Tidak ada yang lebih mngerikan selain matinya hati di dalam jasad yang masih hidup. Hati yang mati bukan berarti organ fisik, melainkan pusat kesadaran rohani: tempat iman, cinta, harapan, dan nurani bersemayam. Jasad yang hidup adalah tubuh yang masih bergerak, berfungsi, dan terlihat “normal” di mata dunia. Maka, ungkapan ini menggambarkan kehilangan roh kehidupan—hidup tanpa makna, tanpa arah, tanpa getaran fitrah
Jalan Menghidupkan Kembali Hati
Dalam tradisi Qur’ani dan spiritual, ada beberapa cara untuk menghidupkan hati yang mati:
* Tazkiyatun Nafs (Penyucian jiwa): Membersihkan hati dari penyakit seperti sombong, iri, dan cinta dunia.
* Tadabbur Al-Qur’an: Merenungi ayat-ayat Allah dengan hati yang terbuka.
* Dzikir dan doa: Menghubungkan diri dengan Sang Pencipta secara konsisten.
* Taubat dan refleksi: Mengakui kesalahan dan kembali kepada fitrah.
* Berbuat ihsan: Menebar kebaikan dengan niat tulus, bukan sekadar formalitas.
Beberapa ayat Al-Qur’an menggambarkan kondisi “hati yang mati” meskipun jasad masih hidup, sebagai bentuk kelalaian, kekufuran, atau penolakan terhadap kebenaran.
Berikut adalah ayat-ayat yang relevan dan menggugah:
1. QS. Al-Baqarah (2): 7
خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ࣖ
Artinya: Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka.5) Pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang sangat berat. (5) Allah Swt. telah mengunci hati dan telinga orang kafir sehingga nasihat atau hidayah tidak bisa masuk ke dalam hatinya.
Makna: Hati yang tertutup dari cahaya kebenaran, tidak bisa lagi menerima petunjuk, meski jasadnya masih hidup dan beraktivitas.
2. QS. Al-Baqarah (2): 10
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
Artinya: Dalam hati mereka ada penyakit,6) lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta. (6) Penyakit hati yang dimaksud adalah keraguan tentang kebenaran agama Islam, kemunafikan, atau kebencian terhadap kenabian Rasulullah saw.
Makna: Penyakit hati seperti nifak, dengki, dan kebohongan membuat hati membusuk secara ruhani.
3. QS. Al-Hajj (22): 46
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ
Artinya: Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.
Makna: Kebutaan sejati bukanlah fisik, tetapi kebutaan hati yang tidak mampu menangkap kebenaran dan hikmah
4. QS. Al-Mutaffifin (83): 14
كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.
Makna: Dosa-dosa yang terus dilakukan menutupi hati (disebut raan), hingga hati menjadi keras dan mati rasa terhadap kebenaran.
Salah satu hadis yang menggambarkan kondisi “matinya hati dalam jasad yang masih hidup” adalah sabda Rasulullah ﷺ tentang kerasnya hati dan hilangnya manfaat dari nasihat. Hadits ini menekankan bahwa hati yang tidak tersentuh oleh peringatan adalah hati yang telah mati secara ruhani.
Hadis yang Menggambarkan Matinya Hati
“Sesungguhnya peringatan hanya bermanfaat bagi orang yang menghadapkan hatinya. Orang yang tidur bisa dibangunkan, orang yang lalai bisa diingatkan. Tetapi siapa yang tidak bermanfaat baginya peringatan dan nasihat, maka dia adalah orang mati.” (Diriwayatkan dalam Hikam Imam Al-Haddad)
Makna:
* Orang yang masih bisa tersentuh oleh nasihat memiliki hati yang hidup.
* Orang yang tidak tergerak sama sekali oleh peringatan, walau jasadnya aktif, adalah seperti orang mati.
* Ini bukan kematian fisik, melainkan kematian spiritual—hati yang tertutup dari cahaya dan makna.
Hadis-Hadis Pendukung tentang Hati
“Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itulah hati.” ( HR. Bukhari dan Muslim )
Makna:
* Hati adalah pusat kehidupan ruhani.
* Jika hati rusak, maka seluruh perilaku dan orientasi hidup ikut rusak, meski tubuh masih berfungsi.
Refleksi: Hati yang Mati = Jiwa yang Terputus
* Tidak tersentuh oleh ayat-ayat Allah
* Tidak merasa bersalah saat berbuat dosa
* Tidak merasakan kelezatan ibadah
* Tidak peduli terhadap penderitaan sesama
* Tidak memiliki arah hidup yang bermakna. (*)
