Setiap manusia memiliki bagian rezeki di dunia yang telah Allah SWT sediakan. Rezeki terbentang di darat, di laut, di udara, dan di berbagai lini kehidupan. Namun bagian itu tidak akan datang begitu saja tanpa usaha dan kesiapan diri.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong Lamongan, Mat Iskan menegaskan, bagian dunia harus diupayakan dengan kapasitas dan integritas. Untuk memiliki kapasitas tentu saja dengan menuntut ilmu, mengikuti kursus dan sebagainya.
“Untuk memperoleh bagian di dunia yang sudah Allah SWT sediakan, tidak mungkin kita mendapatkannya tanpa memiliki kapasitas yang memadai dan integritas yang tinggi,” ujar Mat Iskan yang dikenal sebagai petani melon sukses itu.

Menurutnya, Allah telah menyediakan peluang dan rezeki. Namun manusia wajib menyiapkan diri agar layak menerimanya.
Enthos dan Etos: Dua Modal Utama
Dalam bahasa sederhana, Mat Iskan menyebut ada dua syarat penting untuk meraih bagian dunia, yakni enthos dan etos kerja.
Ia menjelaskan bahwa enthos dalam bahasa Jawa merujuk pada kemampuan atau keterampilan (skill). Sedangkan etos kerja berarti semangat, kesungguhan, komitmen, dan daya juang yang tidak mudah menyerah.
“Kalau ingin mendapatkan bagian di dunia, harus memiliki enthos kerja dan etos kerja.”
Tanpa dua hal tersebut, seseorang akan kesulitan bersaing dan bertahan. Sebaliknya, jika keduanya dimiliki, maka peluang untuk menikmati bagian dunia akan terbuka lebar.
“Dengan modal itu, insyaa Allah bagian dunia dapat kita nikmati. Kita mampu menjadi pemain yang handal.”
Jangan Hanya Jadi Penonton
Mat Iskan juga menyoroti realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Ia menilai sebagian warga masih lemah dalam keterampilan dan semangat kerja.
“Mayoritas belum memiliki enthos kerja dan etos kerjanya rendah,” tandasnya.
Kondisi ini membuat banyak orang belum mampu menjadi “pemain” dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Mereka hanya menjadi penonton di tengah arus perubahan dan persaingan.
“Dengan bahasa lain, belum mampu menjadi pemain. Dan ini menjadi masalah tersendiri yang harus ada solusinya.”
Ia mengingatkan, minimnya bagian dunia yang diperoleh sering kali bukan semata karena faktor eksternal, tetapi karena kelemahan internal.
“Ketika kita sangat minim mendapatkan bagian di dunia, itu memang karena internal kita sendiri minim enthos dan etos kerja,” tambahnya.
Menyiapkan Generasi Pemain Tangguh
Sebagai solusi, Mat Iskan mengajak umat untuk menyiapkan generasi yang terampil, kuat, dan pantang menyerah. Pendidikan keterampilan, pembinaan karakter, dan penguatan spiritual menjadi fondasi penting.
“Perlu disadari pentingnya menyiapkan pemain yang trampil, kuat, dan tidak mudah menyerah dalam mengail bagian di dunia ini.”
Pesan Mat Iskan ini menjadi refleksi, agar tidak hanya mengejar ibadah ritual, tetapi juga kerja keras dan profesionalitas. Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk diolah dengan amanah dan tanggung jawab.
Jangan sampai bagian yang telah Allah sediakan justru diambil oleh mereka yang lebih siap. Saatnya memperkuat enthos dan etos kerja agar kita tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut mengambil peran.
Karena pada akhirnya, dunia adalah ladang. Dan hanya mereka yang siap menjadi pemain yang akan memetik hasilnya. (afifun nidlom)
