Memahami Ayat-ayat Kauniyah

Memahami Ayat-ayat Kauniyah
*) Oleh : Muhammad Nashihudin, MSi
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:

{وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ}

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah. (Ar-Ra’d: 13)

Ayat ini semakna dengan firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala) yang mengatakan:

{وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ}

Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. (Al-Isra: 44)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، أَخْبَرَنِي أَبِي قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا إِلَى جَنْبِ حُمَيْد بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي الْمَسْجِدِ، فَمَرَّ شَيْخٌ مِنْ بَنِي غِفَارٍ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ حُمَيْدٌ، فَلَمَّا أَقْبَلَ قَالَ: يَا ابْنَ أَخِي، وَسِّعْ لَهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكَ، فَإِنَّهُ قَدْ صَحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ، فَقَالَ لَهُ حُمَيْدٌ: مَا الْحَدِيثُ الَّذِي حَدَّثْتَنِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فقال الشَّيْخُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ اللَّهَ يُنْشِئُ السَّحَابَ، فَيَنْطِقُ أَحْسَنَ النُّطْقِ، وَيَضْحَكُ أَحْسَنَ الضَّحِكِ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa’d, telah menceritakan kepadaku ayahku yang mengatakan bahwa ia duduk di sebelah Humaid ibnu Abdur Rahman di masjid, lalu lewatlah seorang syekh dari kalangan Bani Giffar, kemudian Humaid menyuruh seseorang untuk memanggilnya. Setelah syekh itu tiba, ia mengatakan, “Hai anak saudaraku, luaskanlah tempat duduk antara aku dan engkau.” Syekh itu pernah menemani Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) (yakni berpredikat seorang sahabat). Syekh itu datang, lalu duduk di antara aku dan Humaid. Humaid bertanya kepadanya, “Hadis apakah yang akan engkau ceritakan kepadaku dari Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).?” Syekh menjawab bahwa ia pernah mendengar dari seorang syekh dari kalangan Bani Giffar bercerita bahwa syekh yang kedua ini pernah mendengar Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: Sesungguhnya Allah mengadakan awan, maka awan itu dapat berbicara dengan suara yang paling baik dan dapat tertawa dengan tawa yang paling baik.

Makna yang dimaksud —hanya Allah yang lebih mengetahui— bahwa ucapan awan adalah petirnya, dan tertawanya ialah kilatnya.

Musa ibnu Ubaidah telah meriwayatkan dari Sa’d ibnu Ibrahim yang mengatakan bahwa Allah mengirimkan hujan, maka tiada tawa yang lebih baik daripada tawanya, dan tiada bicara yang lebih indah daripada bicaranya. Tertawanya adalah kilat, dan bicaranya adalah petir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ubaidillah Ar-Razi, dari Muhammad ibnu Muslim yang mengatakan, “Telah sampai kepada kami, suatu berita bahwa kilat adalah seorang malaikat yang memiliki empat muka, yaitu muka manusia, muka banteng, muka elang, dan muka singa; apabila mengibaskan ekornya, maka itulah kilatnya.”

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ، حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ، حَدَّثَنِي أَبُو مَطَرٍ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَمع الرعْد وَالصَّوَاعِقَ قَالَ: “اللَّهُمَّ، لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ، وَلَا تُهْلِكْنَا بِعَذَابِكَ، وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Abu Matar, dari Salim, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) apabila mendengar suara guruh dan petir, beliau mengucapkan doa berikut: Ya Allah, janganlah Engkau bunuh kami dengan murka-Mu, dan janganlah Engkau binasakan kami dengan azab-Mu, dan maafkanlah kami sebelum itu.

Hadis ini merupakan riwayat Imam Tirmidzi dan Imam Bukhari di dalam Kitabul Adab, serta Imam Nasai di dalam Bab “Zikir Malam dan Siang Hari”. Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-Hya meriwayatkannya melalui hadis Al-Hajjaj ibnu Artah, dari Abu Mathar, tetapi ia tidak menyebutkan namanya.

قَالَ [الْإِمَامُ] أَبُو جَعْفَرِ بْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَفَعَ الْحَدِيثَ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ قَالَ: “سُبْحَانَ مَنْ يُسبّح الرعْد بِحَمْدِهِ”.

Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Israil, dari ayahnya, dari seorang lelaki, dari Abu Hurairah yang me-rafa’-kannya (sampai kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam).). Disebutkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) membaca doa berikut apabila mendengar suara guruh: Mahasuci Tuhan yang guruh bertasbih dengan memuji-Nya.

Diriwayatkan dari Ali r.a. bahwa apabila ia mendengar suara guruh mengucapkan doa berikut: “Mahasuci Tuhan yang engkau bertasbih kepada-Nya.”

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Tawus, dan Al-Aswad ibnu Yazid, bahwa mereka mengucapkan doa tersebut.

Al-Auza’i mengatakan, “Ibnu Zakaria pernah berkata bahwa barang siapa yang mendengar suara guruh, lalu membaca doa ini, ‘Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya,’ niscaya dia tidak akan disambar petir.”

