Makna Kurban di Tengah Arus Materialisme

*) Oleh : Syahbana Daulay
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumut
www.majelistabligh.id -

Ibadah kurban merupakan simbol pengabdian dan pengorbanan tertinggi dalam Islam. Ia bukan sekadar prosesi penyembelihan hewan, tetapi pengejawantahan ketaatan penuh seorang hamba kepada Tuhannya, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as.

Dalam masyarakat kontemporer, terdapat fenomena konsumerisme tinggi (liburan, gadget, kuliner) namun menghindar dari qurban dengan alasan “belum ada rezeki”, “tidak sempat” atau “tidak penting”, padahal mampu secara finansial.

Ini menunjukkan krisis spiritual dan hilangnya nilai pengorbanan dalam kehidupan modern. Mereka termasuk orang-orang yang diperingatkan keras oleh Rasulullah SAW:

مَنْ ‌وَجَدَ ‌سَعَةً ‌فَلَمْ ‌يُضَحِّ، فَلاَ يَقَرَبَنَّ مُصَلَّانا

“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibn Majah)

Imam Ibn Qudamah dalam al-Mughni menyatakan bahwa hadis ini adalah peringatan keras yang menunjukkan bahwa meninggalkan qurban bagi yang mampu adalah bukti terkikisnya iman dan hilangnya tanggung jawab sosial.

Definisi dan Hukum Kurban

Kurban berasal dari kata “قُرْبَان” (qurbān) yang bermakna pendekatan diri kepada Allah (taqarrub). Dalam terminologi fikih, kurban adalah menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu (10–13 Dzulhijjah) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum kurban,  ada yang mengatakan wajib dan ada pula yang berpendapat sunah.

Terlepas dari adanya perbedaan pendapat mengenai hukum melakukan kurban, tetapi yang jelas bahwa ibadah kurban itu diperintahkan oleh Allah.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Dalam tafsir Al-Qurthubi, ayat ini adalah perintah yang menunjukkan ketegasan pentingnya ibadah qurban sebagai bagian dari syiar Islam.

Kurban: Gengsi dan Gaya Konsumtif

Dalam pusaran era modern yang ditandai oleh konsumerisme, individualisme, dan hedonisme, ibadah kurban hadir sebagai pengingat sakral bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang memberi dan mengikhlaskan.

Namun, tantangan dalam menjalankan ibadah ini semakin kompleks, tidak lagi sekadar soal ketersediaan hewan kurban, melainkan juga krisis makna dan niat.

Sebagian orang menjadikan qurban sebagai ajang pamer, berlomba membeli hewan termahal dan terbesar, bukan karena ingin memberikan yang terbaik kepada Allah, melainkan demi pencitraan sosial. Foto-foto hewan kurban disebar di media sosial dengan narasi yang tidak jarang sarat kesombongan terselubung.

Padahal, Allah SWT tidak melihat bentuk atau rupa amal, tetapi keikhlasan dan ketakwaan yang mendasarinya. Nabi Muhammad saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Fenomena ini menunjukkan bagaimana ruh kurban bisa terkikis oleh budaya riya’ digital, di mana amal dipublikasi bukan sebagai inspirasi, tetapi sebagai eksistensi diri.

Di sisi lain, ada pula yang mampu secara finansial namun merasa kurban bukan prioritas. Dana yang seharusnya cukup untuk membeli seekor kambing, justru habis untuk liburan, gadget terbaru, fashion mewah, atau sekadar gaya hidup self-reward.

Ini memperlihatkan bagaimana nilai spiritual kurban terkalahkan oleh keinginan duniawi, padahal kurban adalah bentuk rasa syukur dan pengakuan atas limpahan nikmat dari Allah.

“Berinfaklah kamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (dengan tidak berinfak), dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Kurban menjadi ujian konkret, apakah seseorang lebih mencintai hartanya atau rida Tuhannya.

