Membersihkan Diri di Dunia, Tidak Menunggu di Akhirat

www.majelistabligh.id -

Saudaraku seiman rahimakumullah, ketahuilah bahwa tubuh atau badan kita ini adalah milik Allah Azza Wa Jalla, yang dititipkan kepada kita.

Dahulu, tatkala pemilik-Nya menitipkan tubuh ini ke kita, Dia titipkan dalam keadaan bersih dan suci, dan suatu saat nanti pasti pemilik-Nya akan mengambilnya kembali.

Dia mewajibkan untuk dikembalikan dalam keadaan bersih. Bukan dalam keadaan kotor.

Jangan terlambat membersihkan jiwa raga di dunia. Daripada harus dibersihkan oleh pemilik-Nya di akhirat kelak dengan bara api neraka.

Berbahagialah yang suka membersihkan dirinya yang selalu menyucikan dirinya.

Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. (QS. Ash-Shams: 9)

Kotoran apa yang harus dibersihkan?

Kesyirikan:
Beribadah dan menghambakan diri kepada selain Allah Azza Wa Jalla, dan beragama tidak dengan agama Allah, yaitu Islam. Hal ini yang wajib dibersihkan dari diri setiap manusia.

Bid’ah:
Mengamalkan tuntunan Agama yang tidak pernah datang dari Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya, dengan mengada-adakan perkara ibadah baru dalam agama.

Maksiat:
Mengikuti hawa nafsu dan syahwat untuk kesenangan dunia dengan melanggar larangan Allah seperti berzina (zina mata, zina hati, pacaran, berbuat riba, minum khomer, korupsi, mencuri, dan lain-lain).

Dengan apa membersihkannya?

Ilmu yang bermanfaat:
Yaitu ilmu yang murni datang dari Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya melalui Alquran dan Sunah.

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf, seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah), dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.(QS. Al-Jumu’ah: 2)

Amal Saleh:
Mengamalkan ilmu dengan istikamah, melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla,

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk, itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.(QS. Hud : 114)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Barang siapa yang menyukai amalannya tidak terputus setelah ia meninggal, maka hendaknya ia menyebarkan ilmu yang bermanfaat.” (At-Tadzkirah 55). Barakallah fiik.(*)

*) Ferry Is Mirza DM, Aktivis Muhammadiyah dan Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Jatim

 

Tinggalkan Balasan

Search