Memanen Berkah di Bulan Syakban

Memanen Berkah di Bulan Syakban
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
Alumni Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah dan Anggota MT PCM Merden Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Dalam kalender Hijriyah, Syakban merupakan bulan kedelapan yang terletak di antara dua bulan agung: Rajab dan Ramadan. Seringkali, manusia terjebak dalam euforia bulan Rajab karena kemuliaannya sebagai bulan haram, atau terlalu fokus menunggu Ramadan, sehingga Syakban terabaikan. Padahal, Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada bulan ini sebagai masa “pemanasan” rohani sebelum memasuki madrasah Ramadan.

Secara bahasa, Syakban berasal dari kata sya’aba yang berarti memancar atau berpencar. Dinamakan demikian karena pada bulan ini masyarakat Arab zaman dahulu berpencar untuk mencari air, atau berpencar di gua-gua untuk mencari perlindungan. Dalam konteks ibadah, Syakban adalah waktu di mana kebaikan memancar sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan.

Keistimewaan utama bulan Syakban terletak pada dua hal yaitu sebagai waktu diangkatnya amal dan sebagai bulan latihan berpuasa. Rasulullah SAW menjelaskan alasan beliau memperbanyak puasa di bulan. Beliau bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Bulan tersebut (Syakban) adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam. Maka aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i, dinilai hasan oleh Al-Albani).

Aisyah RA, istri Nabi SAW memberikan kesaksian betapa istimewanya bulan Syakban bagi Rasulullah:

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

Artinya: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa (sunnah) daripada di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari & Muslim).

Pada pertengahan bulan Sya’ban atau yang lebih dikenal dengan nisfu Syakban, memiliki kedudukan tersendiri. Meskipun ada perdebatan mengenai derajat beberapa hadis terkait, terdapat riwayat yang dianggap kuat oleh sebagian ulama mengenai ampunan Allah pada malam tersebut.

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Artinya: “Allah memantau makhluk-Nya pada malam Nisfu Syakban dan mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang sedang bermusuhan.” (HR. Ibnu Hibban dan Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ad-Shahihah).

Pelajaran penting yang bisa diambil dari hadis di atas adalah bahwa syarat untuk mendapatkan ampunan di malam ini bukan sekadar bangun malam, melainkan membersihkan tauhid dari syirik dan membersihkan hati dari kebencian (dengki) terhadap sesama Muslim.

Secara eksplisit, Al-Qur’an tidak menyebut kata “Syakban”. Namun, para ulama sering mengaitkan kesiapan rohani dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah: 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ…

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram…”

Meskipun Syakban bukan termasuk bulan haram (yang empat adalah Dzulkadah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), posisinya yang menjepit antara bulan haram dan bulan wajib (Ramadhan) menjadikannya masa transisi yang krusial untuk menjaga momentum ibadah.

Para ulama menyamakan urutan bulan dengan proses bercocok tanam. Abu Bakr al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram tanaman, dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman.” Beliau juga menambahkan: “Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan, dan bulan Ramadhan seperti hujan.”

Sedangkan Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif: menjelaskan bahwa puasa di bulan Syakban memiliki kedudukan seperti salat sunnah rawatib sebelum salat fardhu. Sebagaimana rawatib mempersiapkan jiwa untuk shalat wajib, puasa Sya’ban mempersiapkan jiwa untuk menyongsong puasa Ramadhan agar tidak kaget dan terasa berat.

Berbeda dari keduanya, Salamah bin Kuhail berkata, dahulu dikatakan bahwa bulan Syakban adalah Syahrul Qurra’ (Bulan para pembaca Al-Qur’an). Para salaf pada bulan ini menutup toko-toko mereka dan memfokuskan diri untuk mengkhatamkan Al-Qur’an sebagai persiapan agar saat Ramadhan tiba, lisan mereka sudah terbiasa dengan kalamullah.

Mengingat keistimewaan bulan Syakban, sangatlah rugi bila tidak mengisinya dengan amal ibadah. Beberapa amalan dalan bulan Sya`ban diantaranya; puasa sunnah. tilawah qur`an, qadha puasa, dan memohon ampun kepada Allah SWT (taubat dan istighfar).

Puasa sunnah bertujuan untuk melatih fisik dan meningkatkan kualitas spiritual agar tidak lemas saat Ramadhan. Tilawah Al-Qur’an untuk memperbaiki bacaan dan menumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur’an.  Qadha puasa untuk menyelesaikan hutang puasa tahun lalu sebelum masuk Ramadhan baru. Dan Taubat & Istighfar bertujuan untuk membersihkan noda hati agar siap menerima cahaya Ramadhan.

Demikian keutmaan bulan Syakban, untuk itu, mari kita jadikan Syakban sebagai momentum untuk berbenah, karena siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram di bulan Syakban, bagaimana mungkin ia akan memanen di bulan Ramadhan?

 

 

Tinggalkan Balasan

Search