*)Oleh: M Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan
“Jalan-jalan di taman surga” dalam aspek spiritual mencerminkan perjalanan seseorang menuju kebijaksanaan, ketenangan, dan kedekatan dengan Allah. Ini bukan sekadar tentang kebahagiaan semata, tetapi tentang pengalaman mendalam dalam memahami makna hidup dan mencapai ketentraman hati.
“Jalan-jalan di taman surga” menggambarkan kedamaian, keindahan, dan kebahagiaan yang luar biasa. Dalam konteks spiritual, ini sering dikaitkan dengan ilmu dan kebaikan seperti menghadiri majelis ilmu yang penuh hikmah, atau menjalani kehidupan dengan nilai-nilai yang membawa keberkahan.
Makna Spiritual yang Lebih Dalam:
1. Majelis Ilmu sebagai Taman Surga
Dalam hadis, majelis ilmu sering digambarkan sebagai taman surga karena di sanalah manusia dapat memperoleh hikmah, memperdalam pemahaman tentang agama, dan mendekatkan diri kepada Allah. Hadir dalam majelis ilmu adalah bentuk pencarian kebahagiaan sejati.
Hal ini ditunjukkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat yang mulia Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا
“Jika kalian melewati taman-taman surga, maka nikmatilah/bersenang-senanglah padanya.”
Para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum bertanya: “Ya Rasulullah, apakah itu taman-taman surga?”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
حَلَقُ الذِّكْرِ، فَإِنَّ لِلَّهِ تَعَالىَ سَيَّارَاتٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حَلَقَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوْا بِهِمْ.
“Majelis-majelis yang disebut nama Allah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai para malaikat yang mereka selalu mencari majelis-majelis pengajian di dunia, kalau mereka telah menemukannya, maka para malaikat itu akan melingkupi orang-orang yang hadir di majelis tersebut dengan sayap-sayap mereka.” (Hadits hasan dijelaskan oleh Syaikh Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah)
Ini jelas merupakan keutamaan majelis ilmu yang sangat agung, karena digambarkan sebagai taman-taman surga, berarti ini adalah jalan untuk menuju surga, merupakan gambaran tentang keadaan di surga yang bisa kita rasakan di dunia.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam surah Al-Mujadallah: 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
2. Kesucian Hati dan Kedekatan dengan Allah
Berjalan di taman surga bisa bermakna membersihkan hati dari sifat buruk seperti iri, dengki, dan egoisme. Seseorang yang selalu berusaha memperbaiki diri dan mengisi hatinya dengan keikhlasan serta kepasrahan kepada Allah sedang menikmati taman surga dalam kehidupannya.
Allah berfirman dalam surah Asy-Syam: 9-10
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ
Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ
dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.
Allah berfirman dalan surah Asy-Syu’aro: 88-89
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ
(Yaitu) pada hari ketika tidak berguna (lagi) harta dan anak-anak.
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ
Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Allah berfirman dalam surah Qof: 16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
Allah berfirman dalam surah Al-Baqoroh: 186
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
3. Menjalani Hidup dengan Ikhlas dan Tawakal
Kehidupan yang penuh dengan kesabaran, ketulusan, dan tawakal adalah cerminan seseorang yang sedang “berjalan di taman surga.” Sebab, ia tidak membiarkan kesulitan dunia menghalangi kebahagiaan batinnya, tetapi tetap bersyukur dan percaya akan rencana Allah.
Allah berfirman dalam surah Al-Bayyinah: 5
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).
Allah berfirman dalam surah At-Tholaq: 3
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.
Allah berfirman dalam surah Ali-Imron: 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.
4. Pencarian Hikmah dalam Setiap Peristiwa
Seorang yang menjalani kehidupan dengan penuh renungan dan hikmah akan menemukan ketenangan di setiap langkahnya. Ketika ia melihat dunia dengan kebesaran Allah, setiap peristiwa menjadi pelajaran dan cara mendekatkan diri kepada-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqoroh: 269
يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab.
Allah berfirman dalam surah Al-Baqoroh: 216
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ
Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (*)
