Selasa, 18 November 2025 merupakan Milad ke-113 Muhammadiyah, seabad lebih sejak kelahirannya pada 18 November 1912, dengan mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.” Seperti pohon yang berdiri kokoh dengan akar yang kuat, Muhammadiyah telah menebar manfaat ke seantero jagat. Sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar, akar yang kuat itu melambangkan kekuatan iman dan tauhid yang menancap dalam ke dalam tanah, mengisap nutrisi dan air, sehingga pohon tetap tegak dan kokoh.
Sebagai gerakan dakwah rahmatan lil alamin, batangnya yang kokoh melambangkan ketabahan dan kesabaran, menopang cabang dan ranting yang luas, dan menjaga keseimbangan pohon. Simbol kekuatan dan keteguhan yang tak lekang oleh zaman. Melambangkan kebesaran amal usaha yang menjangkau ke segala penjuru, memberikan naungan dan perlindungan bagi semua yang berlindung di bawahnya.
Sebagai gerakan sosial, ranting-rantingnya yang lembut melambangkan kelembutan dan kasih sayang, yang menyentuh hati dan jiwa, memberikan kesegaran dan kesejukan.
Sebagai gerakan ilmu, daun-daunnya yang rindang melambangkan kesuburan ilmu, yang terus tumbuh dan berkembang, memberikan oksigen dan kehidupan bagi semua yang hidup di bawah naungannya.
Sebagai gerakan amal, Muhammadiyah ibarat pohon yang terus menjadi sumber inspirasi, kekuatan, dan harapan bagi umat, sekaligus mengawal setiap babak transformasi sejarah bangsa menuju kemajuan. Sejalan dengan tema Milad tahun ini, semangat menghidup-hidupi Muhammadiyah perlu dipahami sebagai ajakan berkhidmat secara utuh bagi seluruh warga persyarikatan untuk memajukan kesejahteraan bangsa melalui penguatan kemuhammadiyahan dalam enam ikhtiar utama.
Pertama, perenungan sejarah dan perjuangan. Makna usia ke 113 harus menjadi momen refleksi sejarah perjalanan panjang perjuangan Muhammadiyah untuk ummat dan bangsa. Bagaimana KH. Ahmad Dahlan dan para tokoh Muhammadiyah memberikan dedikasi yang luar biasa. Mereka mengajarkan betapa pentingnya nilai-nilai dakwah dan mujahadah, keikhlasan, dan konsistensi (istiqomah) dalam membangun organisasi. Keistiqomahan mereka menjadi bukti keberadaan Muhammadiyah sampai saat ini.
Kedua, penguatan identitas dan nilai dasar. Dalam praktiknya sebagai ummat Muhammad SAW, Al Quran dan Hadits harus menjadi dasar teologis dan sosialis (mu’amalah) oleh setiap muslim. Komitmen bermuhammadiyah adalah komitmen pada nilai dan implementasi keduanya. Meneguhkan komitmen pada prinsip Khittah Muhammadiyah (kemurnian tauhid, tajdid, dan amar ma’ruf nahi munkar) harus tetap diamalkan.
Mempertahankan karakter Persyarikatan sebagai gerakan dakwah, ilmu, dan amal harus tetap menjadi ruh pergerakan. Akidah berislam, bermuhammadiyah tidak boleh dicampur adukkan dengan akidah pribadi yang berorientasi atas nama nafsu duniawi yang dapat merusak citra organisasi.
Dalam konteks pergerakan, ada dokumen Risalah Islam Berkemajuan (RIB) hasil Muktamar ke-48 sebagai panduan gerakan Muhammadiyah. Oleh karena itu, kiprah Muhammadiyah harus dijabarkan kedalam empat aspek gerakan, yaitu sebagai gerakan dakwah Islam rahmatan Lil alamin, tajdid atau pembaharuan, ilmu, dan amal (Hilman Latief, 2022). Sehingga dalam implementasinya, keempat gerakan ini harus senantiasa diintegrasikan dengan dasar teologis yang tak terpisahkan.
