Menapak Pasti di Jalan yang Tak Pasti

*) Oleh : Agus Wahyudi
www.majelistabligh.id -

Di zaman yang bergerak cepat dan tak terduga ini, banyak dari kita merasa seperti sedang berlayar di tengah samudra yang luas tanpa kompas.

Gelombang informasi datang bertubi-tubi. Ekspektasi sosial tak henti menghantui. Pun bayangan kegagalan sering kali lebih kuat daripada harapan akan keberhasilan.

Tanda-tanda zaman seolah semakin buram. Ketika kebenaran dipelintir demi kepentingan, dan nurani tak lagi jadi pedoman.

Manusia berlari mengejar dunia, namun kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk fana. Nilai-nilai luhur memudar dalam gemerlap palsu, sementara suara keadilan tenggelam oleh sorak sorai kekuasaan.

Kita duduk diam, tapi pikiran terus berjalan. Kita tertawa, tapi hati menyimpan tanya. “Apa yang akan terjadi padaku nanti? Apakah aku akan berhasil? Apa yang harus aku lakukan bila semua ini tidak berjalan seperti yang aku rencanakan?”

Kecemasan semacam ini bukanlah hal yang memalukan. Justru, itu adalah pertanda bahwa hati kita hidup dan peduli.

Kita menginginkan hidup yang berarti, ingin memberi makna, ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Tapi justru karena itulah, kita mudah tersesat di antara keinginan dan kenyataan.

Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk merenung. Untuk menengok ke dalam, sebelum melangkah ke luar.

Karena sering kali, arah masa depan tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di luar sana, melainkan oleh ketenangan dan kejernihan yang kita miliki di dalam diri.

***

Al-Qur’an menyadarkan kita bahwa manusia memang diciptakan dengan beban, tetapi tidak pernah dibebani melebihi kemampuannya. Allah SWT. berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini adalah pelukan lembut bagi jiwa yang cemas. Ia mengajarkan bahwa setiap ujian sudah melalui timbangan Tuhan, yang Maha Tahu kekuatan kita.

Bahkan ketika kita sendiri belum menyadarinya. Maka tugas kita bukan menebak-nebak masa depan, tetapi menguatkan diri untuk hari ini.

Setiap pagi yang kita buka dengan doa, setiap keputusan yang diiringi niat baik, dan setiap kelelahan yang kita niatkan untuk ibadah—semuanya adalah jalan-jalan kecil menuju masa depan yang lebih tenang.

Kita tidak perlu tahu seluruh peta hidup ini; cukup tahu bahwa Allah yang memegang kendali.

Kita juga diingatkan dalam surat At-Talāq: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka…” (QS. At-Talāq: 2–3)

Takwa bukanlah konsep yang kaku dan jauh. Ia adalah kesadaran yang hadir dalam pilihan sehari-hari: jujur meski sulit, sabar meski sakit, dan tetap bersyukur meski terasa kurang.

Ketika kita menjaga hubungan dengan Allah, kita sedang menanam benih ketenangan yang kelak tumbuh menjadi keberanian.

Dalam sebuah hadis yang sangat reflektif, Rasulullah saw. bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; pagi hari keluar dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikanlah: burung tidak menyimpan, tidak menunda-nunda, tidak mengeluh. Ia terbang dengan keyakinan bahwa Allah akan mencukupkan.

Tawakal bukan berarti duduk diam, melainkan bergerak dengan keyakinan yang utuh. Inilah kedamaian yang tidak bisa dibeli dunia: damai karena tahu bahwa kita tidak sendiri.

Sering kali, kita hanya perlu jeda. Dalam kesunyian itulah suara hati terdengar. Sujud panjang, zikir perlahan, atau bahkan hanya duduk diam sambil mengatur napas.

Semuanya menjadi bentuk kontemplasi yang menyejukkan. Saat itulah kita kembali tersambung dengan fitrah, kembali pada kesadaran bahwa hidup ini bukan sekadar perlombaan angka dan pencapaian.

***

Syukur bukan hanya tentang menerima, tapi juga cara melihat. Ketika kita fokus pada nikmat yang ada, kita membangun pondasi optimisme.

Al-Qur’an menjanjikan: “Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrāhīm: 7)

Rasa syukur melunakkan kekhawatiran, mengingatkan bahwa kita sudah memiliki banyak hal yang dulunya hanya sebatas doa.

Hadis Nabi mengingatkan: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lingkungan yang positif, teman yang bijak, dan percakapan yang membangun sangat penting dalam menjaga semangat.

Kita bukan hanya makhluk logis, tapi juga makhluk sosial. Dan dalam kebersamaan yang baik, kita menemukan kembali arah.

Masa depan adalah misteri. Tetapi iman menjadikannya bukan momok yang menakutkan, melainkan taman kemungkinan.

Dalam setiap malam yang panjang ada fajar yang menanti. Dalam setiap kegundahan ada pintu doa yang bisa diketuk.

Maka, mari hadapi masa depan bukan dengan resah, tapi dengan renungan. Bukan dengan tergesa, tapi dengan takwa.

Bukan dengan keputusasaan, tapi dengan harapan yang bersumber dari Allah Yang Maha Pengasih.

Hidup ini bukan tentang menemukan jalan yang paling mudah, tetapi tentang menemukan makna dalam setiap langkah.

Bahkan ketika jalan itu menanjak. Dan saat kita melangkah bersama Allah, arah akan selalu ditemukan—meski di tengah kabut yang paling pekat sekalipun.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (*)

Tinggalkan Balasan

Search