Memahami Takdir: Harmoni antara Usaha, Doa, dan Ketundukan kepada Allah

www.majelistabligh.id -

Takdir bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan landasan untuk bangkit dan berusaha. Dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian, iman kepada takdir menjadi fondasi yang menenteramkan hati sekaligus menggerakkan langkah.

Namun, bagaimana seharusnya seorang Muslim memahami takdir agar tidak terjebak dalam sikap pasif atau fatalistik?

Pertanyaan mendalam ini menjadi inti khotbah Jumat yang disampaikan Mahli Zainuddin Tago di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada Jumat (9/5/2025).

Dalam khotbah tersebut, Mahli menjelaskan bahwa keimanan kepada takdir tidak hanya berkaitan dengan penerimaan terhadap nasib, tetapi juga menyangkut keseimbangan antara ikhtiar, tawakal, dan tanggung jawab manusia dalam menjalani hidup.

Dia memulai khutbah dengan pendekatan sosiologis melalui pandangan Max Weber, seorang pemikir Barat yang menyatakan bahwa keyakinan agama berpengaruh besar terhadap tindakan sosial, termasuk dalam bidang ekonomi.

Sebagai contoh, Mahli mengangkat bagaimana ajaran Calvinisme di Barat memberi sumbangan besar pada perkembangan kapitalisme karena adanya keyakinan bahwa kerja keras adalah cerminan dari kehendak Tuhan.

Pandangan ini menunjukkan bahwa agama, jika dipahami dengan benar, dapat mendorong manusia untuk aktif dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam usaha ekonomi dan sosial.

Setelah menyinggung pengaruh agama terhadap masyarakat, Mahli memfokuskan pembahasan pada konsep takdir dalam Islam.

Dia menguraikan tiga istilah penting yang saling berkaitan, yaitu qada, qadar, dan takdir. Qada merujuk pada kehendak atau keputusan Allah atas segala sesuatu, qadar adalah ukuran atau ketentuan Allah termasuk pengetahuan-Nya tentang masa depan, sedangkan takdir adalah hasil akhir dari ketentuan tersebut yang tampak dalam realitas kehidupan.

Takdir, menurut Mahli, hanya bisa disebut ketika sebuah peristiwa telah terjadi—itulah yang biasa kita sebut sebagai nasib.

Lebih lanjut, Mahli mengupas tiga pendekatan teologis dalam memahami takdir. Pertama adalah aliran Jabariah yang bersifat fatalistik, yang melihat manusia sebagai makhluk yang sepenuhnya tunduk tanpa kebebasan kepada kehendak Tuhan.

Dalam pandangan ini, manusia tidak memiliki andil dalam menentukan nasibnya. Kedua, Mahli menyebut pandangan Qadariah yang berada di sisi ekstrem lainnya, yaitu menekankan sepenuhnya kebebasan manusia dalam menentukan pilihan, bahkan seolah-olah kehendak Tuhan dibatasi oleh kehendak manusia.

Ketiga adalah pendekatan tengah yang lebih moderat dan seimbang—yakni bahwa manusia adalah musayyar (terikat dengan ketentuan Allah), tetapi sekaligus mukhayyar (memiliki pilihan dan tanggung jawab atas tindakannya).

Menurut Mahli, Islam berada pada posisi yang menyeimbangkan antara takdir dan kebebasan manusia. Manusia diberi ruang untuk berikhtiar dan memilih jalan hidupnya, sehingga ia juga dimintai pertanggungjawaban atas pilihannya. Inilah dasar dari konsep pahala dan dosa dalam Islam.

“Manusia bisa memilih, dan karena itu ia akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihannya, apakah ia taat menjalankan perintah Allah atau malah melanggar larangan-Nya,” tegas Mahli.

Salah satu hikmah dari keimanan kepada takdir, menurut Mahli, adalah munculnya kesadaran akan adanya hukum-hukum Allah di alam semesta (sunnatullah).

Kesadaran ini mendorong manusia untuk mempelajari ilmu pengetahuan, berusaha secara maksimal, dan tetap berserah diri kepada Allah setelah segala ikhtiar dilakukan.

Dalam Islam, tawakal tidak berarti menyerah sebelum berjuang, tetapi justru memulai segala sesuatu dengan usaha, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Untuk memperkuat pesan tersebut, Mahli mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Ketika seorang Badui bertanya kepada Nabi, apakah ia harus mengikat untanya atau cukup bertawakal kepada Allah, Nabi menjawab, “I’qilha wa tawakkal”—”Ikatlah untamu, lalu bertawakallah kepada Allah.” Ini menunjukkan bahwa tawakal yang benar harus diawali dengan ikhtiar yang maksimal.

Dalam khutbah tersebut, Mahli juga membagikan pengalaman pribadinya yang sangat inspiratif. Ia pernah diberi amanah sebagai rektor di sebuah institusi yang saat itu belum memiliki gedung kampus dan juga tidak memiliki dana operasional.

Namun, ia menjalani tugas tersebut dengan penuh ikhtiar dan tawakal. Berkat pertolongan Allah yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka, ia mendapatkan dukungan luar biasa: mulai dari rumah dan mobil dinas, hingga tanah wakaf seluas dua hektar senilai Rp40 miliar dan kebun kopi seluas 20 hektar dari seorang dermawan yang peduli terhadap dunia pendidikan.

“Ini adalah bukti nyata bahwa keimanan kepada takdir, disertai dengan usaha keras dan doa yang tulus, akan melahirkan hasil yang baik dan membawa kebaikan yang besar,” ungkap Mahli dengan penuh rasa syukur.

Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah tidak akan datang begitu saja, melainkan melalui proses usaha dan doa.

Pada khutbah kedua, Mahli mengajak seluruh jemaah untuk memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT dan mempercayai takdir dengan pemahaman yang benar. Dengan begitu, hati menjadi lebih tenang dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

Da menekankan pentingnya sikap syukur ketika mendapatkan nikmat, dan sabar ketika menghadapi ujian hidup. “Apapun yang terjadi dalam hidup ini, jika itu nikmat maka kita harus bersyukur, dan jika itu ujian maka kita harus bersabar,” pesan Mahli yang disambut dengan penuh perhatian oleh para jemaah.

Khotbah ditutup dengan doa bersama agar seluruh jemaah senantiasa diberi kekuatan untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mahli berharap agar setiap Muslim wafat dalam keadaan bertakwa.

Dia menutup khutbah dengan bacaan: “Barakallahu li wa lakum bil Qur’anil karim,” seraya memohon keberkahan Al-Qur’an bagi dirinya dan seluruh jemaah. (*/wh)

 

Tinggalkan Balasan

Search