Ketiga, penguatan literasi dan transformasi digital. Kemampuan survival (bertahan hidup) menjadi kunci keberlanjutan dan eksistensi Muhammadiyah hingga saat ini. Era teknologi menghadirkan tantangan tersendiri bagi persyarikatan untuk semakin profesional, responsif, dan berkemajuan dalam menjalankan peran kelembagaannya. Muhammadiyah senantiasa menghadirkan pembaruan dalam kehidupan beragama dan bermuamalah melalui Majelis Tarjih, seperti penyajian informasi penentuan awal Ramadan dan Syawal serta Hari Raya Idul Adha yang lebih awal, dan yang terbaru berupa lahirnya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Keempat, penguatan peran bagi bangsa dan umat. Spirit fastabiqul khairat dalam pengelolaan organisasi menjadi kunci utama kiprah Muhammadiyah yang melahirkan berbagai inovasi dan prestasi. Konsistensi dalam bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, dan sosial melalui masjid, sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan merupakan wujud nyata sentuhan persyarikatan terhadap umat.
Dalam skala global, Muhammadiyah juga menjadi pelopor moderasi Islam, penguatan prinsip wasatiyyah, dan gerakan perdamaian melalui partisipasi aktif dalam isu-isu kebangsaan dan global, seperti kerja sama dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat (NGO) internasional serta peran aktif dalam upaya pembelaan dan perdamaian bagi rakyat Palestina. Dengan demikian, peran Muhammadiyah tidak hanya membangun kehidupan pada tataran lokal (bangsa), tetapi telah merambah hingga tingkat global (Haedar Nashir, 2023).
Kelima, penjagaan marwah dan nama baik persyarikatan. Usia satu abad lebih adalah usia yang sangat sepuh. Implementasi risalah Islam Berkemajuan harus menjadi motivasi untuk menjaga kehormatan organisasi yang rahmatan lil alamin. Yang tentu harus diimbangi dengan meningkatnya kualitas dan kuantitas keorganisasian dan individu didalamnya. Kinerja intelektual dan profesional setiap Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harus menjadi refleksi dan kepanjangan tangan kiprah persyarikatan yang makin positif, transparan, dan akuntabel. Akhlak, adab dan literasi beragama dan bernegara baik atas nama organisasi maupun individu harus mencerminkan nama besar persyarikatan.
Terakhir, penguatan sinergi dan kolaborasi. Momentum Milad harus menjadi ajang konsolidasi seluruh elemen persyarikatan di semua tingkatan. Keluarga besar Muhammadiyah tidak hanya diajak aktif mengikuti berbagai rangkaian seremonial Milad, tetapi juga diajak untuk menyatukan visi keummatan, syiar, dan dakwah.
Milad perlu dimaknai sebagai momentum evaluasi program kerja sekaligus percepatan langkah-langkah strategis. Sinergi antara AUM besar yang menguatkan dan memajukan AUM kecil, Pimpinan Wilayah dengan Daerah, Daerah dengan Cabang, Cabang dengan Ranting, masjid dan musala sebagai basis jamaah, serta seluruh ortom menjadi kunci terwujudnya kebersamaan untuk maju bersama persyarikatan.
Setiap peran perlu mendapat apresiasi yang layak dan proporsional. Kebesaran organisasi merupakan akumulasi dari berbagai potensi dan kontribusi banyak pihak; tidak hanya jajaran pimpinan, tetapi juga peran, partisipasi, dan pengabdian seluruh anggota serta jamaah Muhammadiyah. Termasuk di dalamnya dukungan para simpatisan di luar persyarikatan, baik dari kalangan masyarakat maupun pemerintah. Semua memiliki andil dalam memajukan persyarikatan. Setiap peran, sekecil apa pun, harus dimaknai sebagai bagian dari amal saleh, dakwah, dan mujahadah.
Marwah dan kehormatan Muhammadiyah sebagai organisasi harus diimbangi dengan upaya menjaga marwah kita sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. Dengan apa? Tentu dengan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis serta manhaj Muhammadiyah dalam kehidupan profesional kita masing-masing. Melalui jalan itulah diharapkan lahir kesejahteraan: jasmani dan ruhani, dunia maupun akhirat. Selamat Milad ke-113 Muhammadiyah-ku; makin menyala dalam berkhidmat, makin terarah dalam melangkah, menggapai Rahmat yang tak terkira! Aamiin.
Nasrun minallahi wa fathun qorib.
