Melihat Diri Sebelum Melihat Orang Lain

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Bahrus Surur-Iyunk
Penulis tetap Rubrik Bina Akidah Majalah Suara Muhammadiyah

Dalam hidup ini, sering kali kita lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada merenungi kekurangan diri sendiri. Ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang anak yang merasa bosan pergi ke masjid. Anak ini lalu mengadu kepada ibunya atas keinginannya.

Rupanya, keinginan anak itu muncul karena sering menyaksikan perilaku jamaah yang tidak sesuai dengan harapannya. Menurut anak itu, banyak orang di masjid yang sibuk berbicara tentang orang lain, tidur-tiduran, makan-makan, merokok di teras masjid dan sebagainya. Bagi anak itu, mereka lupa bahwa mereka sedang berada di masjid yang semestinya beribadah, seperti membaca Al-Qur’an atau berdzikir atau taklim.

Mengetahui hal ini, sang ibu tidak langsung menegur, tetapi memberikan pelajaran berharga. Ibunya meminta anaknya membawa makanan kecil yang ditaruh di atas kepala dan melewati seluruh jamaah di masjid tanpa menjatuhkan makanan tersebut. Sepulang dari masjid, sang ibu bertanya, “Apa yang kamu lihat di masjid tadi?” Anak itu menjawab, “Saya tidak melihat apa-apa, karena saya sibuk menjaga agar makanan di atas kepala saya tidak jatuh.”

Dari kisah ini, ada pelajaran mendalam tentang introspeksi diri. Anak itu menyadari bahwa ketika ia fokus pada tugas dan dirinya sendiri, ia tidak lagi memperhatikan kekurangan orang lain. Layaknya seperti makanan yang harus dijaga agar tidak jatuh, perhatian kita seharusnya lebih banyak tertuju pada memperbaiki diri daripada mencari kesalahan orang lain.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak sibuk menilai orang lain, apalagi mencari kekurangan mereka. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk berprasangka baik dan fokus memperbaiki diri sendiri.

Setiap manusia ibarat cermin yang dapat memantulkan kebaikan dan kekurangan. Namun, cermin itu hanya akan berfungsi dengan baik jika kita membersihkannya terlebih dahulu, bukan mencari-cari debu di cermin orang lain. Sebuah kata mutiara mengingatkan, “Orang yang sibuk memperbaiki diri sendiri tidak akan punya waktu untuk menghakimi orang lain.”

Begitu pula dalam ibadah, fokuslah pada hubungan kita dengan Allah SWT. Jangan biarkan perilaku orang lain mengganggu keikhlasan kita. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memperbaiki dirinya, maka Allah akan memperbaiki urusan dunianya.” (HR. Ahmad)

Hidup ini adalah perjalanan untuk menjadi lebih baik. Jangan biarkan pandangan terhadap kekurangan orang lain menjadi penghalang langkah kita menuju kebaikan. Fokuslah pada amal dan keikhlasan kita kepada Allah, seperti anak yang menjaga makanan di atas kepalanya. Wallahu a’lamu. (*)

Tinggalkan Balasan

Search