Ramadan bukan sekadar perpindahan jam makan atau rutinitas menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ramadan merupakan momentum tarbiyah ruhiyah yang agung. Oleh karena itu, agar Ramadan memiliki makna yang meresap hingga ke akar, maka rumah tangga harus disulap menjadi madrasah pertama dan utama bagi anggota keluarga.
Menjadikan rumah sebagai madrasah Ramadan itu dimulai dari satu langkah esensial yakni menata niat. Niat merupakan sebuah pondasi dan landasan utama dalam beramal, di mana perbuatan didasarkan pada keinginan tulus karena Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut :
عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka sebelum hilal Ramadan menyapa, tentu niat harus diluruskan bukan sekadar menggugurkan kewajiban semata, melainkan niat untuk beribadah secara totalitas karena Allah SWT, menjadikan ramadan tahun ini lebih baik dan mendidik diri serta keluarga dalam ketaatan.
Menjadikan rumah sebagai madrasah Ramadan berarti orang tua menjadi guru utama, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارً
Yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..
Ayat ini menegaskan tanggung jawab kepala keluarga untuk menciptakan lingkungan yang kental dengan suasana ibadah. Madrasah rumah ini mendidik anak-anak dan tentu orang tua itu sendiri tentang sabar dalam berpuasa, kedisiplinan melaksanakan shalat tarawih berjamaah, keutamaan bersedekah serta indahnya tadarus Al-Qur’an.
Bagaimana memulainya? Pertama, luruskan niat hati dari segala bentuk riya’. Kedua, menjadikan suasana rumah dengan aktivitas ibadah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW.
صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ وَلَا تَجْعَلُوْهَا عَلَيْكُمْ قُبُوْرًا
Artinya: jadikanlah shalat-shalat kalian di rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikan rumah sebagai kuburan (HR. Bukhari dan Muslim).
Rumah yang hidup dengan tadarus Al-Qur’an, sahur dan buka bersama serta diskusi ringan tentang keislaman, akan dapat membentuk memori indah anak tentang keberkahan Ramadan.
Menata niat di rumah sebagai madrasah berarti menghadirkan keteladanan. Orang tua yang berpuasa dengan ikhlas dan tetap berakhlak mulia yakni menahan amarah, menjaga lisan tentu akan menjadi contoh hidup bagi anak-anak.
Oleh karena itu, mari kita jadikan rumah bukan sekadar tempat untuk kembali, melainkan tempat bernaung untuk menempa diri, menjadikan Ramadan tahun ini lebih bermakna, penuh berkah dan mencetak generasi Qur’ani biidznilah. (*)
