Setiap orang pasti pernah merasa malu; tidak ada seorang pun yang terlahir di dunia ini tanpa pernah merasakannya. Walaupun bukan basic instinct (naluri dasar), para psikolog mengategorikan malu sebagai self-conscious emotions (emosi sadar diri) atau emosi sekunder—bukan emosi dasar yang didorong oleh insting murni.
Namun, rasa malu seperti apakah yang dirindukan oleh Sang Maha Pencipta Malu, yakni Allah Swt?
Mari kita rumuskan bersama apa itu malu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), malu adalah perasaan tidak enak hati (merasa hina, rendah, dan sebagainya) karena melakukan sesuatu yang kurang baik.
Dalam ajaran Islam, rasa malu ditempatkan sebagai salah satu cabang keimanan. Oleh karena itu, Rasulullah saw memberi pesan moral agar kita senantiasa menjaga rasa malu dan jangan sampai meninggalkannya.
Rasulullah Saw secara tegas mengingatkan dalam sabdanya yang artinya: “Jika engkau sudah tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.”
Lantas, apakah semua rasa malu itu bernilai buruk? Rasa malu yang dilarang adalah malu untuk berbuat kebaikan atau menjalankan perintah-Nya. Sebaliknya, rasa malu yang dianjurkan adalah malu apabila melakukan perbuatan maksiat atau ketika kita enggan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah Swt.
Apa saja dampak buruk bagi seseorang yang kehilangan rasa malu?
- Hilangnya batasan moral. Rasulullah saw mengingatkan bahwa jika seseorang telah kehilangan rasa malu, ia akan berbuat apa saja mengikuti hawa nafsunya. Batas antara yang hak dan yang batil menjadi kabur, sehingga perbuatan keji, maksiat secara terang-terangan, hingga kezaliman dianggap sebagai hal yang biasa.
- Penurunan dan kerusakan iman. Dalam Islam, malu adalah salah satu cabang keimanan. Hilangnya rasa malu menandakan melemahnya—atau bahkan matinya—hati dan iman seseorang kepada Allah Swt.
- Mudah terjerumus dalam tindakan kriminal dan nista. Hilangnya rasa malu menjadi akar dari berbagai kejahatan sosial, seperti korupsi, kecurangan, pencurian, hingga pelanggaran norma susila.
- Mendatangkan kebinasaan dan kehancuran. Pudarnya rasa malu secara kolektif di dalam masyarakat dapat meruntuhkan tatanan moral suatu peradaban.
Sudah sepatutnya seorang mukmin senantiasa menjaga marwah diri dari perbuatan yang tidak pantas, meskipun tidak dilihat oleh orang lain. Sebab, hal itu sangat memengaruhi kualitas keimanan seseorang.
Terdapat tiga jenis sifat malu yang perlu melekat pada diri seorang Muslim:
- Malu kepada diri sendiri. Yaitu merasa malu ketika amal saleh dan kontribusi kebaikan kita untuk umat masih sangat sedikit dibandingkan orang lain.
- Malu kepada sesama manusia. Malu jika berbuat salah kepada sesama. Hal ini penting untuk mengendalikan diri agar tidak melanggar ajaran agama. Walaupun rasa malu ini belum sepenuhnya berpahala sempurna jika tidak didasari karena Allah, ia tetap membawa kebaikan karena menjaga seseorang dari perbuatan dosa.
- Malu kepada Allah SWT. Ini adalah tingkat malu terbaik yang mendatangkan kebahagiaan hidup. Orang yang malu kepada Allah tidak akan berani melakukan kesalahan maupun meninggalkan kewajiban, sebab ia meyakini bahwa Allah tidak pernah tidur dan Maha Melihat segala perbuatan hamba-Nya.
Rasa malu kepada Allah inilah yang dirindukan oleh Sang Maha Pencipta dari para hamba-Nya, sebagaimana tajuk tulisan ini.
Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga bermanfaat. Aamiin.
