Media Muhammadiyah Harus Jadi Lokomotif di Era Digital

Media Muhammadiyah Harus Jadi Lokomotif di Era Digital
www.majelistabligh.id -

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Nazaruddin Malik, mendorong seluruh media yang berafiliasi dengan Muhammadiyah untuk konsisten mempraktikkan jurnalisme profetik. Tujuannya tidak hanya demi menjaga kualitas informasi, tetapi juga menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai top-of-mind di mata publik.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Kajian Islam Multidisipliner (KIM) yang digelar Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM di Malang, Jumat (9/10/2026).

“Islam jangan tampil eksklusif. Ekosistem digital harus mendorong pengetahuan agama yang bernyawa. Media Muhammadiyah wajib menjadi lokomotif gerakan tajdid (pembaharuan) yang membuktikan bahwa Islam hadir memberi solusi nyata dalam kehidupan,” ujar Nazaruddin.

Ia menambahkan, menyongsong Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, Tim Materi Muktamar telah menyiapkan Risalah Kesemestaan Muhammadiyah. Risalah ini memetakan berbagai problematika kontemporer, mulai dari isu media digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga keseimbangan lingkungan. Dalam konteks ini, ia berharap PSIB UMM mampu menjadi “sampul depan” yang merepresentasikan kemajuan pemikiran Muhammadiyah.

Diskusi yang dipandu dosen Komunikasi UMM, Widiya Yutanti, tersebut menghadirkan dua narasumber: Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Dr. Roni Tabroni, serta Ketua Departemen Humas dan Kerja Sama PP Nasyiatul Aisyiyah, Maharina Novia Zahro.

Maharina menilai, selama ini warga Muhammadiyah cenderung kurang aktif dalam mengublikasikan kerja-kerja persyarikatan karena terlalu fokus pada aksi di lapangan. Padahal, menurutnya, bekerja dan memublikasikan kegiatan memiliki bobot kepentingan yang sama.

“Muhammadiyah harus merebut narasi agar dampak persyarikatan benar-benar dirasakan masyarakat luas. Ini bukan untuk pamer, melainkan bentuk PR-ing dakwah agar kebaikan itu menular,” terang Kepala Humas UMM tersebut.

Ia menekankan bahwa citra positif Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada visualisasi aksi semata, melainkan harus menyentuh manfaat nilai-nilai Islam berkemajuan yang dapat dirasakan langsung oleh publik.

Pergeseran dari Logika Algoritma ke Logika Profetik

Sementara itu, Dr. Roni Tabroni menyodorkan konsep jurnalisme profetik dan filantropi sebagai jalan tengah jurnalisme Islam berkemajuan. Konsep ini hadir untuk menjembatani dua kutub ekstrem: media yang mengejar sensasi dan media yang terlalu monoton hingga diabaikan publik.

“Media Muhammadiyah harus bergeser dari logika algoritma—yang mengejar clicks, viralitas, durasi tonton, dan sensasi—menuju logika profetik yang mengedepankan kemaslahatan, pencerahan, empati, serta verifikasi (tabayyun),” jelas dosen Komunikasi Universitas Muhammadiyah Bandung tersebut.

Roni juga mengimbau agar media Muhammadiyah lebih responsif dalam memberi arah dan panduan atas isu-isu aktual yang berkembang cepat di tengah masyarakat, sehingga menjadi rujukan utama warga persyarikatan.

Ia tidak memungkiri adanya tantangan kelembagaan, keterbatasan SDM, serta potensi konten yang monoton pada media afiliasi. Karena itu, ia mendorong transformasi menuju kemandirian media melalui model bisnis yang berkelanjutan, distribusi lintas platform, serta riset audiens yang terukur. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search