Bayangkan matahari. Kita bisa melihat cahayanya, merasakan panasnya, menikmati manfaatnya. Tetapi jika mata manusia dipaksa menatap matahari secara langsung dalam waktu tertentu, mata justru bisa rusak.
Masalahnya bukan matahari tidak ada. Tetapi ada keterbatasan makhluk yang melihat.
Begitu pula ketika berbicara tentang Allah. Allah bukan makhluk yang bisa disamakan dengan sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra.
Allah berfirman: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan.” (QS. Al-An’am ayat 103)
Dan ketika Nabi Musa meminta melihat Allah, Allah menjawab:
“Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku.” (QS. Al-A’raf ayat 143)
Lalu ketika Allah menampakkan tajalli-Nya kepada gunung, gunung itu hancur dan Musa jatuh pingsan.
Ini bukan berarti Allah tidak ada atau Allah tidak dapat dilihat sama sekali. Yang tidak mampu adalah makhluk dalam keadaan kehidupan dunia ini.
Lalu bagaimana dengan Malaikat? Apakah mereka melihat Allah?
Di sinilah kita harus sangat hati-hati. Ada anggapan bahwa malaikat pasti melihat Allah secara langsung di atas Arsy, sedangkan manusia dan jin tidak. Namun, tidak ada dalil sahih yang secara tegas dan pasti menyatakan bahwa seluruh malaikat melihat Allah secara langsung di Arsy setiap saat.
Karena itu, kita tidak boleh menjadikan sesuatu yang tidak memiliki dalil tegas sebagai keyakinan. Yang pasti, Allah berada di atas Arsy sesuai dengan keagungan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arsy.” (QS. Thaha ayat 5)
Adapun bagaimana keadaan Allah, bagaimana malaikat berhubungan dengan-Nya, dan apakah mereka melihat-Nya secara langsung, kita berhenti pada batas yang diterangkan wahyu. Tetapi ada kabar yang jauh lebih menggembirakan. Allah tidak menjadikan penglihatan kepada-Nya sebagai kenikmatan kehidupan dunia. Allah menjadikannya kenikmatan akhirat bagi orang-orang beriman.
Allah berfirman: “Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah ayat 22–23)
Dan Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihat-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka ada sesuatu yang luar biasa: Di dunia kita mengenal Allah melalui ayat-ayat-Nya. Melalui ciptaan-Nya. Melalui wahyu-Nya. Melalui nama-nama-Nya. Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Tetapi di akhirat, orang-orang beriman mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih agung: melihat Rabb mereka.
Maka jangan sedih karena hari ini kita tidak melihat allah. Justru pertanyaannya: Maukah kita bersabar untuk mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar itu?
Dunia adalah tempat iman kepada yang ghaib.
Allah berfirman: “Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib.” (QS. Al-Baqarah ayat 3)
Kita belum melihat-Nya. Tetapi kita percaya. Kita belum menyaksikan-Nya dengan mata. Tetapi kita mengenal-Nya melalui seluruh tanda kebesaran-Nya.
Dan kelak, jika Allah memasukkan kita ke dalam Jannah, kenikmatan itu tidak berhenti pada sungai, istana, makanan, atau pasangan. Ada sesuatu yang jauh lebih tinggi. Memandang wajah Rabb semesta alam.
Maka mungkin doa yang paling indah bukan: “Ya Allah, mengapa hari ini aku belum bisa melihat-Mu?” Tetapi: “Ya Allah, jangan jadikan dunia membuatku kehilangan kesempatan untuk memandang-Mu di akhirat.”
Karena dunia hanya tempat membuktikan iman. Sedangkan akhirat adalah tempat orang-orang beriman mendapatkan buah dari iman itu. (*)
