Mas Mirdasy, Rendah Hati yang Merangkul

Mas Mirdasy, Rendah Hati yang Merangkul
*) Oleh : Suyoto
Ketua Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat PW Pemuda Muhammadiyah Jatim 1996–1998
www.majelistabligh.id -

Saya mengenal Mas Mirdasy dalam sebuah proses yang panjang. Beliau adalah salah satu sosok kunci yang membawa saya aktif di lingkungan Pemuda Muhammadiyah hingga terjun ke dunia politik.

Kenangan saya terpaut pada masa ketika Mas Hajriyanto Y. Thohari menjabat sebagai Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah. Saat itu, ia menggulirkan isu pentingnya penguatan ortodoksi di tubuh Pemuda Muhammadiyah—sebuah semangat untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam wilayah praksis. Baginya, mustahil memisahkan ajaran Islam dari pergumulan sosial di Indonesia.

Menjelang bergulirnya reformasi tahun 1996, Pemuda Muhammadiyah aktif mengambil peran. Pertanyaan mengenai bagaimana menghadirkan semangat berislam dalam wilayah politik serta menjawab ketimpangan sosial menjadi perbincangan hangat.

Untuk menjawabnya, diperlukan literasi keagamaan sekaligus literasi sosial yang kuat. Wajah Pemuda Muhammadiyah tidak boleh hanya diisi oleh aktivis pergerakan yang gagap saat bicara teks keislaman dan kontekstualisasinya. Idenya, harus ada Aktifis Pemuda Muhammadiyah yang fasih berbahasa arab, membaca kitab, namun paham dinamika sosial.

Mas Mirdasy, sebagai salah satu unsur pimpinan PW Pemuda Muhammadiyah Jatim bersama Nanang, Najib, Tamhid, Nidhom Hidayatullah, dan kawan-kawan, menangkap kegelisahan ideologis tersebut. Dari sinilah “operasi pemburuan talenta” dimulai, dan para dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi salah satu sasarannya.

Saat itu, saya menjabat sebagai Kepala Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (LSIK) UMM. Beberapa kali Mas Mirdasy dan kawan-kawan mengajak kami bergabung di Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur. Akhirnya, saya didapuk sebagai Ketua Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM). Saya kemudian mengajak rekan-rekan dosen UMM lainnya seperti Syamsul Arifin, Ahmad Juanda, Agus Purwadi, Katino, hingga melibatkan Mas Nazaruddin Malik.

Menjelang Muktamar Pemuda Muhammadiyah, kami sangat intens menyiapkan draf usulan dari Jatim. Mas Mirdasy dan kawan-kawan dengan rendah hati rela “ngalahi” datang ke Malang untuk berdiskusi. Kami sering berkumpul di kantor LSIK, lantai 1 Gedung Perpustakaan UMM Kampus 3. Masih segar dalam ingatan saya, almarhum Mas Nidhom dan Jainuri gemar mengajak kami semua mandi air hangat di Cangar, Batu, tengah malam, hingga beberapa kali mereka menginap di kediaman mungil saya.

Ada kesan mendalam yang saya tangkap dari Mas Mirdasy: kerendahan hati, semangat merangkul, tangannya panjang menjangkau jauh ke berbagai lapisan dan penghargaan tinggi terhadap intelektualisme. Meski beliau adalah putra Ketua PWM Jatim saat itu, Mas Mirdasy justru mendorong saya untuk maju di Muktamar PP Pemuda Muhammadiyah di Riau, alih-alih mengajukan dirinya sendiri.

Kami bergaul tanpa jarak. Sepertinya beliau sadar tidak memiliki latar belakang tradisi pendidikan keagamaan formal yang kental, karena itu kami diundang dan diberi jalan seluas-luasnya untuk berkontribusi hingga ke tingkat pusat. Saya ingat betapa tingginya apresiasi beliau saat LPAM menerbitkan Jurnal El-Pam sebagai wadah pemikiran keislaman dan kemasyarakatan.

Mas Mirdasy seolah mengamalkan pesan dalam kitab Ta’limul Muta’allim: jadilah pengajar ilmu, pencari ilmu, pendengar, atau pendukung kajian. Jangan jadi yang kelima (yang membenci ilmu, atau tidak termasuk satu diantara keempatnya), maka kamu akan celaka. Beliau memilih menjadi pembelajar, Pengajar, pendengar yang baik sekaligus pendukung setia bagi tumbuhnya gagasan.

Itulah Mas Mirdasy yang saya kenal: rendah hati, tahu posisi, merangkul, dan selalu menggairahkan pergerakan. Selamat jalan, Mas Mirdasy. Saya yakin kematianmu adalah hadiah terbaik dari Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah: “Al-mautu hadiyyatun lil-mu’minin”—Kematian adalah hadiah bagi orang yang beriman.

Jakarta, 6 April 2026.

 

Tinggalkan Balasan

Search