyeru umatnya untuk meninggalkan penyembahan berhala dan hanya beribadah kepada Allah.
b. Pembangunan Ka’bah sebagai Simbol Tauhid
- Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail membangun Ka’bah sebagai pusat ibadah bagi umat Islam.
- Nabi Muhammad kemudian menyempurnakan ajaran ini dengan menjadikan Ka’bah sebagai kiblat dalam salat.
c. Ibadah Haji sebagai Warisan Nabi Ibrahim
- Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyeru manusia agar melaksanakan ibadah haji.
- Nabi Muhammad mengajarkan tata cara haji yang sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim dan menyempurnakannya dalam Haji Wada’.
d. Kesabaran dalam Menghadapi Ujian
- Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih putranya, Nabi Ismail, sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah.
- Nabi Muhammad menghadapi berbagai ujian dalam dakwahnya, termasuk penolakan dan penganiayaan dari kaum Quraisy.
e. Penyebutan Nabi Ibrahim dalam Selawat
- Nabi Muhammad mengajarkan umatnya untuk membaca selawat Ibrahimiyah, yang menyebutkan nama Nabi Ibrahim sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangannya dalam menyebarkan tauhid.
4. Balasan atas Doa Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim pernah berdoa agar Nabi Muhammad mendapatkan keberkahan. Sebagai balasan atas doa tersebut, Allah menggerakkan lisan umat Islam untuk selalu menyebut nama Nabi Ibrahim dalam selawat.
Selawat Ibrahimiyah sendiri merupakan salah satu bentuk selawat yang paling utama dan sering dibaca dalam tasyahud akhir saat shalat.
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, selawat ini juga memiliki banyak keutamaan, termasuk menjadi wasilah terkabulnya doa. (*)
