Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. KH. Muhammad Sholihin Fanani, menyampaikan tausiyah yang mendalam tentang pentingnya menjaga kemurnian ajaran Islam.
Dalam tausiyah tersebut, dia menjelaskan inti agama terletak pada tiga pilar utama: tauhid yang murni, ibadah yang ikhlas, dan akhlak yang istikamah.
“Agama ini harus dijaga dari penyimpangan. Perlindungannya dimulai dari memurnikan tauhid, meluruskan ibadah, dan membiasakan diri dengan akhlak mulia,” ujarnya.
Menurut Kiai Sholihin, tauhid bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi harus mencakup tiga dimensi: pengakuan Allah sebagai Ilah, sebagai Rabb, dan keimanan terhadap Asma’ wa Sifat-Nya.
“Ilah berarti sesembahan. Jika kita bersyahadat La ilaha illallah, maka tidak boleh ada sesembahan selain Allah. Kalau masih menyembah selain Allah, syahadatnya gugur,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Allah harus diyakini sebagai Rabb, yakni pelindung dan penolong dalam hidup.
“Dalam salat, kita membaca Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Maka, jika menghadapi masalah, jangan lari ke gunung atau mencari dukun. Kembalilah kepada Rabb kita,” jelasnya.
Aspek ketiga dari tauhid adalah meyakini Allah melalui Asmaul Husna. Kiai Sholihin mendorong umat Islam untuk menghafal dan memahami makna nama-nama Allah tersebut sebagai bentuk penghayatan terhadap keagungan-Nya.
“Syukur-syukur bisa dihafalkan, tapi jangan hanya hafal. Pahami maknanya. Dari Asmaul Husna kita belajar bahwa Allah itu Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Melihat, dan sebagainya,” tambahnya.
Kiai Sholihin menyebutkan bahwa ibadah tidak hanya aspek fisik, tetapi harus mencakup kesucian jiwa dan kedekatan spiritual.
“Ada tiga unsur inti dalam ibadah,” terangnya.
Pertama, tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa. Orang yang salat harus bersih hatinya, pikirannya, bahkan pakaiannya. Ia juga menekankan pentingnya wudu sebagai simbol kebersihan lahir dan batin.
Kedua, ibadah adalah taqarrub ilallah atau pendekatan diri kepada Allah.
“Salat adalah saat kita berhadapan langsung dengan Allah. Sayangnya, banyak yang tubuhnya salat, tapi jiwanya mengembara ke mana-mana. Makanya penting untuk khusyuk dengan meresapi bacaan salat,” tuturnya.
Ketiga, ibadah selalu melibatkan doa. Ia menyebut doa sebagai “otaknya ibadah”.
“Puncak doa itu saat sujud. Maka perbanyaklah berdoa dalam sujud dan setelah salat. Jangan lupa doakan kedua orang tua,” pesannya.
Menurut Kiai Sholihin, akhlak yang mulia adalah hasil dari tauhid yang benar dan ibadah yang ikhlas. Ia menjabarkan lima karakter utama akhlak yang harus dimiliki seorang Muslim:
Rasa malu. “Al-hayā’ syu‘batun min al-īmān. Malu itu bagian dari iman. Jika rasa malu hilang, kehancuran tinggal menunggu waktu,” katanya.
Dermawan (loman). “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Memberi lebih utama daripada meminta,” lanjutnya.
Sabar. Ia mengkritik masyarakat yang mudah marah hanya karena hal sepele. “Padahal sabar itu kekuatan,” ujarnya.
Memaafkan. Kiai Sholihin mengakui bahwa memaafkan adalah hal yang berat namun sangat mulia.
“Orang terbaik adalah yang memaafkan bahkan sebelum diminta maaf,” tegasnya.
Berani meminta maaf lebih dulu. Ia menyayangkan banyak orang yang enggan mengakui kesalahan.
“Minta maaf bukan tanda kelemahan, tapi kekuatan jiwa,” cetus dia.
Di akhir tausiyahnya, Kiai Sholihin mengingatkan bahwa Islam tidak bisa dijalani secara parsial.
“Kalau hanya kuat di tauhid tapi buruk dalam akhlak, itu cacat. Kalau rajin ibadah tapi tidak punya rasa malu, ya rusak juga. Semuanya harus utuh,” ujarnya.
Dengan keseimbangan antara keyakinan, ibadah, dan perilaku, umat Islam akan mampu menjaga nilai-nilai luhur agamanya dalam kehidupan sehari-hari. (wh)