Justru di tengah derasnya arus materialisme, kurban menawarkan ketenangan batin dan penjernihan hati. Ia menjadi penyeimbang agar manusia tidak terjerat cinta dunia yang berlebihan.

Melalui kurban, kita diajarkan bahwa:

1. Harta hanyalah titipan, bukan milik mutlak. Maka tidak layak manusia terlalu kikir atau terlalu sombong atas apa yang dimilikinya.

2. Bahagia adalah ketika mampu memberi, bukan hanya mengumpulkan. Rasa lega, lapang, dan syukur tumbuh saat melihat daging kurban dinikmati oleh kaum dhuafa.

Nilai Kurban di Mata Allah

Kurban bukan sekadar ritual simbolik tahunan yang diwarnai dengan penyembelihan hewan. Ia adalah ibadah yang sarat makna spiritual, ujian sejauh mana hamba mampu menunjukkan ketaatan, pengorbanan, dan keikhlasan yang tulus kepada Allah SWT. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa nilai sejati dari ibadah qurban bukanlah pada aspek fisik, bukan pada daging atau darah, melainkan ketakwaan yang menyertainya. Ketakwaan inilah yang menjadi tolok ukur penerimaan amal oleh Allah.

Kurban mengajak kita merenungkan pengorbanan luar biasa dari Nabi Ibrahim as dan putranya, Ismail as ketika diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat dicintainya, Ibrahim tidak ragu. Ismail pun menunjukkan ketegaran luar biasa:

قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shaffat: 102)

Sikap ini mencerminkan tauhid murni dan penyerahan total kepada kehendak Allah. Qurban mengingatkan umat Islam untuk selalu siap mengorbankan apa pun, bahkan sesuatu yang paling dicintai, demi menggapai keridhaan-Nya.

Pembersihan Jiwa dan Penumbuhan Rasa Empati

Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa nilai ibadah terletak pada niat dan pengaruhnya terhadap hati, bukan pada gerakan lahiriah. Dalam konteks qurban, ini berarti:

Melatih keikhlasan: Menyembelih bukan untuk dipuji atau sekadar tradisi, tetapi murni karena Allah.
Mengikis hubb al-dunya: Melepaskan harta yang dicintai demi Allah adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu.

Allah juga menyinggung tentang pengorbanan harta yang dicintai:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Pada dimensi sosial, qurban adalah momentum untuk merasakan denyut kehidupan fakir miskin. Saat mereka mencicipi daging qurban, di sanalah nilai sosial ibadah terasa. Maka, berqurban dapat mewujudkan solidaritas umat, bukan hanya bagi sesame muslim di lingkungan sekitar, tapi juga ke daerah tertinggal. Qurban juga bisa menghidupkan ukhuwah dan menyuburkan cinta terhadap sesama, mempererat ukhuwah Islamiyah antara golongan kaya dan miskin.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، يَذْبَحُ أَحَدَهُمَا عَنْهُ وَعَن أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالثَّانِي عَن أُمَّتِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan dua kambing yang besar, bertanduk, dan berbulu putih. Beliau menyembelih satu untuk dirinya dan keluarganya, dan satu lagi untuk umatnya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Maka wajarlah bila ibadah kurban merupakan amal yang dicintai Allah SWT.

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ

“Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah pada hari Nahr (Idul Adha) daripada menyembelih hewan kurban.” (HR Ibnu Majah)

Penutup

Kurban adalah miniatur cinta ilahi, cinta yang menuntut pengorbanan. Seperti Nabi Ibrahim rela mengorbankan Ismail, seorang muslim hari ini diajak mengorbankan sebagian hartanya bukan untuk Allah SWT, tetapi untuk membuktikan bahwa dirinya sanggup melepaskan cinta dunia demi cinta kepada Allah.

Bagaimanapun, kurban adalah bentuk ibadah yang mencerminkan tauhid, keikhlasan, tawakal, empati social, dan pengagungan terhadap syiar Allah. Wallahu a’lam. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search