Islam menuntun manusia agar selamat dalam kehidupan dunia dan akhirat. Manusia memiliki nafsu makan agar dapat bertahan hidup. Allah tidak melarang makan. Allah bahkan memberikan kebebasan kepada manusia untuk makan dan menyediakan beraneka makanan untuk manusia.
Akan tetapi, demi kebaikan dan kemaslahatan hidupnya dan kelestatian alam semesta, Allah mengajarkan agar mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan sehat. “Makankah semua yang ada di bumi, makanan yang halal dan sehat (thayyib). Janganlah kamu mengikuti jalan setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata (Qs. Al-Baqarah [2]: 168).
Manusia memiliki nafsu syahwat (seksual) dan melakukan hubungan seksual. Melalui hubungan seksual, manusia melakukan reproduksi dan regenerasi. Hubungan seksual merupakan cara alamiah melangsungkan keturunan. Di antara tujuan Syariat menurut Imam Al-Ghazali adalah untuk melindungi keturunan (hifdz al-nasl). Memiliki keturunan merupakan jaminan keberlanjutan kehidupan umat manusia.
Agar nafsu syahwat tidak menjerumuskan manusia dalam kenistaan dan menghancurkan moralitas masyarakat, Islam mensyariatkan perkawinan. Mukmin yang menang adalah mereka yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri, dan hamba sahaya yang dimiliki (Qs. Al-Mukminun [23]: 5-6). Islam mengharamkan perizinahan sebagai perbuatan keji dan jalan yang buruk (Qs. Al-Isra [17]: 32).
Manusia memiliki nafsu memiliki sesuatu, mengumpulkan harta. Nafsu ini mendorong manusia untuk bekerja keras. Islam memerintahkan manusia untuk bekerja. “Katakanlah: Bekerjalah kamu. Maka Allah, rasul, dan orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. At-Taubah [9]: 105).
Di antara tujuan Syariat adalah untuk melindungi kepemilikan harta (hifdz al-mal). Akan tetapi, Islam mengajarkan agar harta memperoleh harta harus dengan cara yang halal, haram mencuri, riba, dan curang. Islam mengajarkan agar manusia berbagi dengan zakat, sedekah, infaq, dan bentuk filantropi lainnya.
Dalam pandangan Islam, nafsu adalah anugerah Allah, fitrah, sifat alamiah yang dibawa manusia sejak lahir. “Demi jiwa dan penyempurnaan ciptaannya (7) maka Dia mengilhamkan (kepadanya) jalan kejahatan dan ketakwaannya (8) Sungguh beruntung orang yang menyucikan (9) dan sungguh merugi orang yang mengotorinya (10).” (Qs. Asy-Syam [91]: 7-10).
Puasa mendidik manusia agar mampu mengelola nafsu, menahan agar tidak liar, mengelola agar tetap dalam koridor, dan menyalurkan dengan cara yang benar, sesuai tuntunan Tuhan. (*)
