Suasana penuh khidmat dan kehangatan membalut Dome Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla), Rabu (23/4/2025). Dalam rangkaian Halalbihalal dan Tabligh Akbar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan itu diwarnai peluncuran buku Al-Qur’an dalam Jejak Hidup: Renungan, Hikmah, dan Petunjuk karya Alfain Jalaluddin Ramadlan, guru MTs Muhammadiyah 15 Al Mizan Lamongan.
Alfain, yang dikenal sebagai pengajar di Pondok Pesantren Al-Mizan Muhammadiyah Lamongan sekaligus mahasiswa pascasarjana UM Surabaya, menghadirkan karya yang tidak sekadar berbicara tentang Al-Qur’an, tetapi mengajak pembaca untuk mengalaminya secara personal dan reflektif.
Buku setebal 266 halaman ini tidak ditulis dalam kerangka tafsir klasik, melainkan sebagai panduan kontemplatif yang mencoba merangkul siapa saja yang ingin mendekat pada pesan-pesan suci Al-Qur’an—dengan bahasa yang hangat, mudah dicerna, namun tetap menyentuh kedalaman makna.
“Buku ini bukan untuk mengajari, tetapi menemani,” ujar Alfain dalam sambutannya.
Ia berharap, pembaca dapat merasakan kehadiran Al-Qur’an sebagai sahabat dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks dan cepat berubah.
Tak hanya hadir sebagai karya pribadi, buku ini mendapatkan sambutan hangat dari tokoh nasional. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Syafiq A. Mughni, MA, turut memberikan testimoni.
Dalam testimoninya, dia menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber nilai dan inspirasi yang tidak pernah habis digali.
“Buku ini menggambarkan upaya menggali inspirasi yang mencerahkan. Ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini penting dibaca oleh siapa pun yang ingin hidup dalam bimbingan kitab suci yang universal dan abadi,” tutur Prof Syafiq, putra daerah asli Paciran, Lamongan.
Selain itu, prolog buku ini ditulis oleh Ahmad Fatoni Lc MAg, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, yang juga memberikan dukungan moral atas hadirnya karya yang menyentuh sisi batin ini.
Dengan mengangkat tema-tema kehidupan sehari-hari, setiap bab dalam buku ini menjadi ruang perenungan yang mencoba menjawab: bagaimana Al-Qur’an menjadi petunjuk yang relevan di tengah gempuran realitas zaman? Dari persoalan hati, relasi sosial, hingga tantangan spiritual, buku ini hadir sebagai lentera—menerangi, bukan menghakimi.
Melalui buku ini, Alfain mengajak kita semua untuk tidak sekadar membaca Al-Qur’an sebagai ritual, tetapi menjadikannya sebagai napas dalam menjalani kehidupan.
Ia menutup peluncuran bukunya dengan harapan sederhana, “Semoga hikmah-hikmah yang tertuang di dalamnya dapat menyentuh hati, diterima dengan lapang dada, dan membawa perubahan yang positif bagi kita semua,” pungkas pria asli Godog, Laren, Lamongan ini. (*/tim)