Dari Abdullah ibnuz Zubair, disebutkan bahwa apabila ia mendengar suara guruh, sedangkan ia dalam keadaan berbicara, maka ia menghentikan pembicaraannya dan mengucapkan doa, “Mahasuci Tuhan yang guruh dan para malaikat bertasbih kepada-Nya dengan memuji-Nya karena takut kepada-Nya.” Lalu ia berkata, “Sesungguhnya suara ini benar-benar merupakan peringatan yang keras bagi penduduk bumi.” Demikianlah menurut riwayat Imam Malik di dalam kitab Muwata-nya dan Imam Bukhari di dalam Kitabul Adab.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ، حَدَّثَنَا صَدَقة بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ، عَنْ شتيز بْنِ نَهَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ: لَوْ أَنَّ عَبِيدِي أَطَاعُونِي لَأَسْقَيْتُهُمُ الْمَطَرَ بِاللَّيْلِ، وَأَطْلَعْتُ عَلَيْهِمُ الشَّمْسَ بِالنَّهَارِ، وَلَمَا أَسْمَعْتُهُمْ صَوْتَ الرَّعْدِ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Wasi’, dari Ma’mar ibnu Nahar, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah bersabda: Tuhan kalian telah berfirman, “Sekiranya hamba-hamba-Ku taat kepada-Ku, tentulah Aku sirami mereka dengan air hujan di malam hari, dan Aku terbitkan kepada mereka matahari di siang harinya, dan tentulah Aku tidak akan memperdengarkan suara guruh kepada mereka.”

قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الجَحْدري، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ كَثِيرٍ أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْكَرِيمِ، حَدَّثَنَا عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا سَمِعْتُمُ الرَّعْدَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ؛ فَإِنَّهُ لَا يُصِيبُ ذَاكِرًا”.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya As-Saji, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al-Juhdari, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Kasir Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abdul Karim, telah menceritakan kepada kami Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah bersabda: Apabila kalian mendengar suara guruh, maka berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya guruh tidak akan mengenai orang yang berzikir.

*******

Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:

{وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ}

dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. (Ar-Ra’d: 13)

Artinya, Allah melepaskan petir sebagai azab-Nya yang Dia timpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Karena itulah halilintar banyak terjadi di akhir zaman, seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad. Ia mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُصْعَبٍ، حَدَّثَنَا عُمَارَةُ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ؛ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “تَكْثُرُ الصَّوَاعِقُ عِنْدَ اقْتِرَابِ السَّاعَةِ، حَتَّى يَأْتِيَ الرَّجُلُ الْقَوْمَ فَيَقُولُ: مَنْ صُعِقَ تِلْكُمُ الْغَدَاةَ؟ فَيَقُولُونَ صعِق فُلَانٌ وَفُلَانٌ وَفُلَانٌ”.

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mus’ab telah menceritakan kepada kami Imarah, dari AbuNadrah, dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah bersabda: Halilintar akan banyak bila hari kiamat telah dekat, sehingga seorang lelaki datang kepada suatu kaum, lalu ia mengatakan, “Siapakah yang telah disambar petir di antara kalian kemarin?” Maka mereka menjawab, “Si Fulan, si Fulan, dan si Fulan.”

Telah diriwayatkan sebuah hadis berkenaan dengan asbabun nuzul ayat ini oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli; telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Sarah Asy-Syaibani, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas, bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) mengirimkan seorang lelaki kepada seseorang dari kalangan orang-orang Badui yang kafir. Beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) memerintahkan kepada pesuruhnya itu, “Pergilah dan serulah dia untuk memeluk (agama)ku!” Pesuruh berangkat menuju tempat lelaki Badui itu. Setelah datang, ia berkata kepadanya, “Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menyerumu!” Lelaki Badui itu bertanya, “Siapakah Rasulullah, dan apakah Allah itu, apakah dari emas ataukah dari perak atau dari tembaga?” Pesuruh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) kembali menghadap kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan menceritakan apa yang dialaminya, Ia berkata kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam)., “Telah aku ceritakan kepadamu bahwa orang itu jauh lebih ingkar daripada apa yang diperkirakan. Dia mengatakan anu dan anu kepadaku (menunjukkan keingkarannya).” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda kepadaku, “Pergilah lagi kamu kepadanya!” Pesuruh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) berangkat lagi kepadanya untuk kedua kalinya, dan lelaki Badui yang diserunya mengatakan hal yang sama dengan sebelumnya. Maka pesuruh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) kembali dan berkata kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., “Wahai Rasulullah, telah aku ceritakan kepadamu bahwa dia lebih ingkar daripada itu.” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda kepadanya.”Kembalilah kamu dan serulah dia!” Pesuruh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) kembali kepada lelaki Badui itu untuk yang ketiga kalinya, tetapi lelaki Badui itu mengeluarkan jawaban yang sama kepada utusan Rasulullah. Ketika sedang berbicara dengan utusan Rasulullah, tiba-tiba Allah mengirimkan awan di atas kepala lelaki Badui itu, lalu awan tersebut mengeluarkan guruhnya, dan petir menyambar lelaki Badui itu mengenai kepalanya sehingga kepalanya hilang. Maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menurunkan firman-Nya: dan Allah melepaskan halilintar. (Ar-Ra’d: 13), hingga akhir ayat.

 

Tinggalkan Balasan

Search