Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Ali ibnu Abu Sarah dengan sanad yang sama.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar meriwayatkannya dari Abdah ibnu Abdullah, dari Yazid ibnu Harun, dari Dulaim ibnu Gazwan, dari Sabit, dari Anas, lalu disebutkan hal yang semisal.
Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Aban ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Abdur Rahman ibnu Sahhar Al-Abdi. Disebutkan bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah mengutusnya kepada seseorang yang berlaku sewenang-wenang untuk menyerunya agar memeluk Islam. Tetapi lelaki yang diserunya bertanya, “Bagaimanakah menurut kalian tentang Tuhan kalian, apakah dari emas, atau dari perak atau dari permata?” Ketika lelaki yang diseru itu membantah mereka yang menyerunya, tiba-tiba Allah mengirimkan segumpal awan, lalu awan itu mengeluarkan suara guruhnya, kemudian Allah melepaskan halilintar mengenai lelaki yang diseru itu sehingga kepalanya hilang. Dan turunlah ayat ini.
Abu Bakar ibnu Ayyasy telah menceritakan dari Lais ibnu Sulaim, dari Mujahid yang mengatakan bahwa seorang Yahudi datang kepada Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam)., lalu berkata, “Hai Muhammad, ceritakanlah kepadaku tentang Tuhanmu, terbuat dari apa, apakah dari tembaga atau dari mutiara atau dari batu yaqut?” Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu datanglah halilintar menyambar lelaki itu hingga binasa, kemudian Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menurunkan firman-Nya: dan Allah melepaskan halilintar. (Ar-Ra’d: 13), hingga akhir ayat.
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa pernah ada seorang lelaki yang ingkar kepada Al-Qur’an dan mendustakan Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) Lalu Allah mengirimkan halilintar untuk menyambarnya hingga binasa, kemudian Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menurunkan Firman-Nya: dan Allah melepaskan halilintar. (Ar-Ra’d: 13), hingga akhir ayat.
Sehubungan dengan asbabun nuzul ayat ini ulama tafsir menceritakan kisah Amir ibnut Tufail dan Arbad ibnu Rabi’ah ketika keduanya tiba di Madinah dan menghadap kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., lalu keduanya meminta separo dari urusan itu buat mereka berdua kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Tetapi Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menolak permintaan mereka berdua. Maka Amir ibnut Tufail berkata kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar akan memenuhi kota Madinah untuk memerangimu dengan pasukan berkuda dan pasukan jalan kaki.” Maka Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menjawabnya, “Allah pasti menolakmu melakukan hal tersebut, demikian pula orang-orang Ansar.” Kemudian keduanya berniat akan membunuh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Untuk itu, salah seorang dari keduanya mengajak Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) berbicara, sedangkan yang lainnya menghunus pedang untuk membunuh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dari arah belakang. Akan tetapi, Allah (Subhanahu wa Ta’ala) melindungi diri Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dari perbuatan keduanya dan menjaganya. Akhirnya keduanya pergi meninggalkan kota Madinah, lalu berkeliling menemui kabilah-kabilah Arab Badui, mengumpulkan orang-orangnya buat memerangi Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka Allah mengirimkan awan yang mengandung halilintar kepada Arbad, kemudian Arbad mati terbakar disambar halilintar. Adapun Amir ibnut Tufail, Allah mengirimkan penyakit ta’un kepadanya; akhirnya tubuh Amir terkena penyakit bisul yang besar, sehingga Amir merintih-rintih kesakitan dan berkata, “Hai keluarga Amir, aku terserang bisul seperti bisul punuk unta, dan kematianku sudah dekat, yaitu di rumah keluarga Saluliyah.” Akhirnya matilah keduanya. Semoga mereka berdua dilaknat oleh Allah. Sehubungan dengan peristiwa seperti itu Allah menurunkan firman-Nya: dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah. (Ar-Ra’d: 13)
Sehubungan dengan peristiwa itu Lubaid ibnu Rabi’ah (saudara lelaki Arbad) mengatakan dalam bait syairnya yang mengungkapkan rasa belasungkawanya, “Aku merasa khawatir maut akan merenggut Arbad, tetapi aku tidak merasa takut akan keselamatannya terhadap hujan-Mu dan singa. Tetapi sangat mengejutkan aku halilintar dan guruh yang menggelegar menyambar seorang pendekar di hari yang sangat kubenci di Najd.”
Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mas’adah ibnu Sa’id Al-Attar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir Al-Hizami, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz ibnu Imran, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman dan Abdullah (keduanya anak Zaid ibnu Aslam), dari ayahnya, dari Ata ibnu Yasar, dari Ibnu Abbas, bahwa Arbad ibnu Qais ibnu Hazz ibnu Jalid ibnu Ja’far ibnu Kilab dan ‘Amir ibnut Tufail ibnu Malik tiba di Madinah untuk menjumpai Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Lalu keduanya menjumpainya, saat itu Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) sedang duduk; maka keduanya duduk di hadapan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Amir ibnut Tufail berkata, “Hai Muhammad, apakah yang akan engkau berikan kepadaku jika aku masuk Islam?” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, “Engkau akan memperoleh hak seperti kaum muslim lainnya dan mempunyai kewajiban yang sama dengan mereka.” Amir ibnut Tufail berkata lagi “Apabila aku masuk Islam, maukah engkau jika aku memegang tampuk pemerintahan sesudahmu?” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda, “Hal itu bukanlah untukmu, bukan pula untuk kaummu, tetapi engkau boleh memegang tali kendali kuda (memimpin pasukan berkuda).” Amir menjawab, “Sekarang saya adalah pemimpin pasukan berkuda Najd. Berikanlah kepadaku kekuasaan atas daerah-daerah pedalaman, dan engkau mempunyai kekuasaan di daerah-daerah perkotaan.” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menjawab, “Tidak.” Ketika keduanya telah pergi dari hadapan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., berkatalah Amir, “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku akan memenuhi kota Madinah dengan pasukan berkuda dan pasukan jalan kaki untuk memerangimu.” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menjawabnya, “Allah pasti mencegahmu.” Setelah Arbad dan Amir keluar dari sisi Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., Amir berkata, “Hai Arbad, aku akan menyibukkan Muhammad darimu dengan pembicaraan, lalu pukullah dia olehmu dengan pedang. Karena sesungguhnya orang-orang Madinah itu —bila kamu membunuh Muhammad— paling tidak tuntutan mereka adalah diat. Mereka pasti tidak mau berperang, maka kita beri mereka diat-nya.” Arbad berkata, “Akan saya lakukan.” Keduanya kembali lagi menemui Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Amir berkata, “Hai Muhammad, kemarilah bersamaku, aku akan berbicara denganmu.” Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) bangkit dan pergi bersama Amir, lalu keduanya duduk di dekat pagar kebun kurma. Amir berbincang-bincang dengan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., sedangkan Arbad menghunus pedangnya. Tetapi ketika Arbad meletakkan tangannya pada gagang pedang, tiba-tiba tangannya kaku dan menempel pada gagang pedangnya sehingga ia tidak dapat mencabut pedang. Ketika Arbad dalam keadaan demikian, dalam waktu yang cukup lama dirasakan oleh Amir, tiba-tiba Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) berpaling ke belakang dan melihat Arbad dalam posisinya yang demikian, maka beliau pergi meninggalkan keduanya. Akhirnya Amir dan Arbad pergi dari hadapan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., dan ketika keduanya telah sampai di Al-Harrah —yaitu Harrah Raqim— keduanya turun beristirahat. Sa’d ibnu Mu’az dan Usaid ibnu Hudair keluar (dari Madinah) mengejar keduanya. Sa’d dan Usaid berkata, “Tampakkanlah dirimu, hai dua orang lelaki musuh Allah; semoga Allah melaknatmu berdua!” Amir bertanya, “Siapakah temanmu itu, hai Sa’d?” Sa’d menjawab, “Ini adalah Usaid ibnu Hudair, panglima pasukan.” Keduanya pergi dari Madinah. Ketika sampai di Ar-Raqm, Allah mengirimkan halilintar bagi Arbad, lalu halilintar menyambarnya hingga mati. Sedangkan Amir ketika ia sampai di Al-Kharim, Allah menimpakan penyakit bisul yang membinasakannya. Pada malam harinya ia sampai di rumah seorang wanita dari kalangan Bani Salul, lalu ia mengusap bisul di tenggorokannya seraya berkata, “Bisul seperti punuk unta di rumah seorang wanita Bani Salul,” dengan harapan dia ingin mati di rumah wanita itu. Pada keesokan harinya ia mengendarai kudanya pulang ke negerinya, tetapi di tengah jalan ia sekarat dan mati. Sehubungan dengan peristiwa kedua orang itu Allah menurunkan firman-Nya: Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan. (Ar-Ra’d: 8) sampai dengan firman-Nya: dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Ra’d: 11)
Perawi mengatakan bahwa malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran menjaga Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) atas perintah Allah. Kemudian perawi menyebutkan kisah Arbad dan kematiannya, lalu membacakan firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).: dan Allah melepaskan halilintar. (Ar-Ra’d: 13), hingga akhir ayat.
