Melintas Zaman dengan Dakwah yang Relevan

Melintas Zaman dengan Dakwah yang Relevan
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
Alumni Sekolah Tabligh PWM Jateng dan Anggota MT PCM Merden, Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Dakwah adalah tugas mulia. Namun tidak semua orang dapat melakukannya. Dakwah dalam arti profesional, membutuhkan keterampilan, metodologi, keilmuan dan ketulusan. Terlebih dakwah dimasa kini yang nota bene hidup dalam era digital.

Menjadi mubaligh di era digital bukan sekadar terampil berpidato di atas mimbar. Tantangan zaman menuntut mubaligh untuk adaptif, melek teknologi, dan memiliki kedalaman spiritual serta intelektual yang mumpuni. Mubaligh masa kini adalah jembatan antara teks suci (al qur`an dan hadists) yang statis dengan realitas sosial yang dinamis.

Mubaligh masa kini dihadapkan pada persoalan masyarakat yang kian dinamis dengan ragam problematikanya serta kemajuan digital yang masih hingga ke ruang-ruang pribadi. Kondsi demikian tentu membutuhkan strategi yang berbeda dari pola dakwah dulu yang konvensional serta dominan menggunakan mimbar.

Oleh karenanya, menjadi mubaligh masa kini mesti kritis dan inovatif agar dapat menyajikan materi dakwah dengan menarik, simpel dan mengena terutama bagi orang-orang yang sibuk di mana mereka tidak lagi betah duduk berlama-lama menyimak ceramah, namun lebih pada ingin menguasai materi dan pesan dakwah instan.

Harus kita sadari bersama bahwa demikianlah fenomena yang ada saat ini. Mubaligh mesti merespon situasi tersebut dengan cerdas agar misi dakwah dapat tertunaikan dengan baik tanpa kehilangan ruh dakwah.

Lepas dari itu, seorang mubaligh harus berangkat dari niat yang murni dan landasan syariat yang kuat. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT dalam QS. Ali Imran: 104:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar pilihan hobi, melainkan tugas struktural yang menentukan keselamatan sebuah bangsa. Dakwah juga tidak cukup dilakukan individual, namun harus dilakukan dengan sistem yang terorgansir agar hasilnya maksimal serta berdampak lebih luas. Atas dasar inilah maka lahir organisasi dakwah seperti Muhamamdiyah, NU, Persis dan lain sebagainya.

Pada kesempatan lain, Rasulullah SAW juga mempertegas dalam hadis sahih:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

Artinya: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”

Hadis di atas menyatakan bahwa dakwa sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa saja meskipun dirinya hanya mengetahui satu ayat. Namun dalam konteks yang lebih luas, dakwah mesti dilakukan secara sistematik agar memiliki arah dan tujuan yang jelas serta dampak yang luas terhadap kemajuan ummat dan bangsa.

Menurut Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka), seorang mubaligh harus memiliki “hikmah” yang merupakan perpaduan antara ilmu, ketulusan, dan kecerdikan dalam membaca situasi. Di masa kini, karakteristik tersebut dijabarkan menjadi beberapa poin utama.

Pertama, penguasaan literasi digital. Mubaligh tidak boleh “gagap teknologi”. Media sosial adalah mimbar baru. Jika mubaligh tidak mengisi ruang digital, maka ruang tersebut akan diisi oleh konten yang menjauhkan umat dari nilai agama.

Kedua, moderasi beragama (wasathiyah). Mubaligh masa kini harus berdiri di tengah, tidak ekstrem kanan (radikal) dan tidak ekstrem kiri (liberal). Hal ini sesuai dengan prinsip:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Ketiga, integritas moral (keteladanan). Pakar komunikasi Islam, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, sering menekankan bahwa “Lisan al-Hal” (bahasa perbuatan) jauh lebih efektif daripada “Lisan al-Maqal” (bahasa ucapan). Mubaligh harus menjadi contoh nyata dari apa yang dikhotbahkannya.

Mubaligh masa kini menghadapi sejumlah tantangan yang kompleks, tidak hanya bersifat fisik, melainkan intelektual dan mental, diantaranya; pertama, post-truth, di mana emosi lebih dipercaya daripada fakta. Mubaligh harus mampu menghadirkan data yang sahih di tengah badai hoaks.

Kedua, Pendangkalan agama. Audiens milenial dan Gen Z menyukai konten singkat. Mubaligh ditantang mengemas substansi yang berat menjadi ringan tanpa mengurangi kemurnian ajaran.

Ketiga, Materialisme yaitu adanya tekanan duniawi yang seringkali menguji keikhlasan seorang mubaligh.

Untuk menjadi mubaligh yang efektif saat ini, diperlukan beberapa strategi operasional seperti mapping audiens, multilingual dan dakwah bil Qalam. Mapping audiens adalah memahami psikologi pendengar (apakah mereka mahasiswa, pekerja, atau lansia). Multilingual, maksudnya kemampuan berbahasa asing atau bahasa daerah untuk menyentuh hati audiens secara spesifik dan dakwal bil qalam yaitu menulis buku, artikel, atau blog sebagai jejak intelektual yang abadi.

Dakwah hendaknya dilakukan dengan kelembutan dan ajakan yang empatik. Bukan dengan kekerasan ataupun paksankan. Terkait dengan hal ini, Rasulalah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekerasan.”(HR. Muslim).

Mubaligh masa kini harus menghindari cara-cara provokatif, mencaci, atau memecah belah umat. Dakwah harus bersifat merangkul, bukan memukul.

Menjadi mubaligh masa kini adalah sebuah panggilan untuk menjadi pahlawan peradaban. Ia harus tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam yang autentik, namun tetap terbang tinggi mengejar kemajuan zaman. Dengan integritas, ilmu, dan pemanfaatan teknologi, dakwah Islam akan tetap relevan dan menjadi Rahmatan lil ‘Alamin.

 

Tinggalkan Balasan

Search