Di saat banyak anak muda usia 19 tahun sedang berjuang mengejar jalur pendidikan seperti SNBP dan SNBT, muncul sebuah fenomena viral di media sosial: seorang konten kreator yang memilih menikah di usia muda. Keputusan tersebut disebut sebagai langkah matang dan “anti-mainstream”. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah ini bisa menjadi inspirasi, atau justru membawa pesan yang berbahaya?
Sorotan tidak berhenti pada keputusan menikah muda. Pasangannya turut memicu kontroversi setelah menyampaikan narasi bahwa kuliah adalah “scam” atau penipuan, kecuali untuk jurusan tertentu yang bersifat spesialisasi. Pernyataan ini memicu perdebatan luas di masyarakat. Banyak pihak khawatir bahwa narasi seperti ini dapat memengaruhi pola pikir anak muda, membuat mereka meremehkan pentingnya pendidikan tinggi, bahkan malas berpikir kritis demi mengikuti tren konten romantisasi kehidupan.
Padahal, jika melihat data, pendidikan tinggi masih memiliki peran penting. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, tingkat pengangguran terbuka cenderung lebih rendah pada lulusan perguruan tinggi dibandingkan lulusan pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, lulusan dengan pendidikan lebih tinggi umumnya memiliki peluang penghasilan yang lebih besar dalam jangka panjang.
Tidak hanya itu, laporan dari World Bank juga menunjukkan bahwa setiap tambahan tahun pendidikan dapat meningkatkan potensi pendapatan seseorang secara signifikan. Artinya, pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan investasi jangka panjang.
Di sisi lain, fenomena pernikahan usia muda juga bukan tanpa risiko. Data dari UNICEF menyebutkan bahwa pernikahan usia dini berpotensi meningkatkan risiko ketidakstabilan ekonomi, terhentinya pendidikan, serta tantangan dalam kesehatan dan pengasuhan anak.
Padahal, menikah memang merupakan bagian dari ibadah. Namun, pernikahan tidak seharusnya dijadikan jalan pintas hanya untuk menghindari zina atau karena ketakutan terhadap proses pendidikan. Dalam ajaran agama sendiri, manusia justru didorong untuk menggunakan akal, merenung, serta merencanakan masa depan dengan matang.
Rumah tangga bukanlah perjalanan singkat, melainkan tanggung jawab jangka panjang. Tanpa kesiapan mental dan ekonomi yang kuat, tujuan membangun “generasi emas” justru bisa berbalik menjadi “generasi cemas”. Kedewasaan tidak datang secara instan, dan tidak bisa dibeli hanya dengan keputusan cepat.
Pendidikan pun tidak semata-mata tentang mencari pekerjaan. Lebih dari itu, pendidikan berperan penting dalam membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam hidup.
Pada akhirnya, menikah muda memang merupakan hak setiap individu. Namun, masa depan tetap membutuhkan ilmu, kesiapan, dan perencanaan yang matang. Karena keputusan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan di masa yang akan datang. (*)
